Yasin Tiga Kali Amalan Nishfu-Sya’ban, Benarkah ?

Spread the love

Amalan pada malam Nisfu-Sya’ban adalah membaca surat yasin , demikian keyakinan sebagian orang, dan untuk melandasi keyakinannya, sebagian orang mengutip perkataan Al-Muhaddits Abu ‘Abdillah Muhammad bin Darwisy bin Muhammad Al-Hut (Wafat. 1276. H) , sebagai dalil, beliau berkata:

وأما قراءة سورة يس ليلتها بعد المغرب والدعاء المشهور فمن ترتيب بعض أهل الصلاح من عند نفسه قيل هو البوني ولا بأس بمثل ذلك

 “Dan adapun membaca surat Yasin pada malamnya (Nisfu Sya’ban) setelah Maghrib dan (membaca) doa yang telah Masyhur, maka itu berasal dari tertib (yang dibuat) sebagian orang saleh dari dirinya sendiri, Qiila (ada yang mengatakan) beliau adalah Al-Buny dan tidak ada kejelekan dengan yang seperti demikian”. (Asnal-Mathalib Fii Ahadits Mukhtalifatil-Maratib 3/343)

Mereka juga mengutip sebuah ucapan dari kitab Fathul-Majid- Linaf’il ‘Abiid, atau yang lebih populer dengan sebutan Al-Mujarrabat di tanah air, penulisnya adalah Al-Dairabiy,[1] beliau berkata :

ومن خواصها كما قال بعضهم أن تقرأها ليلة النصف من شعبان ثلاث مرات الأولى بنية طول العمر الثاني رفع البلاء الثالثة بينة الإستغناء عن الناس ثم تدعويهذا الدعاء عشر مرات يحصل المراد إن شاء الله . إنتهى

“Dan di antara keistimewaannya (surat Yasin) seperti yang telah disebutkan oleh sebagian mereka, Engkau membacanya pada malam pertengahan bulan Sya’ban tiga kali, pertama dengan niat panjang usia, kedua (dengan niat) mengangkat bencana, ketiga dengan niat agar tercukupi dari (bergantung) kepada manusia, kemudian engkau berdoa dengan doa ini sepuluh kali, yang diinginkan akan tercapai Insyallah.” Kemudian penulis Al-Mujarrabat mencantumkan doa yang dimaksudkannya. (Hal. 13.)

Tatacara amalan tertentu seperti yang disebutkan dalam kedua nukilan di atas tidak berdasar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak pernah disebutkan dalam satu hadits pun keutamaan tertentu membaca surat yasin pada malam Nishfu-Sya’ban.

Memang diakui, Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah menceritakan ada sebagian dari tokoh ulama Tabi’in yang mengisi malam Nisfu-Sya’ban dengan ibadah mendekatkan diri kepada Allah dengan sungguh-sungguh. Ibnu Rajab Rahimahullah berkata:

 كان التابعون من أهل الشام كخالد بن معدان ومكحول و لقمان بن عامر و غيرهم يعظمونها و يجتهدون فيها في العبادة و عنهم أخذ الناس فضلها و تعظيمها

“Generasi Tabi’in dari negeri Syam seperti Khalid bin Ma’dan dan Makhul, dan Luqman bin ‘Amir dan yang lainnya, mereka mengagungkannya (malam Nisfu Sya’ban) dan mereka bersungguh-sungguh beribadah pada malamnya, dan dari merekalah orang-orang (kemudian) mengambil keutamaannya dan (cara) mengagungkannya)” (Latha’iful Ma’arif 1/151.)

