Tutuplah Hidup Ini Dengan Happy Ending

Gambaran fase kehidupan manusia dalam menjalani Agamanya setidaknya seperti yang disebutkan dalam hadits (Dla’if) ini,  Dari Abu Sa’id Al-Khury Radliyallahu ‘Anhu dari Nabi ﷺ Beliau bersabda;

بنو آدم على طبقات شتى منهم من يولد مؤمنا ويحيى مؤمنا ويموت مؤمنا ومنهم من يولد كافرا ويحيى كافرا ويموت كافرا ومنهم من يولد مؤمنا ويحيى مؤمنا ويموت كافرا ومنهم من يولد كافرا ويحيى كافرا ويموت مؤمنا

“Anak Adam berada di atas level-level yang berbeda-beda, di antara mereka ada yang dilahirkan dalam keadaan beriman, dan hidup dalam keadaa beriman, dan wafat dalam keadaan beriman, dan di antara mereka ada yang dilahirkan dalam keadaan kafir, dan hidup dalam keadaan kafir, dan mati dalam keadaan kafir, dan dari mereka ada yang dilahirkan dalam keadaan beriman, dan hidup dalam keadaan beriman, dan mati dalam keadaa kafir, dan dari mereka ada yang dilahirkan dalam keadaan kafir dan hidup dalam keadaan kafir, dan mati dalam keadaan beriman.” (Hadits riwayat Attirmidzi, dan Al-Albany menilainya Dla’if alias lemah dalam Silsilah Ahadits Al-Dla’ifah No. 2927).

Dan akhir dari semua alur fase tersebut adalah yang paling krusial, paling penting, dan paling segala-segalanya, ia membuat semua keadaan sebelumnya bagai tak bernilai, dari itu dalam hadits Nabi ﷺ bersabda; “sesungguhnya semua amal perbuatan seseorang bergantung dengan penutupnya”,

Dan begini bunyi selengkapnya;

إن العبد ليعمل فيما يرى الناس عمل أهل الجنة وإنه لمن أهل النار ويعمل فيما يرى الناس عمل أهل النار وهو من أهل الجنة وإنما الأعمال بخواتيمها

“Sesungguhnya seorang hamba ada yang beramal dengan amal penghuni surga dalam pandangan manusia namun sebenarnya ia tergolong dalam penghuni neraka, dan (ada hamba) beramal dengan amal penghuni neraka dalam pandangan manusia, namun ia tergolong dalam penghuni surga, dan sesungguhnya semua amal perbuatan seseorang bergantung dengan penutupnya.” (Hadits riwayat Al-Bukhari).

Gambaran lainnya adalah perubahan amal perbuatan manusia dari satu fase keadaan ke fase lainnya, dan ini tidak lepas dari yang disebutkan dalam hadits, Dari Anas bin Malik Radliyallahu ‘Anhu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda;

لا عليكم أن لا تعجبوا بأحد، حتى تنظروا بم يختم له، فإن العامل يعمل زمانا من عمره، أو برهة من دهره، بعمل صالح، لو مات عليه دخل الجنة، ثم يتحول فيعمل عملا سيئا، وإن العبد ليعمل البرهة من دهره بعمل سيئ، لو مات عليه دخل النار، ثم يتحول فيعمل عملا صالحا، وإذا أراد الله بعبد خيرا استعمله قبل موته “، قالوا: يا رسول الله وكيف يستعمله؟ قال ” يوفقه لعمل صالح، ثم يقبضه عليه

“Tidak ada (kesalahan) atas kalian ketika kalian tidak merasa takjub dengan seseorang sampai kalian melihat dengan apa diri orang itu ditutup,

Sesungguhnya ada orang yang beramal dimana ia beramal pada satu masa dalam umurnya, atau beberapa saat dalam waktunya dengan amal yang saleh, jika ia mati di atasnya ia akan masuk surga, (namun) lalu kemudian ia menjadi beralih sehingga jadilah ia melakukan perbuatan yang buruk,

Dan sesengguhnya ada seorang hamba ia beramal dalam satu waktu dari waktunya dengan amal perbuatan yang buruk, jika ia mati di atasnya ia masuk neraka, kemudian setelah itu ia beralih sehingga ia pun berbuat dengan amal saleh,

dan jika Allah menghendaki hambanya kebaikan Dia akan menggunakannya sebelum kematiannya, para shahabat nabi bertanya; Wahai Rasulallah bagaimana Dia akan menggunakannya? Nabi ﷺ  bersabda; “Dia akan menuntunnya kepada beramal saleh kemudian Dia mencabut (nyawanya) di atas itu.” (Hadits Shahih Riwayat Ahmad).

Lagi-lagi kita disadarkan akan begitu pentingnya sebuah fase akhir amal perbuatan, dari itu tak berlebih jika kami katakan: “Mati dalam keadaan apa? Bukan hidup dengan cara apa,” dalam artian bahwa amal saleh ditengah umur tidak akan berguna jika seorang kemudian mati dalam keadaan kafir, – Nau’dzubillah mindzalik -. Karena tentunya cara hidup yang wajib dijalani seorang manusia adalah di atas ketaatan kepada Allah dan Rasulnya, itu saja dan tidak ada pilihan lain.

Bahasan Husnulkhatimah sendiri pada dasarnya sebagai motivasi agar seorang semakin giat beribadah dan agar selalu tegar di atas Agama Allah sampai ajal menjemput dirinya. Bukan sebagai dalih untuk bisa berlepas diri dari beramal saleh. karena fase akhir seorang manusia tidak dapat dipisahkan dari amal perbuatannya, Nabi ﷺ bersabda;

اعملوا فكل ميسر أما أهل السعادة فييسرون لعمل أهل السعادة وأما أهل الشقاوة فييسرون لعمل أهل الشقاوة

“Beramallah kalian, maka semua manusia itu bebas (memilih jalan), adapun orang yang beruntung maka mereka akan menempuh amalan ahli keberuntungan, dan adapun orang yang merugi, maka ia akan menempuh amalan orang-orang yang malang.” (Shahih Muslim)

Fase akhir seseorang kadang adalah buntut lama dari kebiasaan seorang dalam menempuh hidup, Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata;

من عاش على شيء مات عليه

“Siapa yang hidup di atas sesuatu ia mati di atasnya”. (Tafsir Ibnu Kastir 2/87)

Semoga Allah memberikan kita taufiq kepada taat kepadaNya sepanjang hayat kita, sampai ajal menjemput kita, sehingga kita termasuk hamba yang mati dalam Husnulkhatimah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.