The Last Gay

Beberapa orang tamu yang datang kepada Nabi Luth ‘Alaihissalam pada detik detik akhir penghancuran kaumnya, adalah malaikat yang menjelma sebagai sosok pemuda yang berparas sangat tampan, hal ini dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya [Surat Hud – 77.]  Allah utus malaikat tersebut sebagai ujian terakhir, sebelum keesokan harinya mereka dibinasakan.

Melihatnya, kaum Nabi Luth ‘Alaihissalam – yang sudah dari sebelumnya adalah pembangkang dan melakukan maksiat dengan menyukai sesama jenis – bergegas menuju ke Nabi Luth, mereka bagai tidak sabar ingin melihat tamu yang tampan itu.

Sampai detik itu, Nabi Luth ‘Alaihissalam masih terus menasehati mereka, namun nasehat itu mereka abaikan, dan dengan tanpa ragu dan rasa malu, mereka mengatakan tidak memiliki gairah terhadap perempuan.

Mereka terus berusaha masuk, merensek ke rumah Nabi Luth, seolah setan dan birahi busuk telah menguasai darah mereka, mereka memaksa bertemu tamu tamu Nabi Luth Alaihissalam.

Sampai akhirnya datanglah Jibril menghalau mereka mundur, dan memukul wajah mereka, menusuk mata mereka dengan sayapnya. Seketika itu juga mereka menjadi buta. Hal ini Allah sebutkan dalam Al-Qur’an :

وَلَقَدْ رَاوَدُوهُ عَنْ ضَيْفِهِ فَطَمَسْنَا أَعْيُنَهُمْ فَذُوقُوا عَذَابِي وَنُذُرِ وَلَقَدْ صَبَّحَهُمْ بُكْرَةً عَذَابٌ مُسْتَقِرٌّ فَذُوقُوا عَذَابِي وَنُذُرِ [القمر:37 -39

 Artinya: “Dan Sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamnuya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka, Maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. dan Sesungguhnya pada esok harinya mereka ditimpa azab yang kekal. Maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku.” [Qs: Al-Qamar 37 – 39]

Betapa mengerikannya nafsu birahi yang salah arah dan salah sasaran, bunga yang begitu bersih dan indah tak mereka hiraukan, namun malah menyukai sesuatu yang sangat menjijikkan, maka tepatlah jika perumpamaan mereka bagaikan lalat penyuka tinja.

Kisah tamu terakhir Nabi Luth ‘Alaihissalam ini diabadikan dalam Al-Qur’an agar manusia berpikir dan tidak mengikuti jejak kaum tersebut, Allah berfirman:

   وَلَمَّا جَاءَتْ رُسُلُنَا لُوطًا سِيءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَقَالَ هَذَا يَوْمٌ عَصِيبٌ (77) وَجَاءَهُ قَوْمُهُ يُهْرَعُونَ إِلَيْهِ وَمِنْ قَبْلُ كَانُوا يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ قَالَ يَا قَوْمِ هَؤُلَاءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطْهَرُ لَكُمْ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَلَا تُخْزُونِ فِي ضَيْفِي أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ (78) قَالُوا لَقَدْ عَلِمْتَ مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنْ حَقٍّ وَإِنَّكَ لَتَعْلَمُ مَا نُرِيدُ

Artinya: “Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, Dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan Dia berkata: “Ini adalah hari yang Amat sulit”

“Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji, Luth berkata: “Hai kaumku, Inilah puteri-puteriku, (perempuan-perempuan dari kaum Nabi Luth) mereka lebih suci bagimu, Maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. tidak Adakah di antaramu seorang yang berakal?”

“Mereka menjawab: “Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa Kami tidak mempunyai keinginan terhadap puteri-puterimu; (Para wanita dari kaum Nabi Luth) dan Sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya Kami kehendaki.” (QS: Hud 77 -79)

Rupanya, tamu-tamu tampan itu datang kepada Nabi Luth ‘Alaihissalam untuk menyampaikan pesan penting, bahwa esok menjelang subuh tiba, Allah akan menimpakan siksa atas mereka, dan mereka bermaksud memberitakan itu kepada Nabi Luth agar segera meninggalkan rumahnya.

Rupanya malam itu adalah malam terakhir kaum Shadum (Sodom) untuk bertaubat, Allah berikan mereka ujian terakhir dengan menghadirkan malaikat malaikat dalam jelmaan pria-pria tampan, namun mereka tidak berubah. Dan pada akhirnya saat subuh tiba, siksa itu pun datang.

Homoseksual tidak dikenal dalam sejarah manusia kecuali setelah munculnya kaum Nabi Luth ‘Alaihissalam yang melakukannya, Allah berfirman:

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ (80) إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ (81

Artinya: “Dan (kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (ingatlah) tatkala Dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?”

“Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.” [Qs: al-A’raf 80-81]

 Al-Walid bin ‘Abdil Malik, Sang Khalifah kerajaan Al-Umawy berkata: “Kalau bukan karena Allah ‘Azza Wajalla menceritakan kepada kita kabar Nabi Luth, aku tidak akan mengetahui ada lelaki menaiki (menyetubuhi) lelaki”.

 Abu ‘Affaf