Akan tetapi menyandarkan amalan membaca surat yasin tiga kali dengan tatacara dan keutamaan tertentu pada malam tersebut kepada mereka – yakni generasi Tabi’in tersebut – tentu membutuhkan Sanad yang jelas, jika tidak maka tertolak, terlebih Syaikh Muhammad bin Al-Hut menerangkan dengan jelas bahwa amalan tersebut murni dari amalan pribadi seorang yang saleh dan konon disebut Al-Buniy. Maka hal ini kian memperkuat bahwa mengkhususkan amalan membaca surat Yasin tiga kali pada malam Nishfu-Sya’ban bukan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Bahkan sebelumnya, mengagungkan malam Nisfu-Sya’ban sendiri telah dianggap Bid’ah oleh para ulama tersohor , Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata :

و أنكر ذلك أكثر علماء الحجاز منهم عطاء و ابن أبي مليكة و نقله عبد الرحمن بن زيد بن أسلم عن فقهاء أهل المدينة و هو قول أصحاب مالك و غيرهم و قالوا : ذلك كله بدعة

“Dan (kegiatan pengagungan malam Nishfu’-Sya’ban) telah diingkari kebanyakan Ulama Hijaz, di antaranya ‘Atha, dan Ibnu Abi Mulaikah. dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam telah menukilnya dari para Ahli Fiqh negeri Madinah, dan dia adalah pendapat Ash-hab (murid-murid) Imam Malik dan yang lainnya, dan mereka berkata : “itu semuanya Bid’ah”. (Latah’iful Ma’arif 1/151 )

Maka tidak mengherankan bila Imam Annawaiy rahimahullah kemudian dengan tegas mengatakan Bid’ah atas shalat malam Nisfu-Sya’ban, beliau berkata:

 الصلاة المعروفة بصلاة الرغائب وهي ثنتى عشرة ركعة تصلي بين المغرب والعشاء ليلة أول جمعة في رجب وصلاة ليلة نصف شعبان مائة ركعة وهاتان الصلاتان بدعتان ومنكران قبيحتان ولا يغتر بذكرهما في كتاب قوت القلوب واحياء علوم الدين ولا بالحديث المذكور فيهما فان كل ذلك باطل

“Shalat yang dikenal dengan Shalat Ar-Ragha’ib –sebanyak dua belas Raka’at yang dilaksanakan di antara Maghrib dan Isya’ pada malam jumat pertama di bulan rajab, dan shalat malam Nishfu-Sya’ban sebanyak seratus Raka’at, Kedua shalat ini adalah Bid’ah dan merupakan kemungkaran yang buruk, dan janganlah seorang menjadi tertipu daya dengan penyebutan kedua shalat itu dalam kitab Qutul-Qulub dan Ihya’ Ulumuddin, dan jangan ia tertipu daya dengan hadits yang menyebutkan tentang keduanya karena semua itu batil”. [Al-Majmu’ Syarhul Muhadzzab 3/379 Cet. Dar Ehiya Al-Tourath Al-Arabi 1422 H – 2001 M]

Apabila amalan shalat dengan pola tertentu saja disebut Bid’ah pada malam tersebut, maka amalan selainnya pun lebih layak untuk disebut Bid’ah, karena tidak didasari oleh dalil dan tuntunan. (lihat bahasan kami sebelumnya tentang hukum shalat malam Nisfu-Sya’ban, Klik)

Wallahu A’lam.

Bekasi 09 Sya’ban 1439 H.

Musa Abu ‘Affaf. BA.


[1] Penulis kitab Al-Mujarrabat, yaitu Addairabiy telah disebutkan biografinya oleh Azzarkasyi rahimahullah dalam Al-A’lam (1/188) beliau berkata :

“Beliau (Addairabiy) adalah Ahmad bin Umar Ad-Dairabiy Abul ‘Abbas : Fadlilu Mishra (orang yang utama di Mesir) dia memiliki beberapa percobaan dalam pertabiban (pengobatan) dia pernah belajar di Al-Azhar, di antara kitabnya adalah Fathul-Majid- Linaf’il ‘Abiid, di dalamnya dia mengumpulkan apa-apa yang telah dicobanya dari faedah-faedah pengobatan dan urusan-urusan roh”. Wafat tahun 1151 H. / 1738 M.