Talqin Mayit Dikuburan Menurut Komite Tetap Untuk Riset Ilmiah Dan Fatwa KSA

Sebelumnya di sini kami pernah menerbitkan fatwa Syaikhulislam Ibnu Taimiyyah – rahimahullah – tentang masalah mentalqin ini juga, bagi yang belum membacanya kami dengan kerendahan hati mempersilahkan untuk membaca dengan membuka link ini; Klik.

Dan di sini sekarang kami akan menukilkan fatwa dari ulama Allajnah Adda’imah Saudi Arabia, langsung saja: 

Pertanyaan dengan No. 3159 .  :

أنا أعرف أن التلقين لا يجوز للميت بعد الموت، ولكن كثير من العلماء يجيزونه عندنا، واحتجوا بالمذهب الشافعي، وقد رجعت إلى نيل الأوطار للشوكاني حيث سكت عن ذلك وقال: أجازه بعض الشافعية. ولا أدري ما الحل في ذلك

“Saya tahu bahwa mentalqinkan mayit setelah mati tidak boleh, akan tetapi banyak dari kalangan ulama di tempat kami yang membolehkannya, mereka berdalil dengan Madzhab Al-Syafi’i, dan saya telah merujuk ke kitab Nailul Authar karya Al-Syaukani di mana Beliau tidak diam dengan masalah itu, dan berkata; “Sebagian ulama al-Syafi’iyyah membolehkannya.” Dan sekarang saya tidak tahu jalan keluar dalam masalah tersebut?”

Jawaban Komite Tetap Untuk Riset Ilmiah Dan Fatwa KSA (Allajnah Adda’imah) :  

الصحيح من قولي العلماء في التلقين بعد الموت أنه غير مشروع، بل بدعة، وكل بدعة ضلالة، وما رواه الطبراني في الكبير عن سعيد بن عبد الله الأودي عن أبي أمامة رضي الله عنه في تلقين الميت بعد دفنه ذكره الهيثمي في الجزء الثاني والثالث من مجمع الزوائد، وقال: في إسناده جماعة لم أعرفهم. أهـ

“Yang benar di antara dua pendapat ulama dalam masalah Talqin setelah mati bahwa amalan itu tidak disyariatkan, bahkan Bid’ah, dan setiap Bid’ah adalah sesat, dan hadits yang diriwayatkan Imam al-Thabarani dalam Al-Kabir dari Sa’id bin Abdillah Al-Udiy dari Abu UmamahRadliyallahu ‘Anhu – dalam mentalqinkan mayit setelah dikuburkan, merupakan riwayat yang telah disebutkan Al-Haitsami di juz ke-2 dan ke-3 pada kitabnya Majma’uz Zawaid, dan beliau berkata; “Dalam Sanadnya ada sekelompok perawi yang aku tidak mengenalnya.”.  

وعلى هذا لا يحتج به على جواز تلقين الميت، فهو بدعة مردودة بقول رسول الله صلى الله عليه وسلم: «من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد  » وليس مذهب إمام من الأئمة الأربعة ونحوهم كالشافعي حجة في إثبات حكم شرعي، بل الحجة في كتاب الله وما صح من سنة النبي صلى الله عليه وسلم في إجماع الأمة، ولم يثبت في التلقين بعد الموت شيء من ذلك فكان مردودا

Maka atas dasar ini, haditsnya tidak dapat dijadikan hujjah atas bolehnya mentalqin mayit, maka dia adalah Bid’ah yang tertolak berdasarkan sabda Rasulillah – Shallallahu ‘Alaihi Wasallam – “siapa saja yang membuat perkara baru dalam Agama kami ini, yang bukan bagian darinya maka ia tertolak.”

Dan Madzhab seorang imam dari empat imam tersebut dan yang semisal dengan mereka seperti Imam al-Syafi’i – rahimahullah – bukanlah hujjah dalam menetapkan suatu hukum Syar’i, akan tetapi hujjah itu terdapat pada kitab Allah dan hadits yang shahih dari Sunnah Nabi – Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- dan pada Ijma’ ummat ini, dan tidak ada sesuatu pun yang valid dari (hujjah) itu dalam talqin setelah kematian, maka ia tertolak.”

أما تلقين من حضرته الوفاة كلمة: (لا إله إلا الله) ليقولها وراء من لقنه إياها فمشروع؛ ليكون آخر قوله في حياته كلمة التوحيد، وقد فعل ذلك النبي صلى الله عليه وسلم مع عمه أبي طالب، لكنه لم يستجب له، بل كان آخر ما قال: إنه على دين عبد المطلب

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

Adapun mentalqinkan orang yang akan wafat dengan kalimat La Ilaaha Illallah agar ia mengucapkannya setelah bacaan orang yang menuntunnya maka disyariatkan, agar akhir ucapannya dalam hidupnya adalah kalimat tauhid, dan hal itu pernah dilakukan Nabi – shallallahu ‘alaihi wasallam – terhadap pamannya yaitu Abu Thalib, akan tetapi ia tidak menurutinya, bahkan akhir kata yang ia ucapkan bahwa ia di atas Agama Abdul Muthhalib.

Komite Tetap Riset Ilmiah Dan Fatwa. Jilid (8 / 338) 

Ketua : Syaikh Abdulaziz bin baz.  Wakil Ketua : Abdurrazzaq ‘Afifi 

Anggota: Abdullah Ghudayyan, dan Abdullah bin Qu’ud.

Fatwa ini sangat tegas tanpa berbelit-belit menegaskan bahwa hadits yang menjadi sandaran talqin mayit setelah dikubur adalah lemah sehingga tidak dapat dijadikan hujjah, dan bahwa talqin tersebut merupakan Bid’ah. Wallahu A’lam.

Musa Abu ‘Affaf, BA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.