Wisata Keluarga Paling Istimewa

Teduh.Or.Id – Akhir pekan, adalah saat menyenangkan. Waktu dimana para ayah melepas penat dari pekerjaan sehari-hari yang menyita kesibukan luar biasa, pergi tak tampak matahari, dan pulang pun matahari sudah kembali ke peraduannya. Pekerjaan mengharuskan adanya kesibukan, menghendaki adanya rutinitas tanpa jeda, sehingga kebersamaan dengan keluarga kerapkali terlupakan. Para ibu juga demikian, dititipi amanah luar biasa oleh para suaminya untuk menjaga, membimbing, merawat, dan mengasuh buah hati dari pernikahan yang telah terikat sehidup semati. Kesehariannya mungkin lelah, payah, bahkan dirundung susah. Namun para ibu tentu berharap apa yang dilakukannya terhitung ibadah dan bisa menjadi buah manis saat di hadapan Allah.

Jika demikian, maka akhir pekan adalah saat yang dinantikan, masa kini sering disebut dengan quality time. Dimana kebersamaan dengan keluarga adalah prioritas. Banyak hal bisa dilakukan demi mengikat keakraban dan kehangatan antara anak dan orangtua, juga keharmonisan antara ayah dengan ibu. Membersihkan rumah bersama, mencari tempat makan yang enak dan halal, menikmati ramainya pusat belanja, mengunjungi atau silaturahmi ke para sanak family, berwisata ke tempat rekreasi, serta satu hal yang nampaknya perlu pula dicoba yakni menghadiri majelis ilmu atau tempat-tempat pengajian bersama keluarga.

Mengapa majelis ilmu? Hal ini tak lain karena dengan menghadiri majelis ilmu mampu menghadirkan sebuah ketenangan tersendiri, didalamnya terlihat banyak pancaran energi positif, didalamnya pula terkandung lautan wawasan yang membuat seorang datang dalam keadaan hampa menjadi keluar dengan keadaan bernyawa. Bagi para perindunya, majelis ilmu merupakan sebuah rihlah jiwa, tempat rekreasi bagi hati, dan sebuah sarana tamasya untuk memahami nilai investasi yang tak pernah habis.

Benarlah sebuah hadits yang menyebutkan bahwasanya, “Barangsiapa yang menapaki suatu jalan dalam rangka mencari ilmu syar’i maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke Surga” (HR. Ibnu Majah dan Abu Dawud, dishahihkan oleh Asy Syaikh Albani). Belumlah sampai kita kedalam surga yang dinanti, belumlah pula tapakan kaki kita jauh melampaui para pencari ilmu yang lebih gigih. Namun sungguh sebuah keindahan bila kita mengamati lebih jauh lagi dalam sebuah majelis ilmu.

Majelis ilmu merupakan sebuah sarana wisata keluarga tanpa biaya namun penuh daya guna. Seorang abah (bapak) bersama anaknya menyimak lebih dalam sebuah paparan dan penjelasan dari sang da’i, diujung sana terlihat seorang ummahat khusyuk mengajak anak wanitanya yang dalam gendongan untuk tenang. Sebuah ketentraman jiwa bagi siapapun yang melihatnya, dikala sang anak meminta minum, maka si abah dengan tas ransel besarnya berisi baju salinan untuk si bayi yang bersama umminya secara sabar membukakan bungkusan biskuit serta segelas air mineral yang dibeli sebelum berangkat wisata. Seorang ibu sedang mengocok air susu dalam botol untuk disuguhkan ke bibir sang bayi.

Sungguh sebuah pemandangan yang indah, pemandangan yang penuh ketenangan dibandingkan sekeluarga justru lebih suka ikut pawai demonstrasi. Pawai yang ketika pergi dengan biaya sendiri, sampai di lokasi hanya berdiri di bawah terik matahari, dan pulangnya tak dapat apapun melainkan rasa lelah tak terperi. Itulah mengapa majelis ilmu selalu ramai dengan keluarga-keluarga baru. Sebab dikala sang anak lelah dan terasa mengantuk, maka sang ayah pun melipat kakiknya agar si anak bisa tertidur di paha ayahnya. Disaat si anak bermain dengan anak lainnya, dan suasana mulai gaduh, maka sang ayah mencari apakah sang anak ada di kerumunan gaduh itu. Lantas ayah menariknya dan di dudukkan kembali dengan tenang untuk kembali menyimak.

Sebuah bentuk nilai estetika yang tidak dapat dilukiskan diatas kanvas secara abstraksi maupun realisme alirannya. Itu adalah sebuah ketenangan jiwa dan sebuah ketentraman. Terkadang repot memang menghingapi, namun untuk berburu warisan yang nilai jualnya tak terhingga, siapapun rela untuk mengejarnya. Bagaimana jika kiranya dikatakan, diujung sana ada harta terpendam bernilai jutaan rupiah. Tentulah semua orang berhambur untuk mengejarnya. Karena apa? Karena seseorang melihat bentuknya secara nyata, namun apabila telah diraih, tak jarang harta itu habis tak tersisa tanpa bekas. Namun ilmu tidak, tak ada kata habis, karena itu adalah harta warisan termahal. Itulah mengapa Rasulullah menegaskan, “Ilmu adalah warisan para Nabi, para Nabi tidaklah mewariskan dinar ataupun dirham, akan tetapi mewariskan ilmu, barangsiapa yang mengambilnya maka telah mengambil bagian yang banyak”. Ditambahkan lagi oleh sebuah nasehat emas dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, “Ilmu itu lebih baik daripada harta, karena ilmu akan menjagamu sementara harta harus engkau jaga. Ilmu akan terus bertambah dan berkembang dengan diamalkan sementara harta akan terkurangi dengan penggunaan. Dan mencintai seorang yang berilmu adalah agama yang dipegangi. Ilmu akan membawa pemiliknya untuk berbuat taat selama hidupnya dan akan meninggalkan nama yang harum setelah matinya. Sementara orang yang memiliki harta akan hilang seiring dengan hilangnya harta. Pengumpul harta itu seakan telah mati padahal sebenarnya dia masih hidup. Sementara orang yang berilmu akan tetap hidup sepanjang masa. Jasad-jasad mereka telah tiada, namun mereka tetap ada di hati manusia.” (dinukil dari Min Washaya As-Salaf, hal. 13-14).

Maka untukmu para ayah dan ibu, hendaklah menjadikan sebuah sarana wisata baru mereka ialah dengan duduk di majelis ilmu, bukan berhamburan menuju tempat penuh kemaksiatan sehingga tersajilah pemandangan bagi keluarga sesuatu yang diharamkan. Menuju majelis ilmu adalah sebuah tempat yang senantiasa penuh dengan pilihan jitu, repot sedikit tapi menghasilkan manfaat banyak. Bersabarlah, semangatlah, dan beristiqomahlah. Semoga Allah membalas semua langkah kaki kita yang ditujukan untuk mengambil warisan para Nabi itu, wallahu ‘alam bi shawwab..

Ditulis ulang di Losmen Rizki, Gg 2. Jl. Sosrowijayan. Yogyakarta. Pada 21/2/2015.

 Gambar dari:

http://www.outboundindonesia.com/wp-content/uploads/2013/09/Rekreasi_Sengkaling_2.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.