Virus MR Haram Menurut MUI, Berobat Dengannya Lain Persoalan

 

Polemik halal-haram Vaksin MR (Measles Rubella) yang selama ini buram mengambang tidak jelas akhirnya menemui babak akhir dengan diumumkannya sebuah fatwa dari badan fatwa terkumuka tanah air.

Masalah yang paling banyak mengundang tanya masyarakat tersebut seperti dalam Rapat Komisi Fatwa yang berlangsung pada Senin (20/08/2018) petang hingga malam hari berhasil dipecahkan.

Fatwa MUI Nomor 33 Tahun 2018 tentang Penggunaan Vaksin MR (Measles Rubella) Produk dari SII (Serum Institut of India) untuk Imunisasi, ditetapkan bahwa berdasarkan ketentuan hukum,

  1. Penggunaan vaksin yang memanfaatkan unsur babi dan turunannya hukumnya haram.

  2. Penggunaan vaksin MR produk dari Serum Institut of India (SII) hukumnya haram karena dalam proses produksinya menggunakan bahan yang berasal dari babi.

  3. Penggunaan vaksin MR produk dari SII pada saat ini dibolehkan (mubah), karena ada kondisi keterpaksaan (dlarurat syar’iyah), belum ditemukan vaksin MR yang halal dan suci, serta ada keterangan ahli yang kompeten dan dapat dipercaya tentang bahaya yang ditimbulkan akibat tidak diimunisasi dan belum adanya vaksin yang halal.

  4. Kebolehan penggunaan vaksin MR sebagaimana dimaksud pada angka 3 tidak berlaku jika ditemukan adanya vaksin yang halal dan suci.[1]

Point ke 1 dan 2 merupakan titik masalah utama, di mana MUI dalam hal ini dengan tegas menghukumi vaksin yang memanfaatkan unsur babi hukumnya haram, sedangkan pada point kedua dijelaskan secara khusus, dengan menyebut nama virus dan pihak yang memproduksinya secara jelas, hal ini semakin memperkuat suatu objek yang difatwakan haram.

Keharaman Vaksin MR menurut MUI ini mengingatkan kita dengan sebuah hadits yang Shahih :

إن الله خلق الداء والدواء، فتداووا، ولا تتداووا بحرام

“Sesungguhnya Allah telah menciptakan penyakit dan obat, maka berobatlah kalian, namun jangan berobat dengan yang haram”[2]

Pun demikian, ternyata pada point 3 dan beberapa ketentuannya MUI memutuskan Mubah berobat dengan Virus MR, dan penting untuk dimaklumi bahwa berobat dengan sesuatu yang haram adalah masalah Fiqh yang silang pendapat memang telah terjadi di dalamnya.[3]

Demikian, semoga dapat menginspirasi pembaca untuk kita lebih giat dan haus dengan Ilmu, dan agar tidak tergesa-gesa menghakimi keputusan MUI dalam fatwa Mubahnya.


[1] http://www.halalmui.org/mui14/index.php/main/detil_page/138/24636

[2] Silsilah Ahadits Shahihah No. 1633

[3] Berikut adalah artikel yang merinci hukum berobat dengan sesuatu yang haram yang ditulis oleh Dr. Abud bin Ali bin Dir’ : http://fiqh.islammessage.com/NewsDetails.aspx?id=4446

Comments

comments