Witir Tiga, Satu Salam Atau Dua Salam

 

Shalat witir tiga Raka’at dengan satu salam sekaligus, sering diamalkan kaum muslimin, namun sebagian kaum muslimin ada yang mempersoalkan cara tersebut, dan sebagiannya lagi memandang tidak ada masalah dalam hal itu, lalu bagaimana sebenarnya!?

Bismillah, Walhamdulillah

Terdapat riwayat menyebutkan bahwa shalat witir dengan tiga rakaat terlarang, karena menyerupai shalat Maghrib, yaitu:

 عن أبي هريرة عن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : لا توتروا بثلاث وأوتروا بخمس أو سبع ولا تشبهوا بصلاة المغرب

Dari Abu Hurairah Radliyallahu ‘Anhu dari Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam beliau bersabda: “Jangan kalian shalat witir dengan tiga rakaat, dan witirlah dengan lima, atau tujuh, dan jangan kalian menyerupakan shalat Maghrib”. (HR. Addaraquthni, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim)

Muhammad bin Nashr Al-Marwazi (Wafat 294 H.) juga menyebutkan adanya beberapa tokoh dari generasi salaf yang me-Makruhkan witir tiga rakaat,

وقد روي في كراهة الوتر بثلاثة أخبار ، بعضها عن النبي صلى الله عليه وسلم ، وبعضها عن أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم والتابعين

“Dan telah diriwayatkan beberapa Kabar dari hadits tentang Makruhnya witir dengan tiga rakaat, sebagiannya datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan sebagiannya lagi datang dari para shahabat Nabi dan generasi Tabi’in”. (Kitabulwitr 1/69)

Di antara yang beliau sebutkan adalah ‘Aisyah Ummul-mukminin, Ibnu Abbas, Radliyallahu ‘Anhum dan satu riwayat dari Sulaiman bin Yasar, mereka memandang Makruh witir tiga rakaat. (Kitabulwitr 1/69)

Akan tetapi, ternyata shalat witir tiga rakaat dengan satu salam juga disebutkan dalam hadits yang shahih

عن أبى أيوب الأنصارى قال قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-  الوتر حق على كل مسلم فمن أحب أن يوتر بخمس فليفعل ومن أحب أن يوتر بثلاث فليفعل ومن أحب أن يوتر بواحدة فليفعل

Dari Ayyub Al-Anshari Radiyallahu ‘Anhu beliau berkata: Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam – pernah bersabda: “Shalat Witir adalah Haq atas setiap muslim, siapa saja yang ingin melakukan witir dengan lima, maka lakukanlah, dan siapa saja yang suka melakukan witir dengan tiga rakaat maka lakukanlah, dan siapa saja yang ingin melakukan witir dengan satu rakat maka lakukanlah.” (HR: Abu Dawud dan lainnya)

Lalu bagaimana cara ulama menggabungkan kedua hadits tersebut agar dinamis dan tidak bertolak belakang, ?

Al-Amir Ash-Shan’ani rahimahullah berkata:

وقد جمع بينهما بأن النهي عن الثلاثة إذا كان يقعد للتشهد الأوسط لأنه يشبه المغرب، وأما إذا لم يقعد إلا في آخرها فلا يشبه المغرب، وهو جمع حسن قد أيده حديث عائشة عند أحمد، والنسائي، والبيهقي، والحاكم: “كان صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم يوتر بثلاث لا يجلس إلا في آخرتهن”. ولفظ أحمد: “كان يوتر بثلاث لا يفصل بينهن”. ولفظ الحاكم: “لا يقعد”.

“Kedua hadits ini telah digabungkan antara keduanya dengan (membawa makna) larangan berwitir dengan tiga apabila seorang duduk untuk Tasyahhud pada rakaat yang tengah karena itu menyerupai shalat Maghrib, dan adapun bila tidak duduk (Tasyahhud) kecuali pada rakaat terakhirnya maka tidak menyerupai Maghrib, ini adalah bentuk penggabungan yang baik yang telah diperkuat oleh Hadits ‘Aisyah –Radliyallahu ‘Anha – dalam Musnad Ahmad, dan Annasa’i, dan Al-Baihaqi, dan Al-Hakim, (yaitu) : Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mendirikan witir dengan tiga rakaat tanpa duduk kecuali di akhirnya”, dan lafaz hadits riwayat Ahmad menyebutkan: “Beliau witir dengan tiga tanpa dipisah antara rakaatnya (dengan salam)”. Dan lafaz hadits riwayat Al-Hakim berbunyi : “Beliau tidak duduk”. (Subulussalam 2/7)

Dan sebelumnya, ini adalah arahan dari Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah:

  والجمع بين هذا وبين ما تقدم من النهي عن التشبه بصلاة المغرب أن يحمل النهي على صلاة الثلاث بتشهدين وقد فعله السلف أيضا

“Dan menggabungkan antara riwayat ini dengan riwayat hadits yang telah lalu yang melarang menyerupakan witir dengan shalat Maghrib dengan membawa makna larangan tersebut ke atas shalat witir tiga rakaat dengan dua kali Tasyahhud, dan Salaf juga pernah ada yang melakukannya (witir tiga satu salam).” (Fathulbari 2/481)

Syaikh Al-Albani Rahimahullah memandang bahwa witir tiga rakaat dengan dua kali salam lebih Afdlal, beliau menilai hadits di atas kuat secara hukum periwayatan maupun makna, beliau berkata:

لكن لما كان النبي صلى الله عليه وسلم قد نهى عن الإيتار بثلاث وعلل ذلك بقوله “ولا تشبهوا بصلاة المغرب ” فحينئذ لا بد لمن صلى الوتر ثلاثا من الخروج عن هذه المشابهة وذلك يكون بوجهين : التسليم بين الشفع والوتر وهو الأقوى والأفضل.

“Akan tetapi manakala Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah melarang witir dengan tiga rakaat, dan hal itu di-‘Ilal-kan (sebab pelarangan) dengan sabda beliau: “Jangan memperserupakan witir dengan shalat Maghrib”, maka ketika itu tidak boleh tidak bagi seorang yang shalat witir agar keluar dari penyerupaan ini, itu bisa dilakukan dengan dua cara: melakukan salam di antara rakaat yang genap dan ganjil, dan inilah yang paling kuat, dan lebih Afdlal.” (Qiyamu Ramadlan 1/30)

Dan dengan pendapat Syaikh Al-Albani Rahimahullah inilah penulis mengikuti, shalat witir tiga raka’at namun dengan dua kali salam, Wallahu A’lam.

Musa Abu ‘Affaf, BA. Waffaqahullah

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.