Wabah Bukan Penentu Ajalmu

Lari dan menghindar dari kematian memang sudah tabiat manusia, meskipun mereka sebenarnya mengerti betul, dan bahkan mereka sangat menyadari tidak ada yang bisa selamat dari kematian

Tabiat ini kadang membuat seorang lupa dengan garis takdir yang telah ditentukan Allah untuk dirinya, lalu ia menjadi berpaling dan begitu bergantung kepada sebab-sebab yang secara teori medis dapat menyelamatkan dirinya dari mati atau setidaknya tidak mati untuk saat ini karena wabah.

Ingatlah firman Allah ‘Azza Wajalla ;


۞ اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ خَرَجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ وَهُمْ اُلُوْفٌ حَذَرَ الْمَوْتِۖ  فَقَالَ لَهُمُ اللّٰهُ مُوْتُوْا ۗ ثُمَّ اَحْيَاهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَذُوْ فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُوْنَ


“Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halamannya, sedang jumlahnya ribuan karena takut mati? Lalu Allah berfirman kepada mereka, “Matilah kamu!” Kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah memberikan karunia kepada manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (Q.S Al-Baqarah :243)

Imam Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan bahwa sejumlah ribuan orang tersebut adalah orang-orang yang lari dari wabah Tha’un :

أصح هذه الأقوال وأبينها وأشهرها أنهم خرجوا فرارا من الوباء، رواه سعيد بن جبير عن ابن عباس قال: خرجوا فرارا من الطاعون فماتوا، فدعا الله نبى من الأنبياء أن يحييهم حتى يعبدوه فأحياهم الله

“Tafsir yang paling sahih, yang paling jelas, dan paling masyhur dari beberapa pendapat yang ada bahwa mereka keluar berlari dari wabah, tafsir ini telah diriwayatkan oleh sa’id bin jubair dari Ibnu ‘Abbas – radliyallahu ‘anhuma – beliau berkata; “Mereka telah keluar kabur dari Tha’un maka mereka pun mati, maka berdoalah seorang nabi kepada Allah agar Allah menghidupkan mereka kembali agar mereka menyembah kepada-Nya, maka Allah pun menghidupkan mereka.” (Tafsir Al-Qurtubiy (4/211) cet. Muassasah Arrisalah/ Tahqiq Abdullah Atturky).

Imam Ibnu Katsir – Rahimahullah – berkata;

وفي هذه القصة عبرة ودليل على أنه لن يغني حذر من قدر وأنه، لا ملجأ من الله إلا إليه، فإن هؤلاء فروا من الوباء طلبًا لطول الحياة فعوملوا بنقيض قصدهم وجاءهم الموت سريعًا في آن واحد.

“Dan di dalam kisah ini ada ibrah dan dalil bahwa sungguh kewaspadaan (atau rasa takut) tidak akan lepas dari takdir, dan sungguh tidak ada tempat kembali selain kepada Allah, mereka kabur dari wabah mencari hidup yang panjang maka Allah perlakukan mereka dengan kebalikan dari maksud tujuan mereka, dan datanglah kematian kepada mereka dengan cepat hanya dalam satu waktu saja.” (Tafsir Ibnu Katsir 1/661)

Allah ‘Azza Wajalla juga berfirman ;


قُلْ لَّنْ يَّنْفَعَكُمُ الْفِرَارُ اِنْ فَرَرْتُمْ مِّنَ الْمَوْتِ اَوِ الْقَتْلِ وَاِذًا لَّا تُمَتَّعُوْنَ اِلَّا قَلِيْلًا


“Katakanlah (Wahai Nabi Muhammad), “Lari tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika demikian (kamu terhindar dari kematian) kamu hanya akan mengecap kesenangan sebentar saja” (Q.S Al-Ahzab :16)

Al-‘Allamah Muhammad Al-Amin al-Syinithiy – Rahimahullah – menjelaskan;

ويؤخذ من هذه الآية عدم جواز الفرار من الطاعون إذا وقع بأرض وأنت فيها

“Dan dari Ayat ini diambil (suatu hukum) tidak boleh lari dari wabah al-Tha’un apabila telah terjadi di suatu tempat dan kamu telah berada di dalamnya.” (Tafsir Adlwa’ul Bayan ; 1/153)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata;

وإذا وقع بأرض وأنتم بها فلا تخرجوا فرارا منه

“Dan apabila tha’un terjadi di suatu tempat dan kalian tengah berada di sana maka kalian jangan keluar berlari darinya.” (Muttafaq ‘Alaih)

Dinukil Imam an-Nawawi dan yang lainnya, bahwa Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu pernah bernah berkata;

الطاعون فتنة على المقيم والفار أما الفار فيقول فررت فنجوت وأما المقيم فيقول أقمت فمت وانما فر من لم يأت أجله وأقام من حضر أجله

“Tha’un adalah fitnah atas orang yang menetap dan orang yang lari, adapun orang yang berlari darinya ia berkata ; “aku telah berlari maka aku selamat”, adapun orang yang menetap ia akan berkata; “aku menetap maka aku pun mati”, sesugguhnya yang berlari hanyalah ajalnya belum tiba, dan yang menetap adalah orang yang telah hadir ajalnya.” (Syarh Shahih Muslim 14/428) Cet. Darulmakrifah.

Dari itu hendaknya seorang muslim berserah kepada Allah ‘Azza Wajalla ditengah pandemi covid-19 ini, ajal dan hidup, sehat dan sakit, semua itu ada dalam ketentuan Allah, apa yang telah Allah tetapkan atas dirinya maka tidak akan mungkin melenceng, dan apa yang bukan nasibnya maka ia tak akan mendapatkannya, semua telah tertulis dan pena telah kering.

Semangat berserah diri kepada Allah ‘Azza Wajalla dapat menguatkan jiwa seseorang dari teror covid-19 dan himpitan ekonomi yang menjadi imbasnya, namun tentunya dengan tetap mengindahkan protokol menjaga diri darinya.

Semoga Allah segera mengangkat wabah ini dari ummat islam, dan mengampuni dosa-dosa yang telah kita tumpuk dan pelihara.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى أله وصحبه وسلم

Musa Abu ‘Affaf

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.