Tentang Saf Shalat Jamaah Berjarak Karena Covid-19

Bismillah

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على سيد المرسلين  أما بعد

Menutup kekosongan yang ada pada saf hukumnya antara wajib atau sunnah, namun jika saf itu dibiarkan saja kosong tidak diisi maka dalam madzhab al-Syafi’iyyah hukum shalat berjamaahnya sah namun makruh sehingga keutamaan shalat berjamaah tidak ia dapatkan.

Al-Ramliy al-Syafi’i rahimahullah berkata;

ويسن سد فرج الصفوف وأن لا يشرع في صف حتى يتم الأول وأن يفسح لمن يريده وجميع ذلك سنة لا شرط فلو خالفوا صحت صلاتهم مع الكراهة

“Dan disunnahkan menutup celah-celah kosong pada saf dan hendaknya jangan mulai membuat saf sampai saf yang pertama telah sempurna, dan memberikan kesempatan bagi siapa saja yang menginginkannya, dan semua itu adalah Sunnah, bukan Syarat, maka jika mereka menyelisihi (hal-hal tersebut) shalat mereka sah disertai dengan kemakruhan.” (Nihayatul Muhtaj Ma’a Hasyiyah asy-Syibramulsi Warrasyidiy  (2/195-196) Cet. Darul Kutub Ilmiyyah.)

Al-Syibramulsy, seorang ulama fiqh terkemuka dalam madzhab al-Syafi’iyyah menjelaskan bahwa kosekuensi makruh di sini adalah tidak mendapatkan keutamaan shalat berjamaah.

صحت صلاتهم مع الكراهة ومقتضى الكراهة فوات فضيلة الجماعة

“(Adapun perihal perkataannya) “shalatnya sah disertai kemakruhan”, dan akibat dari kemakruhan tersebut adalah luputnya keutamaan berjamaah.”

(Nihayatul Muhtaj Ma’a Hasyiyah asy-Syibramulsi Warrasyidiy  (2/196) Cet. Darul Kutub Ilmiyyah. Dan keterangan ini juga telah dinukil oleh Al-Faqih Abdulhamid al-Syarwaniy  dalam Hawasyi Tuhfatul Muhtaj 2/308-307)

Penjelasan ini – ingatlah – ditujukan pada kondisi normal shalat berjamaah, kondisi tidak ada halangan yang menghalangi untuk merapatkan saf, maka dihukumi shalatnya sah dengan bentuk saf seperti itu namun hukumnya Makruh, dan makruh di sini konsekuensinya adalah tidak mendapat keutamaan shalat berjamaah.

Lalu bagaimana jika dalam keadaan tidak normal alias darurat seperi takut tertular covid-19?

Maka shalatnya sah sebagai shalat berjamaah dan insyallah tetap mendapatkan keutamaan pahala berjamaah, karena suatu perintah jika tidak dapat dilaksanakan karena adanya kendala dan halangan maka perintah tersebut menjadi gugur,

Allah ‘Azza Wajalla berfirman ;

فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu” (Attaghabun : 16)

Nabi ﷺ pernah bersabda ;

وإذا أمرتكم بأمر فأتوا منه ما استطعتم

“Dan apabila aku perintahkan kalian dengan suatu perkara maka lakukanlah selama kalian mampu” (Hadit riwayat Al-Bukhariy).

Ayat dan Hadits ini adalah pondasi pijak bangunan kaedah fiqh yang telah dibangun para Ulama;

لا واجب مع العجز

“Tidak ada kewajiban (yang wajib dilakukan) dengan ketidak mampuan”.

Kaedah ini pun menyentuh masalah shalat jamaah dengan formasi saf berjarak 1 meter karena khawatir terpapar wabah coid19.

Bahkan alasan takut covid19 lebih besar dari pada sekedar tidak bisa bersaf karena tempat sudah penuh.

Penularan covid19 disepakati oleh para dokter adalah ancaman terhadap keselamatan jiwa manusia, sementara penuhnya tempat karena semua saf telah terisi hanya terkait dengan masalah kesempurnaan dalam shalat berjamaah. Dan menjaga keselamatan jiwa manusia adalah level Maqashid Syariat Islam yang lebih tinggi.

Imam Ibnul Qayyim – Rahimahullah – menyebutkan

 إذا لم يمكنه أن يُصلِّي مع الجماعة إلا قُدّام الإمام فإنه يصلي قدامه وتصح صلاته

“Apabila tidak mumungkin dirinya shalat jamaah kecuali dengan posisi di depan imam maka ia (boleh) shalat di depannya imam dan shalatnya menjadi sah.”

Beliau juga berkata;

 وبالجملة فليست المُصَافة أوْجب من غيرها، فإذا سقط ما هو أوجب منها للعذر فهي أولى بالسقوط، ومن قواعد الشرع الكلية أنه “لا واجبَ مع عجزٍ، ولا حرامَ مع ضرورة”

“Kesimpulannya, masuk ke dalam saf tidaklah lebih wajib dari pada yang lainnya, maka apabila sesuatu yang lebih wajib darinya saja gugur karena ‘udzur (halangan) maka mengisi saf lebih utama gugur, dan bagian dari kaedah syariat yang umum, (telah menunjukkan hal ini) sesungguhnya ; “Tidak ada kewajiban dengan ketidakmampuan dan tidak ada keharaman dengan kedaruratan.”.

(I’lamu Al-Muwaqqi’in (3/227) cet. Dar Ibnul Jauziy, Tahqiq Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman)

Syaikhulislam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata;

لوحضر اثنان ، وفي الصف فرجة ، فأيهما أفضل وقوفهما جميعا أوسد أحدهما الفرجة ، وينفرد الآخر ؟ الراجح الاصطفاف مع بقاء الفرجة ، لأن سد الفرجة مستحب ، والاصطفاف واجب “

“Jika dua orang hadir dan di dalam saf ada celah yang hanya cukup untuk satu orang saja, maka manakah tindakan yang paling utama dari dua pilihan yang ada, mereka berdua berdiri di belakang ataukah salah seorang mengisi renggang yang ada dalam saf, kemudian yang satunya bersaf sendiri di belakang?

Yang Rajih mereka membuat saf berdua dengan membiarkan renggang tersebut, karena menutup saf yang ksosng hukumnya mustahab (Sunnah) sedangkan membuat saf wajib”.

(Ikhtiyarat al-Fiqhiyyah /syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (1/68) cet. Darulkutub al-‘ilmiyyah).

Syaikh Al-Albaniy rahimahullah berkata;

فالحق أن سد الفرج واجب ما أمكن ، وإلا وقف وحده

 “yang benar (Haq) bahwa menutup kekosongan saf adalah wajib selama itu memungkinkan, jika tidak maka ia berdiri sendirian.”

(Silsilah Ahadits al-Dla’ifah 2/323/hadits No.923)

Ini menunjukkan dengan jelas bahwa membiarkan saf kosong jika ada hal yang lebih mendesak darinya hukumnya boleh dan di dalam koridor ulama yang mengatakannya wajib pun, seperti syaikh Al-Albaniy rahimahullah, beliau tetap mensyaratkannya dengan ada kemampuan, dan jika tidak memungkinkan untuk mengisinya maka boleh dibiarkan kosong dan bersaf seorang diri.

Prof. Dr. Mas’ud Shabriy mengatakan ;

حكم التباعد بين الصفوف في إقامة الجماعات، والراجح في المسألة الجواز خاصة في مثل هذه الظروف، خاصة أن جمهور الفقهاء يرون أن تسوية الصفوف مستحبة

“Hukum merenggangkan saf-saf dalam shalat jamaah yang rajih dalam masalah ini adalah boleh khususnya dalam keadaan tidak normal seperti ini, apalagi mayoritas ahli fiqh memandang bahwa mensejajarkan saf-saf adalah Mustahab.”

(fatawal Ulama Haula Fairus Corona 1/10) cet. Darul Basyir.)

Keutamaan pahala shalat jama’ah insyallah tetap didapatkan, dan tidak menjadi hangus karena adanya satu perkara yang tidak mampu untuk dipenuhi karena adanya ‘udzur, terlebih ketika seorang telah memiliki kemauan dan niat untuk merapatkan saf karena Nabi ﷺ bersabda;

إن أقواما بالمدينة خلفنا ما سلكنا شعبا ولا واديا إلا وهم معنا فيه حبسهم العذر

“Sesungguhya suatu kaum di Madinah mereka tidak ikut bersama kita namun tidaklah ketika kita melewati suatu kampung, dan suatu lembah, kecuali mereka ikut bersama kita di dalamnya, mereka telah tertahan oleh ‘udzur.” (Hadits Riwayat Al-Bukhari No. 2839)

Al-Hafizh Ibnu Hajar – rahimahullah – berkata bahwa dalam hadits ini terdapat faidah;

أن المرء يبلغ بنيته أجر العامل إذا منعه العذر عن العمل

“Sesungguhnya seorang akan meraih pahala orang yang beramal dengan niatya apabila suatu udzur menghalanginya dari melaksanakan amalan tersebut.” (Fathulbariy (7/107) cet. Dar Thayyibah.)

Inilah hasil yang mampu kami raih dalam masalah ini, sah hukumnya shalat berjamaah dengan saf merenggag karena khawatir tertular covid-19, dan mereka tetap mendapatkan pahala keutamaan shalat berjamaah.

Akan tetapi disitu ada pendapat lain yang menganjurkan sebaiknya seorang muslim mengambil rukhshah atau keringanan yang memang telah ada sejak awal, yaitu boleh tidak mendirikan shalat jamaah di masjid dan melakukannya di rumah, ini lebih selamat dan sejalan dengan anjuran pemerintah terkait.

Wallahu A’lam.

Musa Abu ‘Affaf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.