Hukum Tinju, MMA, Dan UFC

 

Pertandingan tinju tidak boleh karena resiko bahaya yang dapat menimpa kedua orang yang bertanding, atau salah satu dari keduanya, karena pertandingan ini antara satu petinju dengan yang lain berusaha keras agar dapat menghantam lawannya dengan kepalan tangan, sehingga sering terjadi pendarahan di wajah dan terluka, bahkan ada yang menjadi pingsan bahkan meninggal dunia akibat hantaman di pentas tinju.

Sedangkan Allah ‘Azza Wajalla telah berfirman:

ولا تلقوا بأيديكم إلى التهلكة

“Dan janganlah kalian mencampakkan diri kalian dengan tangan-tangan kalian kepada kehancuran”, (QS: al-Baqarah 191)

Allah juga berfirman:

ولا تقتلوا أنفسكم إن الله كان بكم رحيما

“Dan janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri, sesungguhnya Allah menyayangi kalian”.(QS: Annisa’ 29)

Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

لا ضرر ولا ضرار

“Tidak ada Dlarar dan tidak ada Dlirar“.

(Hadits riwayat Malik dalam al-Muwathha’ (2/745) dari Yahya al-Muzaniy secara Mursal dalam kitab Al-aqdliyah Bab Al-Qadla’ Filmarafiq.)

Dan yang menunjukkan secara jelas akan haramnya Mulakamah (tinju) adalah hadits yang berbunyi:

إذا ضرب أحدكم فليجتنب الوجه

“Apabila seorang di antara kalian memukul, maka hindarilah wajah”. (Bukhari-Muslim)

Sementara permainan olahraga ini intinya adalah pukulan ke wajah.

Pembahasan masalah ini dapat ditelaah dengan merujuk ke kitab Mughnilmuhtaj (4/311) dan fatwa Syaikh Muhammad bin Ibrahim (8/132), dan fatwa dari Lajnah Adda’imah dengan No. 3685 tanggal (7/6/1401) menetapkan atas keharamannya.[1]

Dengan memperhatikan dalil dan sebab-sebab diharamkannya Mulakamah yakni karena menimbulkan mudarat kepada pemain, dan larangan memukul wajah, maka permainan lainnya seperti MMA dan UFC termasuk ke dalam hukum tinju atau Mulakamah, bahkan olahraga tersebut lebih mengerikan sebab bukan hanya tangan yang boleh memukul wajah, memukul dengan siku, lutut, bahkan dengan tendangan ke arah wajah dibolehkan.

Musa Abu ‘Affaf, B.A.


[1] Dinukil dari fatwa Syaikh Sa’d bin Nashir al-Syatsri dalam kitab beliau al-Musabaqat Wa Ahkamuha Fisy-Syari’atil Islamiyyah (1/171 )dengan beberapa penyesuaian bahasa.

Comments

comments