Tilawah dengan Suara Jelas Atau Samar?

Teduh. Or. Id – Mengeraskan suara ketika membaca al-Qur’an diluar Shalat pada dasarnya boleh, namun ketika suara tilawah tersebut menimbulkan dampak gangguan terhadap orang lain maka ketika itu hukumnya menjadi berbeda. Dalam sebuah hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

إنه ليس من مصل إلا وهو يناجي ربه فلا يجهر بعضكم على بعض بالقرآن

 “Sesungguhnya tidaklah ada dari seorang yang Shalat kecuali ia tengah bermunajat kepada Rabbnya maka janganlah sebagian dari kalian mengeraskan suara atas sebagian lainnya dalam membaca al-Qur’an.”

  • Hadits ini dikeluarkan oleh Imam an-Nasa’i dalam as-Sunanul Kubra dan bisa dilihat Takhrijnya dalam Silsilah al-Ahaditsuh Shahihah/ Hal.1187/ 7 bagian ke 2.

Imam an-Nawawy Rahimahullah pernah diajukan kepadanya pertanyaan seperti berikut ini :

“Membaca al-Qur’an di luar Shalat, apakah yang lebih Afdhal (utama) dengan suara Jahr (suara yang dapat didengarkan oleh orang lain) ataukah dengan suara yang Sirr (suara samar yang tidak dapat didengar oleh orang lain) dan manakah yang lebih Afdhal (utama) untuk shalat Tahajjud di malam hari ?”

Beliau menjawab :

“Suara Jahr dalam tilawah diluar Shalat lebih utama daripada suara yang samar, kecuali dengan suara keras tersebut akan mengakibatkan kerusakan seperti Riya’ dan I’Jab (merasa kagum dengan diri sendiri) dan menganggu orang lain yang tengah Shalat, atau orang yang sakit, orang yang tidur, atau orang yang ada halangan (‘Udzur), atau pun baik sekelompok orang yang sedang sibuk dengan amalan ketaatan atau amalan yang bersifat Mubah.

Dan adapun bacaan dalam shalat Tahajjud maka yang lebih utama padanya adalah suara yang pertengahan, antara Jahr dan Sirr, dan inilah (pendapat) yang paling benar, dan disebutkan bahwa dengan suara Jahr lebih utama dengan syarat-syarat yang telah disebutkan.” [1]

Dari sini kiranya kita dapat mengambil pesan adab yang sangat tinggi dalam Islam, bahwa perbuatan baik dan mulia apabila dapat menimbulkan gangguan terhadap kenyamanan orang beriman lainnya maka tetap tidak diperkenankan, lalu bagaimana jika perbuatan yang tidak baik dan memang ditujukan untuk mengganggu orang lain? Maka tentunya sangat lebih tidak diperkenankan.

————————————————–

[1] Fatawa al-Imam an-Nawawy atau yang disebut dengan al-Masa’ilul Mantsurah yang disusun oleh murid Imam an-Nawawy yang bernama ‘Alauddiin bin al-‘Athhar. 1/ 45-46/ Cet. Darul Basyair al-Islamiyyah yang ke-6 tahun 1417 H.-1996 M. Bairut Libanon. Versi Pdf.