Tetangga Masa Gitu

Teduh.Or.Id – Selama hidup, selama itu pulalah kita hidup berdampingan dengan orang-orang yang hidup membersamai kita. Dalam konteks keindonesiaan, tentu seseorang akan hidup bersama dengan orang lainnya, demikianlah yang dinamakan dengan makhluk sosial. Pun halnya dalam perkara bermasyarakat. Setiap orang hidup bersama dengan tetangganya.

Suka atau tidak suka, seberapa hebat pun pendidikan dalam rumah, bisa kebobolan karena faktor tetangga yang tak memiliki kesamaan konsep dalam mendidik anak. Tentu ini bisa sangat terasa apabila berada dalam kehidupan masyarakat modern yang bersifat heterogen. Sulit rasanya ditemukan di masyarakat desa yang sudah memiliki corak homogen, dimana satu keluarga dengan keluarga lain memiliki konsepsi hidup yang sama. Soal heterogenitas masyarakat kota, kita tentu dihadapi pada manajemen kepengasuhan anak yang tak mudah. Selain ditantang dengan lingkungan sosial sang anak baik itu di sekolah atau tempat bermain, tapi juga diajak untuk berduel melawan kendala media. Baik media massa, yang bersifat visual ataukah media digital seperti media sosial.

Bersama tetangga adalah bukan soal kalah dan menang, walaupun persepsi yang terbangun ialah bisa jadi malah adanya iri-irian, dan iri-irian ini bisa berawal dari terjangkitinya kaum wanita. –walau pun kaum pria juga tak lepas darinya-. Suka atau tidak suka, memang itu dunianya wanita. Rasanya jika wanita, khususnya para istri tidak memiliki rasa iri, para suami terkadang takkan termotivasi untuk mencari nafkah lebih hebat lagi.

Pun halnya dengan mendidik anak, tetangga bisa jadi ancaman, terlebih bagi keluarga muda. Keluarga yang masih memiliki keluarga inti lengkap apalagi masih terdapat anak berusia sekolah. Tetangga ialah media andal untuk menjadikan anak hebat melakukan studi komparatif atas orangtuanya sendiri. Seorang anak akan lebih jago apabila kebijakan orangtuanya dibenturkan dengan perlakuan orangtua temannya. Hal tersebut memusingkan tentunya bagi para orangtua, terlebih para orangtua muslim yang memiliki pola hidup nomaden (tidak menetap) alias suka pindah kontrakan dari satu daerah ke komplek lain. Banyak saudara, tapi juga banyak kesalnya.

Lantas, apa yang dapat kita lakukan dengan adanya perbedaan manajemen kepengasuhan anak antara diri kita yang katakanlah sudah kenal agama dengan tetangga yang agamanya masih ala kadarnya. Dalam hal ini, indikator paling memungkinkan mula-mula ialah agama. Kenapa agama yang diambil sebagai tolok ukur? Hal ini tak lain dan tak bukan untuk mendudukkan fitrah para anak yang dilahirkan dalam keadaan beragama mengikuti bagaimana beragama orangtuanya.

Soal urusan orangtuanya berpendidikan, pegawai tetap atau bukan, istrinya dua atau tiga, itu bukan soal yang jadi indikator utama, bagi kita pemeluk Islam dengan sebaik-baiknya pelukan ketaatan. Karena urusan-urusan tadi tidaklah bersifat mendasar dalam kepengasuhan anak. Akan tetapi jika mula-mula yang dibicarakan agama, maka kita telah mensinkronkan terhadap apa-apa yang disabdakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. “Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fithrah, maka kedua ibu-bapaknyalah yang akan menjadikannya seorang Yahudi atau seorang Nasrani atau seorang Majusi”.( HR. Bukhari Muslim).

Lantas bagaimana membangun stabilitas pengasuhan anak ditengah ragam tetangga yang berbeda satu dan lainnya? Setelah kita bicara soal agama sebagai sebuah indikator, maka selanjutnya ialah bangun komunikasi yang hangat dan baik dengan anggota keluarga kita terlebih dahulu. Tentang do dan don’ts untuk anak juga bagi diri kita sendiri, para orangtua. Membangun komunikasi yang efektif terhadap anak selain menguatkan jiwa si anak, tentu akan membentuk pola pikir dan kepribadian si anak dengan baik. Tanamkan budaya yang berlaku dalam keluarga kita. Dan bentuklah kehangatan diantara anggota keluarga dengan menempatkan fungsi peran serta hak dan kewajiban anggota keluarga dirumah. Semisal, adanya tugas orangtua serta kewajibannya. Adanya pula hak anak dan kewajibannya. Anak sebagai kakak, dan anak sebagai adik, sebagai anak pertama, atau sebagai anak terakhir.

