Usia Anak untuk Dikhitan

Teduh.Or.Id – Kadang sebagian orang tua bingung menentukan kapan waktu yang pas, cocok, dan sesuai dengan anjuran syariat untuk mengkhitan buah hati tersayang. Berikut kami hadirkan penjelasan sederhana agar masalah ini menjadi jelas, sekelumit tentang waktu untuk anak berkhitan.

Bismillah Walhamdulillah.

Dalam beberapa riwayat hadits memang telah disebutkan usia berkhitan, namun penyebutan usia tersebut tidak serta merta kemudian menjadi acuan batasan usia untuk khitan. Di antara riwayat tersebut adalah:

Khitan di Usia Delapan Puluh Tahun

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah insan yang paling pertama berkhitan[1] dan beliau melakukan khitan di usia delapan puluh tahun atas pendapat yang paling shahih. Disebutkan dalam hadits,

اختتن إبراهيم عليه السلام وهو ابن ثمانين سنة بالقدوم

Nabi Ibrahim berkhitan dengan – alat atau tempat bernama – Qadum walhal beliau berusia delapan puluh tahun.” (Muttafaq ‘Alaih)

Namun hadits ini tidak menunjukkan adanya anjuran agar usia seorang diundurkan sampai ke usia delapan puluh tahun untuk dikhitan. al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

يستدل بقصة إبراهيم عليه السلام لمشروعية الختان حتى لو أخر لمانع حتى بلغ السن المذكور لم يسقط طلبه والى ذلك أشار البخاري بالترجمة وليس المراد ان الختان يشرع تأخيره إلى الكبر حتى يحتاج إلى الاعتذار عنه

Kisah Ibrahim ‘alaihissalam dijadikan dalil disyariatkannya khitan walau pun itu di undur sampai ke usia yang tersebut (di dalam kisah) karena sebab adanya halangan, tidak gugur tuntutan khitannya, dan ke situlah isyarat Imam al-Bukhariy dengan tarjamah (judul bab untuk hadits ini), dan yang dimaksudkan dengannya bukanlah anjuran disyariatkan mengundurkan waktu khitan sampai ke usia tua“.[2]

Khitan di Hari ke Tujuh

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Nabi ﷺ mengkhitan al-Hasan dan al-Husain radliyallahu ‘anhuma di hari ke tujuh dari hari kelahirannya, dan dalam riwayat lainnya dari Ibnu ‘Abbas radliyallahu ‘anhuma disebutkan,

سبعة من السنة فى الصبى يوم السابع: يسمى , ويختن

Ada tujuh bagian dari sunnah terhadap bayi pada hari yang ketujuh, diberikan nama, dan dikhitan.[3]

Dan riwayat Ibnu ‘Abbas ini sesungguhnya adalah riwayat penopang atau syaahid atas riwayat Al-Hasan dan Al-Husain yang dikhitan dihari ke tujuh, namun apakah ia kuat dan sah menjadi penguatnya atau tidak? Syaikh Al-Albaniy Rahimahullah abstain dalam hal ini. Beliau berkata,

 فمثله هل يعتبر به ويحتج به فى المتابعات والشواهد؟ محل نظر عندى

Maka hadits yang seperti ini apakah diperhitungkan dan dijadikan hujjah dalam Al-Mutaba’at dan Al-Syawahid? Ini menjadi perhatian di sisi saya“.[4] Demikian ungkap beliau.

Namun di dalam Silsilah Al-Dla’ifah, beliau dengan tegas menghukumi hadits ini lemah, dan tidak dapat dijadikan sebagai dalil untuk melandasi khitan di hari ke tujuh sebagai sunnah.[5]

Khitan Setelah Baligh

Dan inilah satu-satunya riwayat dari salaf yang paling kuat dan sedikit memberikan kejelasan, bahwa khitan dilakukan setelah anak baligh, disebutkan dari  Abdullah bin ‘Abbas radliyallahu ‘anhuma. Beliau berkata,

 وكانوا لا يختنون الرجل حتى يدرك

Mereka (Bangsa Arab) tidak mengkhitan lelaki sampai ia baligh” (HR: Bukhari)

Akan tetapi riwayat ini tidak dipahami sebagai waktu yang khusus untuk berkhitan, karena kaum yang dimaksudkan dalam ucapan Ibnu ‘Abbas di atas bukanlah para shahabat akan tetapi kembali kepada kebiasaan bangsa Arab. Namun setidaknya kita mendapatkan gambaran tentang waktu khitan dari kesaksian Ibnu ‘Abbas di atas.

Dari itu para ulama besar seperti Imam Ahmad bin hanbal, Imam Ibnulmundzir, demikian juga Imam Sufyan al-Tsaury dan Sufyan Ibnu ‘Uyainah, mereka menyatakan bahwa tidak ada hadits yang menyebutkan waktu khusus yang menjadi batasan untuk berkhitan.

Imam Ahmad rahimahullah berkata tentang masalah waktu berkhitan,

لم أسمع فيه شيئًا

Aku tidak mendengar hadits apa pun di dalamnya.[6]

Imam Ibnulmundzir rahimahullah berkata,

ليس في باب الختان نهي يثبت، ولا لوقته حد يرجع إليه، ولا سنة تتبع، والأشياء على الإباحة، ولا يجوز حظر شيء منها إلا بحجة، ولا نعلم مع من منع أن يختن الصبي لسبعة أيام حجة

Tidak ada dalam bab khitan larangan dari hadits yang shahih dan tidak ada batasan waktu yang menjadi acuan di dalamnya.”[7]

Sufyan Ibnu Uyainah mengatakan, bahwa Sufyan al-Tsauriy pernah berkata kepada dirinya, “Apakah engkau menghapal hadits tentang waktu dalam khitan? Aku menjawab, “tidak”. Demikian juga sebaliknya, Sufyan al-Tauriy bertanya kepada Ibnu Uyainah tentang hal yang sama, dan beliau menjawab tidak.”[8]

Oleh karena itulah kemudian para ulama berbeda pandangan dalam memilih kapan waktu yang tepat untuk berkhitan.

