Sujud Sahwi Setelah Salam, Haruskah Membaca Tasyahhud Lagi ?

 

Bagi yang mengamalkan sujud sahwi setelah salam, apakah ada anjuran membaca Tasyahhud kembali setelah sujud Sahwi ? ataukah tidak ada sehingga seorang bisa langsung salam?

Bismillah Walhamdulillah

Sebenarnya dalam masalah ini terdapat hadits yang menjelaskan adanya Tasyahhud sebelum salam dalam sujud sahwi, hadits itu adalah :

عن عمران بن حصين أن النبى -صلى الله عليه وسلم- صلى بهم فسها فسجد سجدتين ثم تشهد ثم سلم. قال أبو عيسى هذا حديث حسن غريب.

Dari ‘Imran bin Hushain sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat bersama mereka dan beliau lupa, kemudian beliau sujud dua kali kemudian bertasyahhud, kemudian membaca salam.

Abu Isa Attirmidzi berkata : Hadit ini Hasan Gharib.[1]

Akan tetapi kebanyakan Ulama – sebatas hasil telaah sederhana kami – menilainya sebagai hadits yang tidak valid, Syaddzah, atau lemah.

Imam al-Nawawiy Rahimahullah berkata:

وفى التشهد وجهان اصحهما لا يتشهد لانه لم يصح فيه عن النبي صلي الله عليه وسلم شئ

“Dan dalam masalah melakukan Tasyahhud terdapat dua bentuk pendapat, yang paling shahih dari keduanya adalah tidak bertasyahhud karena tidak ada satu hadits pun yang shahih dari Nabi Shallallahu Aalaihi Wasallam“.[2]

Dalam batas analisa sanad riwayat secara gamblang hadits ini bisa dikatakan Shahih, hanya saja kata Tasyahhada di dalamnya dinilai Syadzzah atau lemah dan ini adalah kesimpulan dari analisa detil para Ulama di antaranya adalah Syaikh al-Albaniy Rahimahullah seperti yang telah beliau jelaskan dalam al-Irwa’ulghalil pada hadits No.403 (2/124)

Kata “Tasyahhada” ini Syaddzah karena periwayat yang bernama Ays’ats bin Abdil Malik al-Humraniy al-Bashriy, meskipun beliau dinilai Tsiqah Faqih, namun menyelisihi tujuh orang Imam Huffazh yang begitu terpercaya dalam meriwayatkan dari Khalid al-Hadzza’. di mana ketujuh Huffazh tersebut tidak ada dalam periwayatan mereka masing-masing yang menyertakan kata “Tasyahhada“.

Akan tetapi berbeda dengan al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, Hadits ini menurut beliau bisa naik menjadi Hasan, beliau berkata:

لكن قد ورد في التشهد في سجود السهو عن ابن مسعود عند أبي داود والنسائي وعن المغيرة عند البيهقي وفي اسنادهما ضعف فقد يقال أن الأحاديث الثلاثة في التشهد باجتماعها ترتقي إلى درجة الحسن قال العلائي وليس ذلك ببعيد وقد صح ذلك عن ابن مسعود من قوله أخرجه بن أبي شيبة

“Akan tetapi dalam masalah Tasyahhud dalam sujud sahwi telah datang riwayat dari Ibnu Mas’ud di sisi Abu Dawud, an-Nasa’i, dan dari al-Mughirah di sisi al-Baihaqi dan namun dalam kedua Sanadnya lemah. Maka sejatinya dapat dikatakan bahwa ketiga hadits-hadits mengenai Tasyahhud ini dengan kebersatuannya dapat naik ke derajat hadits Hasan, al-‘Alaiy berkata: “dan hal itu tidaklah jauh, (mengingat) hal itu memang benar telah datang dari perkataan Ibnu Mas’ud yang dikeluarkan Ibnu Abi Syaibah”. Demikian selengkapnya keterangan al-Hafizh.[3]

Syaikh Adam al-Ityufi al-Makkiy dalam syarahnya yang berjudul Ittihafuthhalib al-Ahwadziy  (6/747-748) menyimpulkan bahwa hadits ini memang Syaddzah (lemah) dan apa yang simpulkan oleh al-Hafzih Ibnu Hajar Rahimahullah tadi, bahwa hadits ini bisa naik menjadi Hadits hasan bukanlah penilaian yang baik, beliau berkata:

فتبين بهذا ما مال إليه الحافظ في آخر كلامه أن الروايات الثلاث وإن كانت ضعيفة ترتقي الى درجة الحسن ليس بحسن كيف يعارض بالروايات الضعيفة على الرويات الصحيحة؟ هذا عجيب غريب فليتنبة

“Dengan ini maka menjadi jelas, kesimpulan yang telah diambil Al-Hafizh dalam ucapan terakhir beliau bahwa ketiga riwayat-riwayat tersebut walau pun lemah namun menjadi naik ke derajat Hasan, penilaian ini tidak bagus, (sebab) bagaimana bisa riwayat-riwayat yang lemah dipertentangkan dengan riwayat-riwayat yang shahih”.

Ada pun pendapat para ulama tentang Tasyahhud dalam sujud sahwi terbagi menjadi enam pendapat sebagaimana yang telah dirangkum oleh al-Hafizh Ibnulmundzir dalam al-Ausath (3/508-511), dan kita tutup bahasan ringkas kali ini dengan kesimpulannya beliau:

والتشهد إن ثبت خبر عمران بن حصين فالواجب أن يتشهد من سجد سجدتي السهو، فإن لم يثبت لم يجب ذلك، ولا أحسب يثبت

“Dan Tasyahhud (dalam sujud sahwi) jika hadits dari Imran bin Hushain ternyata periwayatannya benar, maka yang melakukan sujud sahwi wajib  bertasyahhud, namun jika tidak benar valid maka tidak wajib, dan aku tidak menganggapnya benar valid”.[4]

Musa Abu ‘Affaf B.A.


[1] Sunan attarmidziy No.390 (1/107)

[2] Majmu’ Syarhulmuhadzzab (4/157)

[3] Fathulbariy (3/99)

[4] Al-Ausath 3/510-511

Comments

comments