Urgensi Kepemimpinan dalam Lembaga Dakwah

Teduh.Or.Id – Tahun 2017, U.S Commision on International Religious Freedom (USCIRF) merilis data bahwa jumlah penduduk muslim di Indonesia merupakan mayoritas dibandingkan dengan umat beragama lainnya. Terdapat sekitar 87% jumlah penduduk muslim dari populasi masyarakat yang berjumlah 258 juta jiwa, sebagian besar diantaranya menganut pemahaman sunni.

PEW Research sebagai lembaga riset global juga merilis populasi kaum muslimin di Indonesia pada tahun 2010 berjumlah 209,1 juta jiwa lebih, dan menjadikan Indonesia berada pada urutan pertama, di atas India dan Pakistan.

Tentu dari kedua data di atas menjadikan Indonesia memiliki modal jumlah penduduk muslim yang tidak bisa dianggap sedikit di dunia. Indonesia sejak awal kemerdekaannya, sudah diperhitungkan sebagai negara muslim yang diperhitungkan diantara negara-negara muslim di dunia lainnya. Dalam kerjasama internasional, yang melibatkan kaum muslimin sebagai objekya, Indonesia senantiasa memiliki andil di dalamnya.

Tidak hanya dengan banyaknya jumlah kaum muslimin yang ada di Indonesia. Negara ini dikenal pula dengan banyaknya jumlah lembaga Islam yang tumbuh subur, tidak seperti di negara-negara muslim lainnya. Dengan batasan, selama lembaga-lembaga tersebut tidak menyalahi asas negara ini yang mendasarkan pada Pancasila dan UUD 1945.

Tentu tak heran, dengan banyaknya jumlah lembaga dakwah yang ada, menjadikan khazanah keislaman di Indonesia semakin kaya. Setidaknya sejak masa awal sebelum kemerdekaan, sudah terdapat berbagai lembaga dakwah yang mengisi lembar sejarah kehidupan bangsa ini. Seperti adanya Jamiat Khair, Sarekat Dagang Islam yang mengubah namanya menjadi Sarekat Islam dengan misi dakwah yang tetap disisipkan selain orientasi perserikatan dibangun di atas nilai muamalah, selain itu ada yang terbesar dan bertahan hingga hari ini semisal Nahdhlatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, Dewan Dakwah Islamiyah, Hidayatullah, Wahdah Islamiyah, dan lainnya yang terus berkembang di tengah masyarakat.

Adanya berbagai lembaga dakwah, tidak terlepas dari dua hal yang mengikatnya, yakni adanya sistem atau peraturan dalam organisasi, dan yang berikutnya adalah kepemimpinan. Kepemimpinan memiliki fungsi yang vital, sebab banyak lembaga dakwah dikenal karena adanya figuritas pemimpin yang menjalankan amanah lembaga yang ada.

Seperti dalam Muhammadiyah dikenal Bapak A.R Fakhruddin misalnya, sebagai orang yang cukup luwes. Amien Rais, pengganti Ahmad Azhar Basyir sebagai Ketua Muhammadiyah dari 1994 hingga 1998, mewakili satu garis politik yang lebih radikal dari para pendahulunya. Penggantinya lagi, Achmad Syafi’i Maarif, terkenal sebagai seorang tokoh intelektual yang berbobot.

Disebabkan pentingnya peran kepemimpinan dalam sebuah lembaga dakwah, dalam hal ini memiliki fungsi sebagai tokoh sentral yang bersifat karismatik, pengatur peran dan posisi lembaga terhadap negara, pengaturan organisasi yang baik dan menyeluruh, serta menempatkan lembaga sebagai wadah beragama yang menjawab aspirasi para warganya. Menjadikan peran pemimpin yang harus ditinjau dan dijabarkan dari berbagai aspek yang ada.

