Umrah Atau Haji Kecil

Haji Kecil, itulah sebutan lain untuk ibadah umroh yang banyak disematkan oleh mayoritas ulama, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepada Amru bin Hazm, yang artinya, “Dan sesungguhnya umroh adalah haji kecil..” (dishahihkan oleh Imam Ahmad dan Al-Uqaili). Sahabat sekaligus sepupu Nabi shallallahu alaihi wa salam, Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma pun berkata, “Umroh adalah haji kecil.” (dikeluarkan oleh Imam Ibnu Abi Syaibah).

Umroh disebut sebagai haji kecil karena di dalamnya terdapat beberapa ritual serupa dengan ritual yang juga dilaksanakan pada saat pelaksanaan ibadah haji seperti ihram, thawaf, sa’i, dan mencukur sebagian rambut di kepala atau menggundulnya.

Disaat waktu tunggu untuk dapat melaksanakan ibadah haji begitu lama, juga biaya yang dibutuhkan dirasa begitu tinggi maka umroh seakan menjadi opsi yang “terpaksa” diambil oleh sebagian kaum muslimin yang merasa sangsi dapat melaksanakan ibadah haji. Namun demikian perlu kita ketahui dan yakini bersama bahwa ibadah umroh pun memiliki keutamaan yang amat besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dimana di antara keutamaan tersebut adalah apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam sebuah hadits beliau, yang artinya, “Satu umroh ke umroh yang berikutnya merupakan kaffarah (penebus dosa) untuk dosa yang terjadi di antara keduanya..” (dikeluarkan oleh Imam Muslim nomor 1349).

Dan sebagai manusia tentunya kita tidak pernah terlepas dari dosa, maka umroh merupakan satu media emas yang dapat dimanfaatkan oleh seorang muslim untuk menebus segala dosa yang telah ia lakukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala juga untuk semakin mendekatkan dirinya kepada Dzat yang menciptakan dirinya, tunduk bersimpuh kepada Allah dihadapan Ka’bah yang selama ini menjadi kiblat untuk seluruh shalatnya.

Bagi seorang muslim yang berkemampuan umroh hanya wajib sekali dalam seumur hidup, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya, “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umroh karena Allah..” (Al-Baqarah 196). Adapun Nabi kita terkasih Muhammad Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam maka beliau telah melaksanakan ibadah umroh sebanyak empat kali sepanjang usia hidup beliau yang mulia, dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma, ia berkata, Rasulullah melaksanakan umroh sebanyak empat kali, (yaitu) umroh Hudaibiyyah, umroh Qadha’, umroh ketiga dari Ji’ronah dan (keempat) umroh yang bersamaan dengan pelaksanaan haji beliau.” (Shahih Sunan at-Tirmidzi no 816).

Kapankah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam Melaksanakan Umrah?

Kesemua umroh tersebut beliau laksanakan pada bulan Dzul Qa’dah, Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata, “Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam melaksanakan umroh setelah berhijrah sebanyak empat kali, kesemuanya di bulan Dzul Qa’dah.” Beliau juga berkata, “Dan tidak ada perbedaan pendapat bahwa umroh yang beliau laksanakan tidak lebih dari empat kali.” (Zadul Ma’ad jilid 2 halaman 90-93).

Adapun mengapa beliau melaksanakan kesemua umroh beliau di bulan Dzul Qa’dah maka Imam an-Nawawi rahimahullah telah menjelaskan alasan dari hal tersebut, “Para Ulama berkata: ‘Tidaklah Nabi shallallahu alaihi wa sallam melaksanakan kesemua umroh tersebut pada bulan yang sama (Dzul Qa’dah) melainkan dikarenakan keutamaan yang dimiliki oleh bulan itu sendiri sekaligus untuk menyelisihi dan menepis keyakinan orang-orang jahiliyyah, yang beranggapan bahwa umroh pada bulan Dzul Qa’dah merupakan perbuatan yang amat sangat tercela maka Nabi sengaja melaksanakan umroh beliau tersebut di bulan Dzul Qa’dah berkali-kali, agar lebih tegas di dalam penjelasan akan bolehnya melaksanakan umroh di bulan Dzul Qa’dah dan agar lebih tegas lagi di dalam pengingkaran beliau terhadap apa yang diyakini oleh orang-orang jahiliyyah tersebut. Wallahu A’lam.” (Syarah Muslim 234/8)

Bagaimana Bila Di Bulan Lain?

Umroh boleh dilaksanakan di bulan apapun dikarenakan keumuman nash yang menyebutkan tentang keutamaan umroh, “Satu umroh ke umroh yang berikutnya merupakan kaffarah (penebus dosa) untuk dosa yang terjadi di antara keduanya..” Dikeluarkan oleh Imam Muslim nomor 1349, di dalam hadits ini tidak ada pengkaitan pelaksanaan ibadah umroh dengan waktu atau bulan tertentu berbeda dengan ibadah haji yang pelaksanaanya telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan pada bulan-bulan tertentu, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya, “(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi.” (QS Al-Baqarah 197)

Dan tidak mengapa pula umroh ini dilaksanakan berulang kali sepanjang tahun, Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Atsqalani berkata ketika menjelaskan hadits diatas yang juga dimuat di dalam Kitab Shahih Bukhari, “Dan hadits ini menjadi dalil akan dianjurkannya memperbanyak pelaksanaan umroh..” (Fathul Bari 3/598)

Demikianlah tulisan sederhana yang dapat kami suguhkan untuk pembaca sekalian, ‘Di Mana Ada Kemauan Di Situlah Jalan’, begitulah kiranya ungkapan yang cukup mewakili harapan penulis untuk diri kami pribadi dan para pembaca sekalian, jika hari ini kita belum memiliki kemampuan atau gambaran apakah kita bisa pergi ke tanah suci ataukah tidak maka alangkah arif serta bijaksananya jika kita tetap menjaga ‘azzam juga asa yang senantiasa kita gantungkan selalu kepada Allah Dzat tempat kita bergantung, yang akhirnya membuat kita terus menerus melakukan segala upaya dan membuat kita terus menerus memohon dan memelas di dalam setiap pinta kita padaNya untuk bisa disampaikan di rumahNya yang mulia, Baitullahil Haram. Allah Yang Maha Mengijabahi doa para hambaNya berfirman, yang artinya, “Dan Rabbmu telah berfirman, ‘Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Aku perkenankan bagimu..” (QS Al-Mu’min: 60)

Wallahu A’lam bish Shawab.

Oleh: Abu Ubaidillah Muhammad Rizqi.