Ulama Madzhab Syafi’i Menilai Bid’ah Shalat Nishfu Sya’ban

Malam Nishfu Sya’ban menjadi satu malam yang berbeda dan dianggap memiliki keistimewa oleh sebagian kaum muslimin, bahkan menghidupkan malam ini dengan ritual keagamaan telah menjadi tradisi masyarakat islam disebagian tempat tertentu.

Bukan tidak beralasan, malam Nishfu Sya’ban menjadi begitu berarti karena memang terdapat banyak riwayat hadits yang menerangkan keistimewaannya, walau pun tentunya hadits-hadits tersebut dianggap lemah oleh para ulama pakar hadist.

Akan tetapi di antara sekian banyak hadits lemah tersebut terdapat satu redaksi riwayat hadits yang dinilai statusnya lebih dekat kepada shahih, hadits itu adalah:

إن الله ليطلع في ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

“Sesungguhnya Allah muncul pada malam pertengahan bulan Sya’ban maka Ia mengampuni segenap hambanya kecuali orang yang Musyrik atau Musyahin (orang yang bermusuhan)” (HR: Ibnu Majah)

Syaikh Al-Albani Rahimahullah menilai hadits ini Shahih dengan alasan apabila digabungkan dengan segenap jalur periwayatannya beliau berkata :

و جملة القول أن الحديث بمجموع هذه الطرق صحيح بلا ريب و الصحة تثبت بأقل منها عددا ما دامت سالمة من الضعف الشديد كما هو الشأن في هذا الحديث

“Dan kesimpulan pendapat dalam masalah ini, bahwa hadits ini dengan segenap jalur periwayatannya adalah hadits yang shahih tanpa ada keraguan, dan keshahihan sebuah hadits dapat tercapai dengan jumlah jalur periwayatan yang lebih sedikit dari jalur-jalurnya hadits di atas selama ia selamat dari bentuk adl-Dla’fusy Syadid (kelemahan yang parah) sebagaimana itulah keadaan dalam hadits ini, (maksudnya selamat dari bentuk  adl-Dla’fusy Syadid )” [Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah 3/218 No. 1144]

Walau pun hadits ini dinilai Shahih, namun Malam Nishfu Sya’ban dengan serba serbi keyakinan dan rangkaian ritual kegiatan yang dianggap Ibadah di dalamnya telah mendapatkan sorotan yang serius oleh para Ulama, di antaranya adalah Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i Rahimahullah, beliau menjelaskan :

العاشرة.  الصلاة المعروفة بصلاة الرغائب وهي ثنتى عشرة ركعة تصلي بين المغرب والعشاء ليلة أول جمعة في رجب وصلاة ليلة نصف شعبان مائة ركعة وهاتان الصلاتان بدعتان ومنكران قبيحتان ولا يغتر بذكرهما في كتاب قوت القلوب واحياء علوم الدين ولا بالحديث المذكور فيهما فان كل ذلك باطل ولا يغتر ببعض من اشتبه عليه حكمهما من الائمة فصنف ورقات في استحبابهما فانه غالط في ذلك وقد صنف الشيخ الامام أبو محمد عبد الرحمن بن اسمعيل المقدسي كتابا نفيسا في ابطالهما فاحسن فيه وأجاد رحمه الله

 “(10) Shalat yang dikenal dengan Shalat Ar-Ragha’ib – dan ia sebanyak dua belas Raka’at yang dilaksanakan di antara Maghrib dan Isya’ pada malam jumat pertama di bulan rajab, dan shalat malam Nishfu Sya’ban sebanyak seratus Raka’at, Kedua shalat ini adalah Bid’ah dan merupakan kemungkaran yang buruk, dan janganlah seorang menjadi tertipu daya dengan penyebutan kedua shalat itu dalam kitab Qutul Qulub dan Ihya’ Ulumuddin, dan jangan ia tertipu daya dengan hadits yang menyebutkan tentang keduanya karena semua itu batil, dan janganlah ia tertipu daya dengan sebagian ulama yang mengalami kerancuan terhadap hukum kedua shalat tersebut dari kalangan para Imam sehingga mereka menyusun tulisan tulisan kecil atas kesunnahannya, sungguh ia adalah orang keliru dalam hal itu, dan Syaikh Al-Imam Abu Muhammad Abdurrahman bin Isma’il Al-Maqdisi telah menyusun sebuah kitab yang begitu berharga dalam membantah kesunnahannya (kedua shalat itu) dan beliau menyusun kitab itu dengan begitu baik dan bagus, Rahimahullah.” [Al-Majmu’ Syarhul Muhadzzab 3/379 Cet. Dar Ehiya Al-Tourath Al-Arabi 1422 H – 2001 M.]

Beliau juga mengkritik keras kegiatan orang-orang pada zamannya yang memeriahkan malam Nishfu Sya’ban dengan cara tertentu yang dinilainya sebagai perbuatan buruk, beliau berkata :

الثامنة عشرة.  من البدع المنكرة ما يفعل في كثير من البلدان من ايقاد القناديل الكثيرة العظيمة السرف في ليال معروفة من السنة كليلة نصف شعبان فيحصل بسبب ذلك مفاسد كثيرة منها مضاهات المجوس في الاعتناء بالنار والاكثار منها ومنها اضاعة المال في غير وجهه

“(18) Termasuk Bid’ah yang Munkar apa yang telah diperbuat di banyak negeri seperti menyalakan Qanadil (lentera api yang mempunyai sumbu) yang begitu banyak , besar nan berlebihan pada malam-malam tertentu di setiap tahun seperti malam Nishfu Sya’ban, maka karena sebab itulah terjadilah kerusakan (agama) yang banyak, di antaranya seperti : penyerupaan terhadap Majusi dalam hal memiliki perhatian yang kuat dengan api dan memperbanyaknya, dan seperti menyia-nyiakan harta tidak pada tempatnya.” [Al-Majmu’ Syarhul Muhadzzab 2/142 Cet. Dar Ehiya Al-Tourath Al-Arabi 1422 H – 2001 M.]

Musa Abu ‘Affaf, BA.