Perkataan, “Yang Penting Baik,” Cukupkah Untuk ke Surga?

Teduh.Or.Id – Surga adalah kerinduan setiap insan, harapan menjadi salah seorang yang kelak akan menjadi penghuninya telah terpaut lama dan jauh dalam diri setiap insan, dan Itu beriring dengan rasa takut dan kengerian setiap manusia terhadap satu makhluk bernama Neraka.

Kebaikan adalah fitrah manusia, sebagaimana juga halnya keburukan adalah sisi lain mereka. semua orang bisa merasa iba, mengasihani, memberi dan merasa tersentuh dan semua itu tanpa perlu melibatkan jenis keyakinan dan Agama seseorang.

Artinya – menurut pandangan mereka yang menyamakan semua Agama – tidak perlu beragama dan meyakini Tauhid sebab tanpa Agama dan Tauhid semua orang sudah bisa dan tau cara berbuat baik.

Sebab menurut mereka berbuat baik adalah kunci surga walau pun Anda tidak beriman. Sangkaan ini sebenarnya telah menghancurkan Islam, dan secara tidak langsung telah mencampakkan nilai nilai Al-Qur’an, arti kenabian, dan bahkan menghancurkan semua kepercayaan Agama yang ada. Sehingga Anda tidak perlu menjadi Nasrani, atau yahudi, atau Hindu, atau Budha sekali pun jika ingin masuk surga, Agama Anda hanya formalitas belaka, sebab Anda telah berkeyakinan kunci surga adalah berbuat baik walau tanpa Iman yang benar.

Namun, semua itu salah. Semua anggapan itu jauh dari kebenaran, dan nampaknya Pak Iblis dan setan setan sudah terlalu jauh menyesatkan dan membisikkan kesesatan kepada siapa saja yang meyakini hal tersebut. karenanya, mari kita renungi penjelasan dalam tanya jawab berikut ini :

Kalau seorang non muslim menjalani hidupnya jauh dari maksiat dan dosa besar, selalu menjalankan kebajikan sebatas yang dia mampu, iapun hidup dengan baik meski di luar agama Islam, apakah ia bisa masuk Surga dengan amal kebajikan yang dia lakukan, sementara ia tidak menerima tauhid kepada Allah (secara sadar atau karena tidak tahu)? Atau ia akan masuk Neraka dan tidak akan selamat? Tolong dijelaskan.

Al-Hamdulillah. Sesungguhnya apabila seseorang meninggal di luar Islam, tidak akan mungkin masuk Surga berdasarkan firman Allah:

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya jannah, dan tempatnya ialah Neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun.” (QS: Al-Maa-idah : 72)

Semua amal kebajikan yang dilakukannya ketika ia masih kafir, tidak akan berguna di akhirat sedikitpun, dan tempat kembalinya adalah Neraka. Dasarnya adalah firman Allah:

“Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (Agama itu) daripadanya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi..” (QS: Ali Imraan : 85)

Demikian juga firman Allah:

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

” Dan Kami hadapkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS: Al-Furqaan : 23)

Allah Juga berfirman:

” Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mendustakan akan menemui akhirat, sia-sialah perbuatan mereka. Mereka tidak diberi balasan selain dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS: Al-A’raaf : 147)

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Ummul Mukminin Aisyah -Radhiallahu ‘anha- pernah bertanya persis dengan yang ditanyakan oleh penanya di atas: “Wahai Rasulullah! Ibnu Juz’an dahulu di masa jahiliyyah selalu menjaga hubungan silaturrahmi dan memberi makan fakir miskin. Apakah itu berguna baginya di akhirat?” Beliau menjawab: “Tidak akan berguna baginya. Karena ia tidak pernah mengucapkan: “Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku di Hari Pembalasan nanti.” (HR. Imam Muslim dalam Shahih-nya 214)

Adapun apabila orang kafir itu belum mendengar tentang Islam dan belum sampai dakwah kepadanya, maka – Wallahu A’lam – Allah akan mengujinya di Hari Kiamat nanti. [diambil dengan sedikit perbaikan dari laman ini]

Penjelasan dalam fatwa di atas sudah sangat jelas mengungkap, bahwa orang yang mati dalam keadaan kafir tidak akan masuk surga, walau pun saat didunia dia adalah seorang yang dermawan dan berbuat baik, sebab kunci menuju surga yang paling utama adalah Iman kepada Islam.