Imam Annawawiy rahimahullah memilih agar dikhitan ketika masih kecil. Beliau berkata,

يستحب للولي أن يختن الصغير في صغره ؛ لأنه أرفق به اهـ

Disunnahkan untuk wali agar mengkhitan anak kecil di usia kecilnya karena hal itu (adalah perlakuan yang) lebih lembut terhadap dirinya.[9]

Syaikhul Islam  Ibnu Taimiyyah rahimahullah memilih waktunya terserah kapan saja asalkan yang penting ketika baligh ia sudah berkhitan. Beliau berkata,

أما الختان فمتى شاء اختتن ، لكن إذا راهق البلوغ : فينبغي أن يختن كما كانت العرب تفعل ، لئلا يبلغ إلا وهو مختون

Adapun khitan maka kapan saja ia mau maka di saat itu pula ia berkhitan, akan tetapi apabila ia telah mencapai usia baligh maka seyogyanya ia dikhitan sebagaimana yang telah dilakukan bangsa Arab agar jangan sampai ia baligh kecuali ia sudah dalam keadaan dikhitan.[10]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah memilih agar dikhitan ketika usia si anak menginjak usia ia diperintahkan untuk shalat. Beliau berkata,

فإن حكمة الختان لم تنحصر في تكميل ما يتعلق بالجماع بل  ولما يخشى من انحباس بقية البول في الغرلة ولا سيما للمستجمر فلا يؤمن ان يسيل فينجس الثوب أو البدن فكانت المبادرة لقطعها عند بلوغ السن الذي يؤمر به الصبي بالصلاة أليق الأوقات

Maka sesungguhnya hikmah dari khitan tidak hanya terbatas pada penyempurnaan hal-hal yang terkait dengan urusan Jima’ (hubungan intim suami istri) akan tetapi karena sebab dikhawatirkan tertahannya sebagian kencing di bagian ghurlah (area kulit yang menutup kepala dzakar), terlebih bagi orang yang bersuci dengan batu atau semisalnya (Istijmar), maka tidak dijamin kencingnya tidak akan mengalir sehingga membuat pakaian atau pun badannya menjadi najis, maka bersegera mengkhitannya ketika anak kecil mencapai usia ia diperintahkan untuk shalat adalah waktu yang paling layak.[11]

Waktu Wajib Berkhitan

Adapun waktu wajib seorang anak dikhitan terdapat dua pendapat dalam masalah ini, pertama menyebutkan wajib setelah baligh, kedua wajib sebelum baligh namun dilakukan oleh orang tuanya.

Imam Annawawiy rahimahullah berkata,

قال أصحابنا : وقت وجوب الختان بعد البلوغ اهـ

“Para shahabat kami dalam Madzhab berkata; Waktu wajib khitan adalah setelah baligh.” (al-Majmu’ 1/153)

Imam Ibnulqayyim rahimahullah memilih waktu khitan menjadi wajib sebelum baligh sehingga anak kecil ketika telah baligh sudah dalam keadaan berkhitan, dan kewajiban ini diberatkan atas orang tuanya. Beliau berkata,

وعندي أنه يجب على الولي أن يختن الصبي قبل البلوغ بحيث يبلغ مختوناً ، فإن ذلك مما لا يتم الواجب إلا به وقد أمر النبي صلى الله عليه وسلم الآباء أن يأمروا أولادهم بالصلاة لسبع وأن يضربوهم على تركها لعشر . فكيف يسوغ لهم ترك ختانهم حتى يجاوزا البلوغ اهـ

Dan menurut saya, sesungguhnya wajib atas seorang wali mengkhitan anak kecil sebelum baligh sekiranya ketika ia baligh sudah dalam keadaan berkhitan, sesungguhnya hal itu masuk ke dalam perkara yang tidak sempurna suatu kewajiban kecuali dengan melakukannya, dan Nabi ﷺ telah memerintahkan para bapak agar memerintahkan anak-anak mereka untuk shalat pada usia tujuh dan agar memukul mereka atas dasar meniggalkannya pada usia sepuluh, maka lalu bagaimana bisa mereka akan meninggalkan khitan mereka sampai melewati usia baligh?[12]

Dan pendapat Imam Ibnulqayyim rahimahullah ini nampak selaras dengan penjelasan, dan al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah di atas yang mengaitkan waktu khitan dengan perintah shalat, dan inilah pendapat yang sudah banyak diamalkan kaum muslimin, dan baik untuk dikuti, mereka mengkhitan anak mereka rata-rata pada usia sebelum baligh atau ketika berusia tujuh tahun. Walhamdulillah.


[1]     Fathulbariy (14/266) Dar. Thayyibah

[2] Fathulbariy (14/267-268)

[3] Irwa’ulghalil (4/385)

[4] Irwa’ulghalil (4/385)

[5] Lihat Silsilah Al-Dla’ifah Hadits No. 5432 (11/717)

[6] Lihat al-Inshaf (1/125)

[7] Lihat Majmu’ Imam Annawawiy (1/352)

[8] Lihat al-Tamhid (21/61)

[9] Lihat al-Majmu’ (1/351)

[10] Lihat Majmu’ Fatawa al-Kubra (1/275)

[11] Lihat Fathulbariy (11/90)

[12] Lihat Tuhfatul Maudud (182)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.