Tulisan ini mencoba untuk menyajikan tentang peran seorang pemimpin, tugas, efektifitas kerja pengaturan yang dilaksanakan, efisiensi sumber daya dalam menjalankan perannya di organisasi, pembinaan terhadap posisi struktural-fungsional lainnya, dan hal-hal lain yang menuntut adanya peran kepemimpinan paripurna dalam sebuah lembaga dakwah.

Pengertian Kepemimpinan 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Kepemimpinan berasal dari kata “pimpin”, yang bermakna mengetuai atau mengepalai (rapat, perkumpulan, dan sebagainya), memenangi paling banyak, memegang tangan seseorang sambil berjalan, membimbing, memandu, dan melatih.

Adapun dalam Bahasa Inggris, kata pemimpin memiliki diksi leader dan pekerjaan kepemimpinannya disebut dengan frasa leadership. Sedangkan kepemimpinan memiliki definisi lainnya seperti yang dikemukakan oleh Rauch & Behling yaitu proses mempengaruhi aktivitas kelompok yang terorganisir untuk mencapai sasaran.

Sedangkan menurut Richads & Eagel, kepemimpinan adalah cara untuk mengartikulasikan visi, mewujudkan nilai, dan menciptakan lingkungan guna mencapai sesuatu. Definisi selanjutnya datang dari House et. Al, yang mengonsepkan kepemimpinan sebagai kemampuan individu untuk memengaruhi, memotivasi, dan membuat orang lain mampu memberikan kontribusinya demi efektivitas dan keberhasilan organisasi.

Dalam konteks definisi lokal, kepemimpinan menurut J. Salusu adalah kekuatan dalam memengaruhi orang lain agar ikut serta dalam mencapai tujuan umum. Hal ini senada dengan yang ditegaskan oleh E. Mulyasa yang menjabarkan bahwa kepemimpinan sebagai kegiatan untuk memengaruhi orang-orang yang diarahkan terhadap pencapaian tujuan organisasi. Sedangkan menurut M. Ngalim Purwanto yang mengambil pendapat dari James Lipham menegaskan bahwa kepemimpinan adalah permulaan dari suatu struktur atau prosedur baru untuk mencapai tujuan-tujuan dan sasaran organisasi tau untuk mengubah tujuan-tujuan dan sasaran organisasi.

Menurut konteks Islam, manusia terlahir sebagai khalifah fil ardh, tugas selanjutnya adalah menggali potensi kepemimpinannya untuk memberikan pelayanan serta pengabdian yang diniatkan semata-mata karena amanah Allah, yaitu dengan cara memainkan peranananya sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil alamin).

Dari ungkapan tersebut jelas bahwa manusia telah terlahir sebagai pemimpin dan tugas manusia itu pula yang harus menghidupkan nilai kepemimpinannya. Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk memengaruhi. Bila Rasulullah mengatakan bahwa setiap orang itu adalah pemimpin, berarti manusia terlahir dengan bakat untuk memengaruhi. Dengan demikian, kita hidup dalam sebuah medan pengaruh antara sesama manusia.

Makna Lembaga Dakwah

Sebelum memahami tentang makna lembaga dakwah, perlu diketahui terlebih dahulu definisi dari setiap kata yang mendasari, pertama adalah memahami definisi dari lembaga. Koentjaraningrat mendefinisikan bahwa lembaga adalah suatu sistem tata kelakuan dan gabungan yang berpusat kepada aktifitas untuk memenuhi kompleksitas hubungan manusia. Sedangkan Soerjono Soekanto menjelaskan bahwa lembaga merupakan himpunan norma dari segala tingkatan yang berkisar pada satu kebutuhan pokok dalam kehidupan masyarakat.

Adapun Paul Hort dan Chester L. Hunt mendeskripsikan tentang lembaga bahwa ia merupakan sistem norma-norma sosial dan hubungan-hubungan yang menyangkut nilai-nilai dan prosedur-prosedur tertentu dalam rangka pemenuhan kebutuhan masyarakat.

