Sudah Terlalu Lama Aku Asyik Sendiri

Teduh.Or.Id – Siapa yang betah hidup dalam kesendirian? Terlebih saat usia sudah menginjak masa kematangan. Kesendirian identik dengan galau menurut anak muda jaman sekarang. Didalamnya, resah, disisinya gelisah, diatasnya pasrah, dibawahnya adalah gundah. Sendiri adalah sepi, terlebih ia adalah seseorang yang sangat tak suka dalam kesendirian. Selalu berfikir bagaimana kesendirian ini dapat terbunuh, akan tetapi senjata dan amunisi tak mencukupi. Atau, selalu ingin membunuh kesepian itu tapi sulit memulainya darimana karena memang sudah terlalu lama asyik sendiri.

Ada banyak faktor mengapa kesendirian masih bersarang dalam diri, ia sibuk dengan kesibukannya atas pekerjaan, sibuk mengurus orangtuanya yang mungkin sudah papa, sibuk untuk belajar dan merampungkan studinya demi gelar yang didamba, sulit mencari pasangan yang memang benar-benar tepat untuk menjadi pasangan hidupnya, atau bisa jadi pasangan itu ada tapi sulit akan biaya dan tentang bagaimana saat bahtera rumahtangga harus dilayari nantinya.

Biar bagaimanapun juga, ini soal sendiri. Kesendirian kadang tak bertepi, tapi ia selalu punya kata untuk diakhiri walaupun agak sulit proses yang dilalui. Kesendirian itu juga soal gelora dan semangat yang apakah itu membuncah didalam dada untuk memikirkan soal kehidupan sebenarnya, tentang bagaimana fitrah manusia bahwa seharusnya ketetapan manusia adalah hidup dengan berpasang-pasangan.

Tak perlulah menaruh curiga bagi mereka yang masih ‘menikmati’ kesendirian itu, sebab jika mau menjawab mereka pun sebenarnya tak ingin dihadapkan pada soalan itu, tak layak pula jika menjadi sebuah olokan, yang memojokkan hingga akhirnya mereka sudah tak memiliki asa untuk mencari cinta. Bantu, mereka butuh dibantu. Tolong, mereka butuh ditolong. Bukan ditodong kapan dan bukan dirayu namun berujung malu.

Namanya adalah Utsman bin Mazh’un, sahabat Rasulullah yang termasuk generasi awal mendapat hidayah Islam. Tentu tahu bagaimana dan apa akibat yang ditimbulkan oleh orang-orang kafir dalam melakukan makarnya atas diri Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam beserta sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum diawal-awal dakwahnya.

Dan Utsman bin Mazh’un termasuk yang merasakan penderitaan dan siksa tersebut. Lelaki yang hidup dengan keadaan mulia nan sederhana, sosok yang dirinya dicintai oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam hingga beliau ucapkan kalimat indah saat dirinya wafat dengan ucapan, “Semoga Allah memberimu rahmat, wahai Abu Saib…. Kamu pergi meninggalkan dunia, tak satu keuntungan pun yang kamu peroleh daripadanya, serta tak satu kerugian pun yang dideritanya daripadamu.”

Lelaki shalih yang sederhana dan sudah menggapai kenikmatan ibadah kepada Allah Ta’ala. Bahkan ia ingin melepaskan dunia beserta kenikmatan didalamnya. Ia ingin menyendiri, menyepi dan meminta kepada Rasulullah agar diizinkan untuk tak terikat dengan pernikahan. Namun itu tak diperkenankan oleh Rasulullah sebagaimana Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengizinkan Utsman bin Mazh’un untuk tabattul, kalau seandainya Beliau mengizinkan tentu kami (akan bertabattul) meskipun (untuk mencapainya kami harus) melakukan pengebirian.” (HR. Bukhari)

Al Imam Ath-Thabari berkata, “Tabattul (membujang) yang diinginkan Utsman bin Mazh’un adalah pengharaman wanita, heharuman, dan segala hal yang nikmat, oleh karena itu turun ayat terhadapnya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al Maa’idah: 87).

Sahabat Rasulullah pun tak diizinkan untuk menyendiri padahal ia pribadi yang beliau cintai. Maka sampai kapan akan sendiri? Kasihanilah diri, bahwa selamanya hati akan terpenjara dalam sepi. Bisa jadi sesak akan muncul dalam dada kala sendiri menyelimuti jiwa. Itu semua tentu tak sehat atau bisa jadi tak manusiawi. Akhirilah kesendirian itu, sudahi bahwa kita butuh pendamping setia. Angkat kepala bahwa kita juga memiliki hak untuk bisa hidup bersama. Pilihlah pasangan yang dapat mengerti dan dimengerti, bukan pasangan yang diimpi serta sekedar dinanti tanpa ada usaha yang pasti.

Jika terpaksa menanti, sabar dan teruslah berdoa dengan sebaik-baiknya doa. Dan yakinlah bahwa Allah akan membantu mereka-mereka yang berkehendak untuk mengakhiri kesendiriannya, percayalah bahwa Allah takkan menyianyiakan kita bersama pasangan kita selama hidup diarungi dan usaha terus senantiasa ditempa. Bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Tiga golongan yang Allah akan menolong mereka: budak yang hendak menebus dirinya, seorang yang menikah untuk menjaga kehormatannya, dan seorang yang berjihad di Jalan Allah Ta’ala.” (HR. An Nasai, Kitabun Nikah)

Raih keberkahan Allah dengan tidak menjadi pribadi yang sendiri, lawan dilema dan bimbang dalam dada soal berbagai aral dalam mencari pasangan juga menjejaki tapak pernikahan. Karena Allah Ta’ala sudah berpesan, “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kalian, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahaya kalian yang lelaki dan hamba-hamba sahaya yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nur:32).

Buang rasa ragu, yakinkan orangtua, serta mantapkan hati bahwa sendiri dan berada dalam kesendirian adalah fase sulit untuk mencapai keberkahan dalam hidup. Sungguh elok ucapan Asy Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah dalam Taudhihul Ahkam, “Nikah termasuk nikmat Allah yang agung. Allah syariatkan bagi hamba-Nya dan menjadikannya sebagai sarana serta jalan menuju kemaslahatan dan manfaat yang tak terhingga…”

Wallahu ‘Alam bi Shawwab.

Sumber gambar: http://farm4.staticflickr.com/3253/2839093875_e0d73c07cb_b.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.