Taunya ِAda Najis Setelah Shalat, Apakah Harus Ulang ?

 

Kalau seorang mengetahui ada najis di pakaiannya setelah ia selesai mendirikan shalat, apakah ia harus mengulangi shalatnya?

Bismillah Walhamdulillah,

Terdapat tiga pendapat ulama dalam menyikapi masalah ini:

Pertama : Hukum shalatnya batal dan ia wajib mengulanginya dengan catatan jika ia mengetahuinya masih dalam batas waktu shalat tersebut. Namun jika ia menyadarinya setelah waktu shalat berlalu, maka tidak wajib mengulanginya.

Pendapat ini adalah Madzhab Rabi’, Malik, dan al-Hasan.

Kedua: Shalatnya batal, dan ia wajib mengulanginya walau pun waktu telah berlalu.

Dan ini adalah pendapat dalam Madzhab al-Syafi’iyyah, dan satu riwayat dari Ahmad. Ulama yang berkiblat ke madzhab ini beralasan karena orang tersebut tidak memenuhi syarat sah shalat sehingga batallah shalatnya dan ia harus mengulanginya.

Pendapat ketiga : Shalatnya sah, tidak batal dan ia tidak wajib mengulanginya.

Pendapat ini disandarkan ke Madzhab sekelompok ulama salaf seperti Ibnu Umar, ‘Atha’, Ibnulmusayyib, Mujahid, Abu Tsaur, Ishaq, al-Sya’biy, al-Nakha’iy, al-Auza’iy, dan Imam Ahmad dalam salah satu riwayatnya, dan pendapat ini dipilih oleh Ibnulmundzir. (Rahimahumullah Ajma’in)

Pendapat ini berdalil dengan beberapa hujjah :

a). Tidak ada hukum bagi orang yang tidak mengetahui, dalam hal ini ia tidak mengetahui keberadaan najis tersebut, sementara Allah telah menjamin tidak akan menghukum jika hambanya lupa atau tidak sengaja.

رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

“Wahai Rabb kami, janganlah engkau mengambil (hukuman) terhadap kami jika kami lupa dan tersalah tanpa sengaja”. (al-Baqarah)

b). Peristiwa Nabi shallallahu ‘Alaihi Wasallam sedang shalat lalu tiba-tiba menanggalkan kedua sandal beliau karena Jibril memberitahukan ada najis di kedua sandal tersebut. Dalam hadits disebutkan:

  فقال رسول الله  صلى الله عليه وسلم  إن جبريل أتانى فأخبرنى أن فيهما قذرا

“Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya Jibril telah datang kepadaku memberitahukan bahwa di kedua sandal tersebut ada kotoran (Najis)”. (Hadits Shahih dikeluarkan Imam Abu Dawud dan lainnya.)

Diambil kesimpulan dari hadits ini bahwa kalau seandainya shalat menjadi batal tidak sah, niscaya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam akan mengulangi shalatnya dari awal lagi karena beliau shalat dalam keadaan ada najis tanpa beliau ketahui.[1] Namun ternyata beliau tidak mengulanginya.

Dan pendapat ini menurut Imam An-Nawawiy Rahimahullah merupakan pendapat Jumhur Ulama, dan beliau sendiri menilai nya sebagai pendapat yang kuat meskipun berbeda dengan Madzhab al-Syafi’iyyah, beliau berkata:

 وَهُوَ قَوِيٌّ فِي الدَّلِيلِ وهو المختار

“Dan dia adalah pendapat yang kuat dalam pendalilan dan dialah pendapat yang dipilih”.[2]

Pendapat ini juga difatwakan oleh syaikhulislam Ibnu Taimiyyah[3], Syaikh Abdulaziz bin Baz[4], dan Ibnu Utsaimin.[5]

Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin Rahimahullah berkata:

وأما أذا فرغ من صلاته ثم ذكر بعد أن فرغ أو علم بعد أن فرغ من صلاته فإنه لا إعادة عليه وصلاته صحيحة

“Dan adapun jika ia telah selesai dari shalatnya kemudian (baru) ia ingat setelah selesai, atau ia mengetahui (ada najis) setelah ia selesai dari shalatnya, maka ia tiada (keharusan) atasnya untuk mengulang, dan shalatnya sah.”[6]

Dan inilah kiranya yang kami ikuti.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وأزواجه وأصحابه وسلم

Musa Abu ‘Affaf, B.A.


 

[1] Syaikh Abu Malik Ibnu Sayyid Salim dalam Shahih Fiqh Sunnah (1/258-259)

[2] Al-Majmu Syarhulmuhaddzab (3/157)

[3] Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah (21/17)

[4] Fatwa Syaikh Ibnu Baz | https://binbaz.org.sa/old/38376

[5] Majmu’ Fatawa Wa Rasa’il Ibnu Utsaimin/Bab Satrul-‘Aurah (12/303-304)

[6] (Majmu’ Fatawa Wa Rasa’il Ibnu Utsaimin/Bab Satrul-‘Aurah (12/303

Comments

comments