Adapun firman Allah dalam surat Al-Baqarah Ayat 62 yang Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Sering kali dijadikan sebagai dalil oleh orang-orang yang menganggap semua agama sama dan menyangka bahwa asas tunggal masuknya seorang ke dalam surga adalah hanya dengan berbuat baik sesama manusia, tanpa melihat Agama dan Keyakinan.

Hal ini sebenarnya adalah satu bentuk menempatkan dalil tidak pada tempatnya, dan sangat nampak dipaksakan, sebab Ayat ini sama sekali tidak menyatakan adanya kesamaan status antara Muslim, Yahudi, Nashrani, dan Shabi’in, sehingga semuanya kelak akan masuk surga. kekeliruan ini dapat dibuktikan dengan kenyataan bahwa Agama Yahudi semenjak telah dihapuskan masa berlakunya oleh Allah adalah kelompok yang menganggap Nashrani sebagai Agama kafir, demikian juga sebaliknya, Nashrani semenjak dihapuskan masa berlakunya oleh Allah dengan diutusnya Nabi Muhammad – Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai penutup semua Nabi dan Agama, menganggap Agama Yahudi Agama Kafir. Maka sangat tidak relevan jika dikatakan kedua kelompok Agama ini adalah sama sementara di satu sisi keduanya saling mengklaim kebenaran.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah telah mengupas makna Ayat ini dengan teliti dan jitu, beliau berkata:

فعلم أنها لم تمدح واحدا منهما بعد النسخ والتبديل وإنما معنى الآية أن المؤمنين بمحمد والذين هادوا الذين اتبعوا موسى عليه السلام وهم الذين كانوا على شرعه قبل النسخ والتبديل والنصارى الذين اتبعوا المسيح عليه السلام وهم الذين كانوا على شريعته قبل النسخ والتبديل  والصابئين وهم الصابئون الحنفاء كالذين كانوا من العرب وغيرهم على دين إبراهيم وإسماعيل وإسحاق قبل التبديل والنسخ

“Maka diketahui, sesungguhnya Ayat ini tidak sedang menyanjung (mendukung) salah satu dari keduanya (Yahudi dan Nashrani) setelah (terjadinya) penghapusan dan pengubahan, dan yang dimaksud sebenarnya dalam Ayat ini adalah; sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Muhammad – Shallallahu ‘Alaihi Wasallam – dan kaum Yahudi yang telah mengikuti Musa ‘Alaihis Salam wal hal mereka berada di atas Syariatnya sebelum terjadinya penghapusan dan pengubahan, dan Nashrani yang mengikuti Al-Masih ‘Alaihis Salam wal hal mereka berada di atas Syariatnya sebelum terjadi penghapusan dan pengubahan, dan Ash-Shabi’in, yaitu Shabi’un yang Hanif (tidak Syirik) seperti sebagian orang-orang Arab dan lainnya yang berada di atas Agama Ibrahim dan Ismai’il dan Ishaq sebelum terjadinya penghapusan dan pengubahan.” [Al-Jawabush Shahih Liman Baddala Dienal Masih/ 3 /122/ Cet. Darul ‘Ashimah]

Beliau juga berkata; “Bahwa Ahli kitab setelah Agama mereka dihapuskan dan terjadi pengubahan bukanlah orang-orang yang beriman kepada Allah, dan tidak juga beriman kepada hari Akhir, dan tidak juga beramal saleh”. [Al-Jawabush Shahih Liman Baddala Dienal Masih/ 3 /124/ Cet. Darul ‘Ashimah]

Yahudi, Nasrani, dan Shabi’un yang masih ada saat ini, atau masih bertahan setelah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bukanlah yang dimaksudkan di dalam Ayat tersebut, sehingga tidak sah menjadikannya sebagai dalil untuk membela persamaan Agama dan sebagai dalih untuk menafikan pentingnya Iman dan Tauhid kepada Allah yang merupakan jalan satu satunya menuju surga.