Tentang Dua Rakaat Tahiyyatul Masjid

Teduh.Or.Id – Masjid adalah tempat terdamai dan pelabuhan hati setiap muslim. Masjid memiliki hukum-hukum yang telah digariskan Syariat Islam yang seyogyanya harus diperhatikan oleh setiap muslim. Salah satu hukum tersebut adalah hukum shalat Tahiyyatul Masjid. Langsung saja kita telaah hukum-hukum terkait dengan Tahiyyatul Masjid berikut ini :

#Hukum Shalat Tahiyyatul Masjid

Wajib atas setiap muslim apabila telah masuk masjid dan dia hendak duduk di dalamnya agar shalat dua raka’at. Dan telah ada beberapa hadits yang menunjukkan atas hukum wajibnya, di antaranya :

عن أبي قتادة السلمي أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إذا دخل أحدكم المسجد فليركع ركعتين قبل أن يجلس

“Dari Abu Qatadah as-Sulamiy sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda: “Apabila seorang dari kalian masuk masjid maka rukuklah dua rakaat sebelum dia duduk.” (HR : Bukhari Muslim)

Dan dalam riwayat hadits lainnya disebutkan: “Apabila seorang dari kalian masuk masjid, maka janganlah ia duduk sampai ia shalat dua rakaat.”

#Apa yang menjadi Tahiyyatul Masjid untuk Masjidil Haram Makkah ?

Tidak ada dalil yang mengeluarkan Masjidil Haram dari keumuman hadits yang lalu (hadits wajib shalat tahiyyatul masjid di atas) maka tidak ada Tahiyyah khusus untuk Masjidil Haram yang berbeda dari seluruh masjid yang ada.

Ia Memang betul, al-Aafaqqiy (atau al-ufuqiy adalah orang yang tinggal di luar kota Makkah) apabila masuk (ke Masjidil Haram) dalam keadaan berihram maka amalan yang paling pertama ia lakukan adalah Thawaf sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melakukan hal itu ketika berhaji.

Dan ada pun Hadits Masyhur (populer) di lisan-lisan orang yang berbunyi : “Penghormatan untuk Ka’bah adalah Thawaf” merupakan hadits yang tidak memiliki asal.

#Apabila masuk masjid dan shalat berjamaah telah didirikan

Apabila seorang telah masuk masjid sedangkan shalat (berjama’ah) telah dilaksanakan, maka hendaknya ia masuk mengikuti shalat jamaah tersebut langsung, adapun shalat Tahiyyatul Masjid dua rakaat maka menjadi gugur atasnya, dan dalil atas hal tersebut adalah riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu sebagai berikut :

إذا أقيمت الصلاة فلا صلاة إلا المكتوبة

 “Apabila shalat telah didirikan maka tidak ada shalat selain shalat fardhu”. HR: Muslim.

Dan kata yang menjadi Syahid (fokus dalil) dalam hadits ini adalah : “Tidak ada shalat” sedangkan sisi pendalilanya adalah : bahwa hadits ini meniadakan syariat shalat apa pun apabila shalat wajib telah didirikan.

#apabila telah masuk masjid sementara imam sedang berkhutbah jumat:

Apabila seorang muslim masuk masjid sedangkan imam tengah berkhuthbah jumat, maka tidak boleh dia duduk sebelum shalat Tahiyyatul Masjid dua rakaat, dan hendaknya dia meringankan shalatnya. Dalilnya adalah :

“Dari Jabir bin Abdillah beliau berkata: Sulaik al-Ghathafaniy pernah datang pada hari jumat ke masjid dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika itu sedang berkhuthbah, lalu Sulaik langsung saja ia duduk, maka kemudian Nabi bersabda : Wahai Sulaik! berdirilah (shalat) dua rakaat dan ringankanlah dalam dua rakaatnya.” HR: Bukhari Muslim.[2]

________________________________
[1] Hukum shalat Tahiyyatul Masjid sebenarnya telah menjadi perselisihkan di antara Ulama. hukum wajib yang disebutkan oleh penulis di atas adalah pendapat yang dianut oleh Madzhab azh-Zhahiriyyah. sedangkan mayoritas Ulama Fiqh dari empat Madzhab yang ada menyatakan hukumnya adalah Nadb atau Sunnah, dan bahkan ada yang menukil Ijma’ atau kesepakatan atas hukum tersebut, seperti yang disebutkan oleh Imam Ibnu Abdil Barr dalam at-Tamhid [20/100] dan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bariy [1/537-538] dan juga oleh Imam al-Qurthubiy dalam tafsirnya [12/ 273]. dan pendapat Mayoritas Ulama yang menghukuminya Sunnah juga adalah pendapat yang dikuatkan oleh Syaikh Shalih Ibnu Utsaimin dalam Majmu’ Fatawa [14/354]. dan pendapat pribadi yang saya ikuti.

Pendapat mayoritas Ulama dalam hal ini bisa dilihat lebih rinci dalam kitab al-Mausu’atul Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah [10/304 – 305] dan telah dirincikan oleh dorar.net [klik]

[2] diterjemahkan dari kitab Bughyatul Mutathawwi’ Ila Shalatit Tathawwu’ karya Syaikh Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul.