Tentang Kita yang Hidup dalam Bayang-bayang Mertua

Teduh.Or.Id – Setiap kali terpikir menikah, adalah tentang mengelola rumah tangga sendiri tanpa ada campur tangan orang lain. Karena rumah tangga sifatnya my trip my adventure. Pria berharap bahwa ia punya hak penuh dalam menjaga rumahtangganya sebab ia kepala keluarga. Dan wanita punya hak penuh atas kebijakan domestiknya terhadap anggaran-anggaran keluarga karena ia adalah bendahara dan pendidik bagi anak-anaknya.

Saat sebelum menikah, semua hal sudah diukur dengan masak. Bayangan-bayangan idealis dan ‘seharusnya’ sudah semakin melambungkan harap untuk bersegera. Pencarian terhadap calon pasangan, tak pernah berhenti untuk diperjuangkan dan terus menggelora. Maka tibalah waktu menikah yang penuh dengan hikmat dan bahagia.

Setelah menjadi raja dan ratu sehari, tamu-tamu pulang ke rumah, pengantin pun pulang ke rumah, tapi sebagian besar diantaranya adalah rumah mertua. Diajarkan untuk beradaptasi dengan orangtua yang membesarkan dan melahirkan pasangan kita, dan dibuatnya kita menjadi bukan diri kita disana. Seakan-akan itu adalah dunia lain dari kehidupan kita yang penuh serba salah. Bagi pria, mungkin tinggal di rumah mertua terbilang mudah. Sebab ia bisa bekerja sejak pagi hingga jelang malam hari. Yang tersulit adalah bagi wanita saat ditinggal oleh suaminya dan membersamai orangtua dari pasangan kita. Rasa serba salah kerap menghantui, mau berbuat khawatir tak tepat, tidak melakukan apa-apa bisa kena omongan. Menjadi rajin takut dikira pencitraan, istirahat sesaat terbayang dianggap pemalas.

Serba salah, adalah kata yang bisa jadi mendekati tepat kala hidup bersama dengan mertua, terlebih standar mertua pada masanya, saat mereka berusaha dalam biduk rumah tangga dikisahkan sedemikian rupa, seakan kita yang baru saja menikah kemarin ini, harus siap dihantui dengan kisah=kisah yang sama. Padahal, setiap kita datang dari jaman yang berbeda dengan mereka dan kelak akan meninggalkan jaman yang lebih berbeda lagi dibandingkan hari ini. Namun, demikianlah hidup bersama mertua, kadang dirasa sebagai penjara, tapi tak sedikit juga yang merasa seperti di ‘surga’, karena segalanya telah tersedia. Ini kalau yang memang mertuanya memfasiltasi dengan sepenuh jiwa para anak dan menantu, terlebih lagi jika sudah diberikan cucu. Jangan harap, jika mertuanya serba ada, dan tak jarang banyak menuntut anak terlebih menantunya, walaupun tidak salah, tapi tentu setiap menantu merasakan resah.

Lantas bagaimana hidup seimbang bersama dengan mertua, setidaknya ada beberapa tips dibawah ini yang bisa menjadi acuan:

Pertama, komunikasikan dengan pasangan terlebih dahulu, tentang dimana akan tinggal. Jelaskan karakteristik dengan detil jika akhirnya diantara kita sepakat untuk tinggal bersama mertua salah satunya. Kemukakan dengan baik tentang apa yang mertua sukai dan tidak, ceritakan kepada pasangan tentang bagaimana rumah tangga mereka atau hal lain yang perlu kita ketahui untuk lebih siap tinggal di tengah-tengah mereka nantinya, hingga yakinkan atau berikan batasan waktu, sampai kapan harus tinggal bersama mertua, sebab bagi seorang istri jika harus tinggal di rumah mertua suami, ia perlu akan kepastian untuk menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya, di rumah sederhana yang dihasilkan dari jerih payah bersama. Adapun bagi suami, yang tinggal di rumah mertua istri, maka berikan bukti dan usaha, bahwa ia juga bersikeras untuk mewujudkan rumah sendiri atas keluarga kecilnya, walau mungkin mertua memberikan ia rumah atau tidak menyarankan agar tinggal terpisah dari mereka, namun sedikit usaha di depan pasangan, bahwa kita juga ingin mendidik anak sendiri dan membahagiakan istri dengan cara kita adalah sesuatu yang utuh dan terus diperjuangkan.

