Tiga Hal Penting Tentang Santap Sahur

Ada beberapa hal penting terkait sahur yang telah dijelaskan dalam Hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, semoga dengan mengetahuinya dapat memupuk keimanan kita – Insyallah – terhadap Syari’at Islam yang penuh Rahmat ini.

  1. Sahur Perintah Nabi

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

  تسحروا فإن في السحور بركة

“Bersahurlah kalian, maka sesungguhnya dalam Sahur ada keberkahan”. (Muttafaq ‘Alaih dari Anas bin Malik Radliyallahu ‘Anhu)

Dan perintah di sini maksudnya perintah Sunnah, bukan perintah yang bersifat kewajiban, demikian menurut Ijma’ ulama, Imam Ibnul Mundzir rahimahullah berkata :

وأجمعوا على أن السحور مندوب إليه

“Dan para ulama telah ber-ijma’ atas bahwa sesungguhnya santap sahur Mandub (Sunnah tidak wajib)” (Ibnul Mundzir. Al-Ijma’. 1/48.)

Walau pun Mandub, namun tentu bukan maksudnya untuk ditinggalkan, namun agar berusaha kita laksanakan.

  1. Pembeda Puasa Kaum Muslimin Dengan Ahli Kitab

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

فصل ما بين صيامنا وصيام أهل الكتاب أكلة السحر

“Yang membedakan antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab adalah makan sahar”. (Hadits Riwayat Muslim, Abu Dawud, Attirmidziy, dan Annasa’i)

Imam Annawaiy Rahimahullah menerangkan hadits ini:

معناه الفارق والمميز بين صيامنا وصيامهم السحور فإنهم لا يتسحرون ونحن يستحب لنا السحور

Maknanya, (sahur) itu yang menjadi pembeda dan keistimewaan antara puasa kita dan puasa mereka adalah sahur, karena mereka sesungguhnya tidak sahur sedangkan kita, disunnahkan untuk kita sahur.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Hajjaj 7-8/207/Darul-Makrifah.)

  1. Mengakhirkan Waktu Sahur

Para ulama menjelaskan bahwa diantara kebaikan yang dianjurkan adalah mengakhirkan makan sahur, dan adapun ukuran waktu yang tersisa antara setelah sahur sampai Iqamah shalat subuh adalah seukuran waktu membaca lima puluh Ayat dengan bacaan yang tidak pelan dan tidak cepat,  Ini sebagaimana diriwayatkan dari Anas bin Malik Radliyallahu ‘Anhu bahwa Qatadah bertanya kepada beliau :

كم كان بين فراغهما من سحورهما ودخولهما في الصلاة قال كقدر ما يقرأ الرجل خمسين آية

“Berapakah rentang waktu antara mereka berdua selesai makan sahur dengan masuknya mereka berdua ke dalam shalat, beliau – Anas bin Malik – berkata : “Sepanjang lima puluh Ayat seorang lelaki membaca Al-Qur’an”. (HR. Bukhari. 1134/Kitabul Jum’ah/Bab.  من تسحر فلم ينم حتى صلى الصبح)

Riwayat ini menegaskan bahwa perhitungan lima puluh Ayat tersebut terhitung setelah makan sahur, bukan dari awal makan sahur.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah dalam penjelasannya atas judul Bab yang didatangkan Imam Bukhariy rahimahullah, yaitu : باب قدركم بين السحور وصلاة الفجر  yang artinya : Bab. Ukuran waktu antara sahur dan shalat fajar

Al-Hafizh menjelaskan dengan menukil ucapan Al-‘Allamah Azzain bin Al-Munir, berkata:

    أي انتهاء السحور وابتداء الصلاة لأن المراد تقدير الزمان الذي ترك فيه الأكل والمراد بفعل الصلاة أول الشروع فيها

Yaitu berakhirnya santap sahur dan permulaan shalat, karena yang dikehendaki dengan perkiraan waktu adalah waktu ketika makan telah ditinggalkan, dan yang dimaksdukan dengan perbuatan shalat adalah awal permulaannya”. (Fathulbariy 5/267/Dar Thayyibah).

Semoga bermanfaat.

Musa Abu ‘Affaf, BA.

Comments

comments