Titik Temu Atas Bid’ahnya Jabat Tangan Selepas Salat

Masalah salaman selepas salat berjamaah meskipun terdapat perbedaan pandangan ulama atas hukumnya namun ucapan mereka seolah mengarah kepada satu kesepakatan bersama, bahwa salaman setelah salat berjamaah dalam bentuk seperti itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi ﷺ dan para sahabatnya, dari itu ulama yang membolehkannya pun menekankan bahwa perkara tersebut memang bid’ah walau pun mereka pada satu sisi menilainya sebagai bid’ah yag bersifat Mubah, bukan bid’ah yang bersifat tercela.

Misalnya adalah fatwa Imam Al-Nawawi rahimahullah berikut ini;

واعلم أن هذه المصافحة مستحبة عند كل لقاء ، وأما ما اعتاده الناس من المصافحة بعد صلاتي الصبح والعصر ، فلا أصل له في الشرع على هذا الوجه ، ولكن لا بأس به ، فإن أصل المصافحة سنة ، وكونهم حافظوا عليها في بعض الأحوال ، وفرطوا فيها في كثير من الأحوال أو أكثرها ، لا يخرج ذلك البعض عن كونه من المصافحة التي ورد الشرع بأصلها

وقد ذكر الشيخ الإمام أبو محمد عبد السلام رحمه الله في كتابه ” القواعد ” أن البدع على خمسة أقسام : واجبة ، ومحرمة ، ومكروهة ، ومستحبة ، ومباحة

قال : ومن أمثلة البدع المباحة : المصافحة عقب الصبح والعصر ، والله أعلم

“Ketahuilah, sesungguhnya berjabat tangan ini Mustahabbah (disukai dalam syariat) pada setiap kali berjumpa, dan adapun apa yang telah dijadikan kebiasaan oleh orang-orang yakni berjabat tangan setelah salat subuh dan asar, maka tidak ada asalnya dalam syari’at atas bentuk yang seperti ini, akan tetapi tidak mengapa dengannya, karena sebenarnya asal usul dari berjabat tangan itu sendiri adalah Sunnah. Dan perihal mereka menjaga sunnah ii pada sebagian keadaan, dan mereka teledor di dalamnya pada banyak kesempatan atau lebih, tidaklah dapat yang sebagian tersebut mengeluarkannya dari perihal sebagai jabat tangan yang di mana syariat telah datang beserta dalilnya.

As-Syaikh, Imam Abu Muhammad Abdussalam rahimahullah telah menyebutkan dalam kitab Al-Qawaid miliknya bahwa bid’ah itu di atas lima bagian, wajib, haram, makruh, mustahab, dan mubah. Dan beliau menyebutkan; “dan permisalan dari bid’ah yang mubah adalah berjabat tangan selepas salat subuh dan asar. Wallahu A’lam. (Al-Adzkar 266)

Dalam fatwa ini disebutkan dengan jelas bahwa jabat tangan dalam bentuk yang seperti ini, yaitu jabat tangan selepas salat tidak ada asal usulnya, yang ada hanyalah syariat jabat tangan secara umum, maka ini menunjukkan bahwa memang berjabat tangan selepas salat tidak pernah dicontohkan Nabi ﷺ  dan juga para sahabatnya, dari itulah kemudian Imam Al-izz ibnu Abdissalam menjadikannya sebagai contoh dari perkara bid’ah, meskipun kemudian beliau anggap sebagai bid’ah yang mubah.

Ini menujukkan – sekali lagi – satu hal yang sebelumnya kami nyatakan, bahwa berjabat tangan selepas salat disepakati tidak pernah dilakukan Nabi ﷺ dan para sahabatnya.

Dari itu syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah ketika ditanya masalah ini beliau berkata;

الحمد لله ، المصافحة عقيب الصلاة ليست مسنونة بل هي بدعة

“Alhamdulillah, berjabat tangan selepas salat bukanlah perkara yang disunnahkan akan tetapi dia adalah bid’ah (sesat).” (Majmu’ Al-Fatawa 23/339)

Inilah titik temu yang harus diakui dengan lapang dada, bahwa berjabat tangan dalam bentuk pelaksanaan selepas salat adalah perkara bid’ah, setelah itu urusan apakah dia mubah atau tercela akan mudah dibicarakan. 

Dan sebaik-baik teladan yang harus kita ikuti dan anut dalam mengamalkan Agama kita adalah dengan mengikuti Manhaj atau cara generasi terdahulu ummat ini, ketika kita telah akui bahwa berjabat tangan selepas salat tidak pernah diamalkan oleh generasi salaf, maka hendaknya kita mengikuti mereka dalam hal itu, sehingga nilai Ittiba’ (kemanutan) kita menjadi sempurna.

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Mas’ud Radliyallahu ‘Anhuma pernah berkata:

 اتبعوا ، ولا تبتدعوا , فقد كفيتم

“Ikutilah (Sunnah) dan jangan kalian membuat bid’ah maka sebenarnya itu telah cukup untuk kalian.” (Musnad Addarimy No.211)

Terlebih, berjabat tangan selepas salat di hari ini sudah benar-benar berkembang, yang sebelumnya hanya salaman selepas salat satu dengan yang lainnya, namun sekarang menjadi ritual tersendiri, dimana semua jamaah berdiri dengan formasi melingkar untuk saling berjabat tangan, dengan diiringi suara bacaan salawat yang dikeraskan, sehingga mengganggu salat sebagian jamaah di masjid setempat, yang seandainya Imam Annawawy dan Izz ibnu Abdiisalam menyaksikannya di hari ini, sudah barang tentu beliau berdua akan mengingkarinya, disebabkan penyelisihan terhadap sunnah yang ada di dalamnya. Wallahua’lam.

Musa Abu ‘Affaf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.