Tak Ada Bendera Setengah Tiang Pada Wafatnya Raja

Teduh.Or.Id – Kerajaan Saudi Arabia dirundung duka dan kesedihan atas wafatnya pemimpin mereka Malik Abdullah bin Abdil Aziz Alu Su’ud, raja yang berjuluk Khadimul Haramain ini diserang infeksi paru-paru yang akhirnya berujung pada kematian. Semua ummat Islam Ahlussunnah Waljamaah turut berduka atas wafatnya .

Yang menjadi anomali dan didengar oleh orang-orang pada umumnya, acara seremonial duka atas seorang raja atau presiden sama sekali tidak terlihat di sana, tak ada bendera setengah tiang, tak ada pemakaman ala militer, tak ada barisan rakyat yang disuruh menangisinya.

Seolah wafatnya raja di kerajaan Islam tersebut tidak ada bedanya dengan kematian seorang rakyat jelata, ini semakin dikuatkan dengan kuburan Raja Abdullah yang ditandai hanya dengan sekedar gundukan tanah dan sepotong kayu di bagian depan posisi kepala. Sehingga jika kita bandingkan kuburan orang-orang besar sebelumnya, maka sungguh kita akan terperanjat melihat perbedaan ini.

Ternyata semua itu dilakukan berdasarkan tuntunan Syariat Islam, dimana tuntunan penguburan jenazah atau penghormatan terhadap jenazah, dan atau yang terkait dengannya telah diatur dalam Syariat Islam. Dan di antara sikap yang terlarang adalah melakukan An-Na’yu, yakni mengumumkan wafatnya seseorang diiringi dengan sikap berlebih, seolah dengan wafatnya orang tersebut adalah kehancuran dan kerugian besar untuk satu kaum atau negara.

Konon orang-orang jahiliyyah melakukan hal tersebut, mereka menyebaran berita kematian seseorang yang dianggap penting oleh mereka, seraya diiringi dengan ungkapan-ungkapan bangga terhadap orang yang meninggal.

Bentuk An-Na’yu seperti Inilah yang dilarang oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, dan dalam satu riwayat hadis yang hasan diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, bahwa Hudzaifah (Shahabat Nabi) berkata: “Apa bila aku mati, maka kalian jangan mengumumkannya, sesungguhnya aku khawatir hal itu akan menjadi Na’yu, karena aku benar-benar pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam melarang An-Na’yu.”

Nampaknya inilah sebab utama sehingga tidak diadakan banyak acara duka setelah wafatnya Raja Abdullah, dikhawatirkan dengan adanya bendera setengah tiang, atau tembakan militer adalah bagian dari An-Na’yu yang terlarang.

Oleh: Musa Mulyadi Lukman, Lc

Sumber gambar dari:

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/3/32/Flags_at_half-staff_outside_Central_Plaza.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.