Maka, lembaga secara sederhana dapat didefinisikan sebagai tempat bersatunya manusia atau masyarakat yang memiliki kesamaan tujuan, dengan diikat oleh adanya aturan-aturan atau norma-norma yang sudah ditetapkan secara bersama, dalam mencapai terwujudnya keberhasilan cita-cita atau visi yang telah disepakati secara bersama. Hal ini menjadikan tanda, bahwa sebuah lembaga, dibangun diatas sikap yang sama, semangat yang menyala diantara anggota lembaga, dan keinginan yang tak padam akan sebuah eksistensi dan perwujudan diri diatas nilai-nilai kebersamaan.

Sedangkan dakwah, mengandung pengertian sebagai suatu kegiatan ajakan baik dalam bentuk lisan, tulisan, tingkah laku dan sebagainya yang dilakukan secara sadar dan berencana dalam usaha memengaruhi orang lain baik secara individual maupun kelompok, agar supaya timbul di dalam dirinya suatu pengertian, kesadaran, sikap, penghayatan serta pengamalan terhadap ajaran agama sebagai message yang disampaikan kepadanya dengan tanpa adanya unsur-unsur paksaan.

Dakwah juga memiliki pengertian sebagaimana yang dipaparkan oleh Quraish Shihab yang dikutip oleh M. Munir, yaitu seruan atau ajakan keinsafan atau usaha untuk mengubah situasi yang tidak baik kepada situasi yang lebih baik dan sempurna, baik terhadap pribadi maupun masyarakat. Lukis Alam menjelaskan dakwah merupakan seruan untuk melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan ke arah mendapat petunjuk Allah Ta’ala dalam kehidupan keseharian.

Dakwah suatu bagian yang tidak terpisahkan dengan pembangunan bangsa dan negara karena keduanya memiliki hakikat yang sama, yakni membangun manusia secara lahir dan bathin, spiritual dan material, duniawi dan ukhrawi. Sedangkan menurut M. Masyhur Amin bahwa dakwah adalah suatu aktifitas yang mendorong manusia memeluk agama Islam melalui cara bijaksana, dengan materi ajaran Islam, agar mereka mendapatkan kesejahteraan di dunia dan akhirat.

Esensi dakwah terletak pada ajakan, dorongan (motivasi), rangsangan serta bimbingan terhadap orang lain untuk menerima ajaran agama dengan penuh kesadaran demi untuk kepentingan pribadinya sendiri, bukan untuk kepentingan juru dakwah/juru penerang. Dakwah ideal memiliki tiga pendekatan terhadap mereka yang didakwahi, pertama ialah melalui pendekatan emosional, kedua adalah pendekatan rasional, ketiga adalah pendekatan empirik. Ketiga model dakwah tersebut merupakan strategi dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah saat mendakwahkan ajaran Islam baik saat berada di fase Madinah atau fase Mekah.

Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa lembaga dakwah adalah tempat berkumpulnya individu dengan tujuan yang sama melalui adanya ikatan yang dirajut melalui simpul-simpul Islam, dengan berlandaskan pada nilai-nilai amar ma’ruf nahi munkar, demi terwujudnya kebahagiaan di dunia dan akhirat. Bila hal-hal tersebut terselenggara dengan baik, maka akan memicu implikasi positif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Teori Kepemimpinan Lembaga Dakwah

Pentingnya peran pemimpin menduduki peringkat pertama, selain sebuah sistem yang telah ditetapkan dan disepakati secara bersama, lembaga dakwah perlu memahami tentang hakikat kepemimpinan dalam mengatur pola pendekatan dakwah yang harus dibangun, pola-pola yang ada tersebut dihimpun dalam sebuah paradigma lembaga untuk ditransformasikan kepada setiap elemen organisasi tersebut.