Kedua, berusahalah untuk menjadikan mertua memiliki kedudukan yang sama dengan orangtua kita kala berada di rumahnya. Berbuat baiklah kepada mereka dan teruslah melakukan sesuatu yang bisa kita kerjakan sesuai dengan kemampuan. Jika kita tinggal di rumah mertua suami, maka jadikanlah hal ini adalah bentuk bakti seorang istri kepada suami dengan mencintai mertua yang suami cintai dan berikan baktinya. Jika seorang suami tinggal di rumah mertua istri, maka berusahalah sebagai seorang lelaki yang sadar dan tahu arti terima kasih, karena mertuanya telah memberikan anak yang mereka cintai dan didik sejak kecil hingga hari ini.

Ketiga, mungkin kita sulit untuk bersikap dan mengambil pilihan saat bersma dengan mertua. Namun, pastikan bahwa soal pendidikan anak, pada waktunya adalah kita yang memegang peranan. Bukan karena mertua tak mengerti apapun tentang anak-anak hari ini, tidak. Namun ini soal sikap orangtua yang harus memegang penuh perhatian dan tanggungjawab atas anaknya, termasuk halnya soal pendidikan, akhlak, ibadah, dan teman main. Mertua harus dipahamkan betul tentang hal ini, sebetapa sulit mendidik anak, setidaknya ia dididik oleh orangtuanya. Bukan soal mertua memberikan apapun yang anak pinta, lalu akhirnya menjadikan mereka pribadi manja. Tapi juga soal dualisme didikan, bisa membahayakan tumbuh kembang mereka. Inilah dilema serius yang dihadapi para istri saat tinggal bersama dengan mertuanya. Menjadikan istri lemah tak berdaya, dihadapan anaknya sendiri, karena sikap mertua yang tak betah mendiamkan si cucu dalam kepayahan. Padahal payahnya adalah sesuatu yang mengajarkan si cucu di masa depan. Dan memanjakannya, adalah bentuk blunder yang akan terus diingat oleh si cucu untuk akhirnya membenturkan pada apa yang orangtuanya berikan, dan apa yang dilakukan oleh kakek dan neneknya. Sehingga orangtuanya menjadi pertaruhan dihadapan kakek atau neneknya. Jika demikian, hilang sudah sikap dari orangtua yang seharusnya ditanamkan kepada anaknya.

Terakhir, teruslah berbuat baik kepada pasangan, hal tersebut juga dapat menjadikan hati mertua ridha terhadap kita, sebab tentu mertua akan sangat menghargai menantu, sebagaimana anaknya dimuliakan oleh pasangannya. Karena anaknya adalah jantung hatinya, sumber kebahagiaan dan penyejuk mata. Bila menantunya telah dengan baik menjadikan anaknya sebagai orang yang mulia, maka takkan pernah tega mertua memberikan pandangan jelek terhadap kita. Dan bisa jadi, sebabnya kita sampai hari ini belum diizinkan untuk menjadi mandiri dan diizinkan pisah dengan mereka, karena memang kita masih belum dapat membuktikan menunjukkan kebaikan sesuai dengan batas harap yang mertua bayangkan. Sungguh indah, bagaimana pelajaran dari kisah Nabi Musa ‘alaihis salam, yang Allah firmankan dalam QS. Al Qashash : 23 – 28, disana Nabi Musa ‘alaihis salam bekerja membantu menggembala ternak bagi salah seorang penduduk Madyan selama 8 tahun lamanya, sehingga ia diberikan salah seorang dari putrinya untuk dipersunting dengan penuh keridhaan, sebab baiknya akhlak Nabi Musa dihadapan si ayah.

“Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”. Berkatalah dia (Syu’aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik”. Dia (Musa) berkata: “Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu. Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). Dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan”.” (QS. Al Qashash 26 – 28)

Jika sudah demikian, maka bersamailah mertua dan berikan hak-hak yang seharusnya diberikan dari seorang anak kepada orangtuanya, entah kita yang hidup dengan mereka, atau mereka hidup bersama kita. Jangan sampai, karena nasihat-nasihat yang mereka maksudkan, kita anggap sebagai perendahan, lalu akhirnya kita menutup mata untuk terus berbuat kebaikan kepada mereka. Kejar ridha mereka, demi menggapai cinta dari pasangan kita. Bakti pada mertua, takkan membuat kita menjadi terhina dihadapan siapa saja. Kasih sayang pada mereka akan senantiasa menjadi doa bagi keutuhan rumah tangga kita. Semoga.

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.

(QS. An Nahl : 90)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.