Tiga Perkara Penting di Bulan Sya’ban

Teduh.Or.Id – Sebelum bulan Ramadhan tiba menyongsong kita, ada baiknya kita mengulang kembali dan menyegarkan lagi ingatan-ingatan bernuansa ilmu yang terkait dengan kebutuhan kita sebagai orang yang beriman selama di bulan Sya’ban sehingga dapat kiranya menjadi awal yang baik untuk menyongsong bulan yang terbaik. berikut ada tiga point yang penulis berhasil ikat dalam waktu yang singkat. semoga bermanfaat.

  1. Puasa Di Bulan Sya’ban

Sebelum Ramadhan menjelang, bulan Sya’ban sejatinya adalah bulan persiapan diri dan jiwa. Mengisinya dengan puasa Sunnah adalah salah satu tuntunan mulia dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

عن أسامة بن زيد  قال : قلت : يا رسول الله ، لم أرك تصوم من شهر من الشهور ما تصوم من شعبان ، قال : ذلك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان ، وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين ، فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم.

 “Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah ditanya oleh Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘Anhu ; ‘Ya Rasulallah, belum pernah sebelumnya saya melihat junjungan berpuasa pada satu bulan dari sekian bulan yang ada sebagaimana halnya junjungan berpuasa pada bulan Sya’ban?, Beliau kemudian bersabda; ‘Bulan tersebut yang terletak di antara Rajab dan Ramadhan orang-orang lalai di dalamnya, sedangkan dia adalah bulan (masa) diangkatnya amal-amal kehadirat (Allah) Rabbul ‘Alamin, maka aku suka amalanku diangkat dalam keadaan aku sedang puasa.’” (HR: Ahmad dan an-Nasai)

Hadits ini menunjukkan bulan Sya’ban sebagai masa atau waktu diangkatnya amalan-amalan manusia. Selain itu, bulan Sya’ban juga digambarkan sebagai satu waktu di mana manusia lalai beribadah di dalamnya, dan ini adalah peringatan tegas dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada ummatnya, agar tidak terjatuh dalam kelalaian khususnya pada bulan Sya’ban.

Hadits ini juga menunjukkan jenis ibadah atau amalan yang semestinya diperbanyak pada bulan Sya’ban, yaitu berpuasa. Akan tetapi hal ini tidak menafikan ibadah lainnya untuk diperbanyak, sebab yang menjadi fokus dalam hadits tersebut adalah wujud bulan Sya’ban sebagai terminal diangkatnya amal-amal, yang secara tidak langsung memberikan isyarat untuk memperbanyak amal ibadah di dalamnya secara umum. Tentu betapa rugi rasanya jika seorang tidak memiliki amal untuk diangkat pada kesempatan amal-amal manusia diangkat.

Berpuasa pada bulan Sya’ban disepakati oleh para Ulama jika dilakukan pada bagian awal bulan, yaitu Lima Belas hari awal bulan Sya’ban. Adapun setengah bagian kedua terdapat perbedaan pendapat Ulama atas hukumnya, antara pendapat yang tetap memandangnya boleh dan lainnya menilai tidak boleh berdasarkan hadits Nabi yang melarang berpuasa di setengah bulan bagian kedua.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah ketika ditanya tetang masalah ini, beliau menjawab; bahwa larangan puasa apabila telah sampai pertengahan Sya’ban maksudnya ialah mulai berpuasa pada saat itu setelah sebelumnya dia tidak pernah berpuasa. namun siapa saja yang berpuasa dari awal bulan Sya’ban, maka larangan tersebut tidak berlaku atasnya. (fatwa Syaikh bin Baz Versi Bahasa Arab)

  1.  Mengganti Puasa Bagi Yang Berhutang

Point ini erat hubungannya dengan kaum Hawa. Mereka yang belum selesai atau belum sempat menyempurnakan hutang puasa pada tahun sebelumnya, dianjurkan agar segera melunasinya sebelum Puasa Ramadhan berikutnya menjelang.

Adalah waktu yang tepat sesungguhnya, bila seorang Muslimah memanfaatkan bulan Sya’ban menjadi kesempatan terakhir untuk melunasi hutang puasa mereka. Jika memang ternyata pada waktu sebelumnya mereka tidak sempat untuk itu. Ini sesuai dengan apa yang telah dicontohkan Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha :

 كان يكون على الصوم من رمضان فما أستطيع أن أقضيه إلا في شعبان الشغل من رسول الله صلى الله عليه و سلم أو برسول الله صلى الله عليه و سلم

“Aku pernah ada kewajiban puasa Ramadhan dan aku tidak bisa menggantinya kecuali pada bulan Sya’ban, (itu karena) kesibukan dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.” (HR : Muslim)

 Kesibukan Ummul Mukminin Radhiyallahu ‘Anha dalam hadits di atas maksudnya adalah kesibukan yang terkait dengan hak-hak beliau sebagai seorag Istri, dan terlebih suami beliau sendiri adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

  1. Lapang Dada Untuk Sesama Muslim

Berlapang dada dan menghapus segala sesak hati terhadap sesama muslim adalah anjuran yang memiliki keutamaan. Dan hal sebaliknya, yaitu permusuhan dan dendam kesumat adalah penyakit hati yang tidak dibenarkan. Terlebih jika rasa itu masih kokoh tersimpan sampai pada pertengahan bulan Sya’ban. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

 يطلع الله تبارك و تعالى إلى خلقه ليلة النصف من شعبان ، فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

“Allah Tabaraka Wa Ta’ala menilik kepada makhluknya pada malam pertengahan bulan Sya’ban, Allah mengampunkan untuk semua makhluknya (pada malam itu) kecuali orang yang Musyrik atau orang yang saling bermusuhan.” (HR: Ahmad dan Ibnu Majah dan di Shahihkan Syaikh Al-Albaniy Rahimahullah. Lihat Silsilah ash-Shahihah No. Hadits 1144. jil.3 Hal. 208 Versi Maktabah Syamilah)

 Lihat saja ! Allah telah mengecualikan orang orang Musyrik dan orang yang saling bermusuhan pada malam semua makhluk Allah berikan ampunan atas makhluknya.

Maka mempersiapkan hati yang damai, hati yang lapang setiap saat adalah satu kesempatan yang jitu untuk mengusahakannya di bulan Sya’ban dan Ramadhan, ini sesuai dengan dalil-dalil umum yang melarang kaum muslimin dalam hal saling memutuskan hubungan, saling membenci, dan saling membalikkan punggung.

Namun disitu ada satu ucapan yang sering dimunculkan setiap kali Ramadhan menjelang oleh para penceramah atau pun oleh Netizen Haluan Ngaji :

 أن ابن مسعود سئل كيف كنتم تستقبلون رمضان قال ما كان أحدنا يجرؤ أن يستقبل الهلال وفي قلبه مثقال ذرة من حقد على أخيه

“Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu pernah ditanya, bagaimana kalian (para Shahabat) menyambut Ramadhan? Beliau menjawab : “Tidak seorang pun dari kami berani menyambut Hilal (Ramadhan) sementara di dalam hatiya ada seberat Dzarrah dari rasa benci atas saudaranya.”

Riwayat ini tidak memiliki dasar periwayatan yang jelas ,dan bahkan merupakan satu bentuk pengatas nama-an terhadap Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhuma. Sebab riwayat ini tidak ditemukan keberadaannya dalam kitab-kitab hadits Ahlussunnah.