Karena, sama halnya dengan organisasi lain pada umumnya, lembaga dakwah juga dituntut untuk memiliki ritme berkemajuan. Ritme tersebut bertujuan untuk membangun citra positif lembaga dihadapan lembaga lainnya atau negara sekalipun, dan dibutuhkan adanya penguatan dari dalam sebagai bentuk penegasan budaya organisasi serta teladan bagi anggota terhadap cerminan pemimpinnya.

Kepemimpinan dalam Islam, atau sebuah lembaga keislaman seperti yang dijelaskan oleh Beekun & Badawi ialah seorang muslim dalam mensifati dirinya baik sebagai seorang pemimpin maupun sebagai pengikut atas pemimpinnya, haruslah mendasari segala aktivitasnya terhadap kitab suci mereka yakni Al -Qur’an. Mereka juga haruslah mempercayai bahwa Nabi dalam Islam, yakni Muhammad shalallahu alaihi wa sallam adalah teladan sepanjang masa. Kedua hal ini saling mendukung, bahwa Allah meminta kepada hambanya untuk menjadikan Muhammad shalallahu alaihi wa sallam sebagai teladan dan menjadikannya sebagai pedoman dalam berakhlak mulia.

Kepemimpinan dalam Islam bukan hanya sekedar melayani para masyarakat kecil, jauh dari itu semua, kepemimpinan dalam Islam bukan pula tergantung pada keadaan tertentu, melainkan menjadikan setiap orang adalah pemimpin bagi dirinya sendiri, sebagaimana yang Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam tekankan:

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya.”

Menyambung pernyataan di atas, Toto Tasmara memberikan gambaran sifat yang harus dimiliki oleh para pimpinan lembaga dakwah atau dapat juga disebut dengan manajer dakwah, sifat-sifat tersebut tercermin pada apa yang dimiliki oleh Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam yang dicerminkan dengan gelar Al-Amin. Sifat-sifat Al-Amin yang ada pada diri Rasulullah bersesuaian dengan kesimpulan Kouzes dan Posner, yang memberikan gambaran kesesuaian kredibilitas kepemimpinan pada diri Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, yakni:

  1. Pemimpin melaksanakan yang diucapkannya – Leaders practise what they preach.
  2. Mereka membuktikan ucapannya – They walk the talk.
  3. Tindakannya konsisten dengan ucapannya – Their action are consistence with their words.
  4. Mereka memenuhi janji-janjinya – They follow through on their promises.
  5. Mereka kerjakan yang mereka ingin kerjakan – They do what they say they will do.

Dalam literatur lain, kepemimpinan dipengaruhi oleh gaya memimpin yang menjadi rujukan ketika melakukan pengaturan organisasi. Terdapat beberapa model kepemimpinan diantaranya ialah apa yang dipaparkan oleh Hunt, bahwa model kepemimpinan terbagi atas 4 hal, yakni transformasional, transaksional, karismatik, visioner atau inspirasional.

Menurut Khan, kepemimpinan dalam Islam mempertimbangkan adanya dua faktor, yaitu kepercayaan dan tanggung jawab. Pemimpin wajib untuk memenuhi kewajibannya kepada Tuhan sebagai kekuatan terbesar di atas segalanya, dengan mendistribusikan tugas-tugas kepemimpinannya kepada para anggota kelompoknya untuk melihat sejauh mana kemampuan mereka dalam sebuah kepercayaan dan tanggung jawab tersebut.

Terdapat beberapa pendekatan tentang kepemimpinan yaitu, pendekatan dari segi personality traits (sifat atau ciri kepribadian), pendekatan dari sudut pembawaan, pendekatan berdasarkan pada keadaan (the situational approach), pendekatan berdasarkan peranan fungsional (the functional role approach), dan pendekatan berdasarkan gaya kepemimpinan yang hal ini didasarkan lagi pada beberapa model diantaranya:

  1. Gaya authoritarian; yang membuat keputusan adalah pemimpin
  2. Gaya demokratis; kelompoklah yang membuat keputusan
  3. Gaya bebas; tiap anggota kelompok membuat keputusan untuk dirinya sendiri.
Mewujudkan Model Kepemimpinan Lembaga Dakwah

Dakwah tidak bisa dilepaskan dari adanya ikatan di antara tiga faktor penting, sebagaimana komunikasi. Dakwah harus memiliki 3 prasyarat utama, yakni adanya pendakwah, mereka yang didakwahi, dan pesan atas isi dakwah itu sendiri. Jika salah satu dari komponen tersebut tidak ada, maka fungsi dakwah tidak akan berjalan dengan optimal, disamping itu tujuan dakwah menjadi tidak maksimal.

