Slovakia, Polandia dan Republik Ceko Hanya Mau Menerima Pengungsi Suriah Jika Mereka “Kristen”

Slovakia mengatakan akan menerima 200 pengungsi Suriah demi meringankan beban negara-negara sahabat uni eropa, karena sedang mengalir ratusan ribu migran ke dalam uni eropa, namun dengan satu syarat, semua 200 keluarga tersebut haruslah orang Kristen.

“Di Slovakia kami tidak punya Masjid”, kata juru bicara kementrian dalam negri Slovakia. Ia berargumen bahwa para pengungsi muslim akan sulit beradaptasi dengan lingkungan di negara-negara Eropa Tengah karena populasi muslim yang sangat sedikit. Oleh karenanya Slovakia dan beberapa negara Eropa Tengah (seperti Republik Ceko) hanya mengambil pengungsi Suriah yang beragama Kristen.

Demikianlah pernyataan dan berita diatas kami adaptasi dari The Wall Street Journal yang dipublikasikan lewat website mereka tanggal 19 Agustus 2015.

The Gateway Pundit memberitakan bahwa Republik Ceko hanya menerima 70 keluarga dari pengungi Suriah dengan syarat yang sama seperti Slovakia, sedangkan sebuah organisasi non-pemerintah di Polandia dilaporkan hanya menerima 50 keluarga dengan seizin Perdana Mentrinya.

UNHCR memperkirakan pengungsi suriah berjumlah 3.8 hingga 4 juta orang. Peperangan yang tak terhenti setelah 4 tahun telah mendesak masyarakat Suriah untuk mengungsi dari negaranya. Dimasa awal peperangan negara tetanggalah yang paling banyak menerima pengungsi Suriah. Tercatat, Turki, Jordania dan Libanon sebagai penerima pengungsi Suriah terbesar.

Turki sendiri tercatat telah menerima lebih dari 600 ribu pengungsi Suriah sejak tahun 2012 hingga tahun 2014. Secara total, Jordania telah menerima lebih dari 2 juta pengungsi yang tidak hanya datang dari Suriah, namun juga datang dari Palestina dan Iraq. Libanon juga telah menerima pengungsi baik dari Suriah, Palestina dan Iraq diseputaran angka antara 400-500 ribu sejak tahun 2013. Perlu menjadi catatan Qatar hanya tercatat menerima pengungsi maksimal 130 ditahun 2014, sedangkan Arab Saudi hanya menerima hingga maksimal 600 pengungsi di tahun 2012 dan jumlahnya berkurang ditahun 2014. Uni Emirat Arab dan Kuwait mempunyai rekor yang tak berbeda jauh dengan Arab Saudi. Catatan ini dipublikasikan di www.unhcr.org dan di akses 29 Agustus 2015.

Sepertinya para pengungsi tidak menjadikan negara-negara kaya di teluk arab sebagai tujuan. Mereka lebih memilih untuk pergi ke Eropa. Itali dan Yunani menjadi tujuan utama para pengungsi yang bergerak menggunakan perahu melalui Turki. Petugas keamanan di perbatasan Turki pun sudah tak banyak berbuat dalam hal ini karena kapasitas pengungsi yang ditangani Turki juga telah menyentuh batas yang sulit ditolerir.

Kanselir Jerman bersama dengan Presiden Prancis, memutuskan untuk mengabaikan beberapa peraturan Uni Eropa (deklarasi Dublin) terkait dengan penerimaan pengungsi demi kemanusiaan. Hal ini menyebabkan German, Prancis, Hongaria, UK, Swedia, Austria, Belgia, dan negara Uni Eropa mengalami tekanan arus pengungsi yang cukup besar, dengan Jerman sendiri telah menerima lebih dari 400 ribu pengungsi yang utamanya berasal dari Suriah. Desakan pengungsi di Uni Eropa (terutama dibagian barat) telah membuat desakan diplomasi ke negara-negara Uni Eropa di bagian tengah untuk turut membantu menerima pengungsi.

Namun krisis ekonomi yang baru saja menerpa Eropa dan kemungkinan akan ada gelombang berikutnya membuat masing-masing negara berusaha untuk menjaga kestabilan ekonomi masing-masing negaranya. Terlebih potensi penyusupan dari gerakan-gerakan ISIS yang masuk lewat jalur pengungsi menimbulkan kewaspadaan yang tinggi terhadap pengungsi Suriah. Selain itu negara-negara Eropa tengah belum terbiasa dengan kehidupan multibudaya, berbeda dengan negara-negara besar seperti Jerman, Prancis dan Inggris. Negara-negara tersebut didominasi oleh orang Kristen dengan populasi muslim yang sangat sedikit, ditambah gerakan politik sayap kanan yang menimbulkan kebencian SARA dimasyarakat. Hal ini membuat pemerintahnya meningkatkan pengawasan demi menghindari potensi konflik dalam negrinya sendiri.

Faktor-faktor inilah yang menyebabkan Slovakia dan Republik Ceko menerima hanya sedikit pengungsi dan juga hanya menerima pengungsi Kristen saja. Perlu juga diketahui bahwa ada 1.1 juta penduduk Kristen orthodhox di Suriah yang juga kemungkinan besar ikut mengungsi ke Eropa. Maka mengakomodasi mereka demi mengurangi beban negara eropa barat adalah bantuan terbaik yang dapat mereka berikan. Sedangkan untuk Polandia, berita lain menyatakan bahwa perdana mentri Polandia bersedia untuk menerima lebih dari 70000 pengungsi Suriah dengan syarat ada bantuan dana dari Uni Eropa.

Mengkritisi sikap Eropa yang berdebat tentang penerimaan mereka atas pengungsi Suriah, harus disadari bahwa semestinya Negri Muslim lebih cepat tanggap dalam menerima pengungsi Suriah. Apakah negri Muslim tak berusaha menerima mereka, Alhamdulillah Turki dan Jordania telah memberikan tauladan kepada kita. Namun dimanakah sikap negara-negara teluk?

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُن فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ

Artinya: “Dan orang-orang kafir sebagian mereka adalah penolong untuk (kafir) lainnya, jika kalian tidak melakukannya, terjadilah fitnah di bumi ini dan kerusakan yang besar”. (QS: Al-Anfal-73)

Seperti apakah yang akan terjadi ketika negara-negara kaum muslimin yang kuat sudah tidak dapat lagi menjadi tempat berteduh dan kembali untuk mereka yang terusir dari negerinya ?

Yaa Allah, Engkaulah yang Maha Mengatur dan Menolong dan lagi Maha Perkasa, mudahkan dan tolonglah semua pengungsi Suriah, dan semoga Allah segera membuka pintu hati para penguasa muslim untuk bersatu bahu membahu menolong mereka. Amiin.