Jika budaya telah terbentuk. Tugas orangtua memilihkan kebahagiaan bagi anak-anaknya. Apakah kebahagiaan tersebut? Tidak perlu repot mencarikan jenisnya. Cukuplah apa yang Rasulullah shalallahu wa sallam sabdakan soal bahagia yang sederhana itu yakni: “istri shalihah, tempat tinggal yang lapang, tetangga yang baik (akhlaknya), dan kendaraan yang nyaman….” (HR. Hakim dalam Al Mustadrak: 7306 dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahihul Jami’: 887).

Setelahnya adalah tetangga. Karena itulah objek bahasan yang kita kaji kali ini. Tak ada yang menafikan fungsi tetangga sebagai saudara yang bisa jadi mengalahkan fungsi saudara kandung kita sebenarnya. Sampai-sampai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jibril senantiasa menasehatiku tentang tetangga, hingga aku mengira bahwa tetangga itu akan mendapat bagian harta waris.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Mulianya tetangga tidak serta merta menjadikan kita tutup mata semisal ada keburukannya, dan tidak serta merta menjadikan kita menutup telinga dari kebaikan yang dimilikinya walaupun katakanlah jumlah itu tak banyak. Sebagaimana manusia lainnya, tentu tetangga juga memiliki kesalahan. Itulah mengapa kita memiliki akal dan perasaan yang menjadikan lisan sebagai juru perwakilannya. Bicarakanlah dengan baik, soal konsep pendidikan anak-anak kita terhadap tetangga. Tidak ada orang yang anaknya ingin menjadi buruk, salahnya pola pendidikan tetangga bisa jadi karena memang ia tidak memiliki ilmu dan kemampuan soal pengasuhan anak. Maka kita, yang telah memiliki ilmu taka da salahnya untuk bicara dari hati ke hati, dan bisa jadi sebagai wasilah dakwah soal bagaimana mendidik anak yang tepat dan diharapkan. Atau bisa jadi malah menjadi kabar baik bagi tetangga kita tersebut untuk terwarnai dengan konsep pendidikan yang kita punya.

Berikutnya ialah, tetaplah untuk terus menjaga anak kita. Menjaga anak-anak kita untuk tetap peduli dengan tetangga tersebut. Untuk terus menjalin silaturahmi dengan bentuk-bentuk yang baik. Dan ajarkan kepada anak kita hal-hal yang semestinya diambil dan diperbolehkan saat bermain dengan anak tetangga tersebut. Ajarkan yang mudah-mudah saja, dan jangan hardik atau bentak anak dimuka umum sebagai media mencemooh buruknya si tetangga. Apatah lagi dihadapan tetangga tersebut. Sebab setiap orang punya perasaan dan betapa sulitnya sebuah perasaan jika sudah tergoreskan.

Tabunglah sabar yang banyak saat menghadapi tetangga kita bila didalamnya terdapat keburukan yang berdampak pada anak. Sebab hal demikian telah menjadi ketentuan Allah dan memang kita dituntut untuk bersabar dalam hal tersebut. Bahkan tak salah pula jika kita mendoakan kebaikan untuk tetangga yang kita anggap buruk itu. Sekarang, semenjak hidup bertetangga, sudah berapa kali doa kita tujukan kepada tetangga kita disaat ada keburukan didalamnya? Bahkan disaat ada kebaikan dari tetangga bisa jadi kita lupa mendoakannya. Ingatlah sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Ada tiga golongan yang dicintai Allah: (salah satunya adalah) seseorang yang memiliki tetangga yang senantiasa menyakitinya, namun dia bersabar menghadapi gangguannya tersebut hingga kematian atau perpisahan memisahkan keduanya.” (HR. Ahmad dalam Shahihul Jami’: 3074).

Teruslah pupuk kebahagiaan kita dengan hal yang mudah. Jika membersamai keluarga adalah kebahagiaan tiada tara. Maka kesederhanaan sikap kita untuk tetangga juga harusnya adalah sebuah kesenangan bagi kita dan mereka. Sekalipun tetangga kita demikian adanya. Karena konsekuensi bersama belum tentu harus selalu sama dalam berbagai rona. Bersama justru mengisi satu sama lain, tentang apa yang ada untuk dilengkapi, apa yang keliru untuk dikoreksi, dan apa yang baik dipertahankan. Bermudah-mudahanlah dengan tetangga kita, sekalipun beda cara dalam mendidik buah hati. Jangan lupa jika memasak bagikan kuahnya kepada tetangga.