Dalam setiap lembaga dakwah, pemimpin yang terbaik senantiasa menciptakan penerus untuk keberlangsungan tugas kepemimpinan lembaga di masa datang. Para penerus kepemimpinan dakwah, lazim dikenal dengan istilah kader. Mereka adalah individu-individu yang dibina dengan prinsip, visi, dan misi yang telah diketahui dalam sebuah lembaga dakwah tempat mereka tumbuh berkembang.

Pemimpin ideal, senantiasa mentransformasikan misi mereka terhadap kader yang telah dipersiapkan. Kader adalah aset utama gerakan dakwah. Karena kader dakwah yang akhirnya akan mengisi struktur dan akhirnya struktur akan membentuk kultur (budaya) yang ada di masyarakat. Jika yang mengisi di berbagai struktur profesi adalah orang yang memiliki komitmen keIslaman yang tinggi, maka Insya Allah secara bertahap kultur (budaya) yang terbentuk di masyarakat juga akan Islami.

Proses penyiapan kader kepemimpinan lembaga dakwah perlu menjadi hal yang serius untuk disoroti dalam organisasi. Hal ini penting selain tujuan dan target pencapaian individu pemimpin itu sendiri terhadap lembaganya. Kaderisasi memerlukan usaha keras yang terdiri atas:

  1. Merekrut orang-orang yang paling baik dan paling cerdas.
  2. Mendorong orang-orang lain untuk mengaktualisasikan potensi mereka, meskipun potensi orang lain tadi dapat melebih potensi diri si pemimpin.
  3. Dengan sadar mendisain kesempatan untuk masing-masing orang yang “memaksa” mereka untuk menghasilkan yang terbaik dengan tetap bersedia membantu mereka.
  4. Mengetahui kekuatan dan kelemahanmereka, meningkatkan kekuatan mereka, dan mengurangi kelemahan mereka melalui tindakan dan kesempatan yang tepat.
  5. Tidak menuntut mereka untuk berbuat seperti yang telah dia lakukan, melainkan memberikan pengertian bahwa untuk menyiapkan diri guna menghadapi masa depan yang tidak pasti memerlukan kecakapan-kecakapan kepemimpinan yang lain.

Oleh karena itu pemimpin lembaga dakwah, setidaknya harus memenuhi nilai-nilai minimal sebagai pengemban amanah organisasi yang dipimpinnya. Nilai-nilai tersebut sebagaimana yang diuraikan oleh Toto Tasmara adalah memiliki sifat yang menjadikan Rasulullah suri tauladan saat itu, yakni:

  1. Shiddiq
    – Jujur pada diri sendiri
    – Jujur terhadap orang lain
    – Jujur terhadap Allah
    – Menyebarkan salam
  2. Istiqamah
    – Mereka mempunyai tujuan
    – Mereka adalah orang yang kreatif
    – Mereka sangat menghargai waktu
    – Mereka bersikap sabar
  3. Fathanah
    – Diberi hikmah dan ilmu
    – Mereka berdisiplin dan proaktif
    – Mampu memilih yang terbaik
  4. Amanah
  5. Tabligh
    Communication skill
    – Kuat menghadapi tekanan
    – Kerja sama dan harmoni.

Kepemimpinan dalam dakwah adalah sifat atau ciri tingkah laku pemimpin yang mengandung kemampuan untuk mempengaruhi dan mengarahkan daya kemampuan orang seorang atau kelompok orang guna mencapai tujuan dakwah yang telah ditetapkan. Dengan kata lain pemimpin dakwah adalah orang yang dapat menggerakkan orang lain yang ada di sekitarnya dengan pengaruhnya untuk mengikutinya dalam proses mencapai tujuan dakwah.

Penutup

Dalam sebuah organisasi termasuk diantaranya lembaga dakwah, dibutuhkan adanya peran-peran kepemimpinan. Fungsi kepemimpinan sudah jelas, yaitu untuk mempertahankan keberlangsungan sebuah organisasi. Dalam sebuah lembaga dakwah, kepemimpinan merupakan sesuatu yang penting, ia memiliki pengaruh dan kemampuan diantara kader dakwahnya.

Lembaga dakwah adalah tempat berkumpulnya kesamaan visi dan misi diatas asas ajaran Islam yang bersifat rahmatan lil alamin. Sehingga konsep kepemimpinan dalam lembaga dakwah, selain memberikan harapan kebahagiaan di dunia dan petunjuk bagi kader anggotanya, kepemimpinan dalam lembaga dakwah juga berperan sentral dalam tugas-tugas amal sosial para anggotanya sebagai perwujudan nilai balasan yang bersifat ukhrawi. Tanpa adanya tugas-tugas kepemimpinan, maka lembaga dakwah tidak memiliki nilai dan tujuan yang diharapkan.

 


Referensi

Abdillah, Ari. 2012, Paradigma Baru Dakwah Kampus, Adil Media. Yogyakarta.
Arifin, H.M, 2004, Psikologi Dakwah; Suatu Pengantar Studi, Bumi Aksara. Jakarta.
Abdul Fatah, Rohadi dan M. Tata Taufiq, 2004, Manajemen Dakwah di Era Global; Sebuah Pendekatan Metodologi, Fauzan Inti Kreasi. Jakarta.
Alam, Lukis, 2016, Internalisasi Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam Perguruan Tinggi Umum Melalui Lembaga Dakwah Kampus, Istawa, Jurnal Pendidikan Islam. Ponorogo.
An-Nabiry,Fathul Bahri, 2008, Meniti Jalan Dakwah, Amzah. Jakarta.
Echols, John M. dan Hasan Shadily, 2005, Kamus Inggris Indonesia, Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
Faris, Nezar dan Ken Parry, 2011, Islamic Organizational Leadership Within a Western Society: The Problematic Role of External Context, Elsevier. Australia.
Feillard, Andre, 2017, NU vis-a-vis Negara, Pencarian Isi, Bentuk, dan Makna, IRCISOD. Yogyakarta.
McMurray, A.J A. Pirora-Merlo dan J.C Sarros, M.M Islam, 2009, Leadership, Climate, Psychological Capital, Commitment, and Wellbeing ia a Non Profit Organization, Emerald Publisher. Australia.
Munir, M. dan Wahyu Ilahi, 2006, Manajemen Dakwah, Kencana. Jakarta.
Tasmara, Toto, 2003, Kecerdasan Ruhaniah, Gema Insani Press. Jakarta.
Tasmara, Toto, 2006, Spiritual Centered Leadership; Kepemimpinan Berbasis Spiritual, Gema Insani Press. Jakarta.
Wahab, Abdul H.S dan Umiarso, 2011, Kepemimpinan Pendidikan dan Kecerdasan Spiritual, Ar Ruzz Media. Yogyakarta.
Wirjana, Bernardine R. dan Susilo Supardo, 2005, Kepemimpinan, Dasar-dasar dan Pengembangannya, Penerbit Andi. Yogyakarta.
Yukl, Gary, 2009, Kepemimpinan Dalam Organisasi, Penerbit PT. Indeks. Jakarta.


Untuk membaca versi Word-nya dapat mendownload pada link di bawah ini:

Urgensi Kepemimpinan dalam Lembaga Dakwah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.