Sikap Muslim Dengan Kematian Orang Kafir, R.I.P Bolehkah?

Kemanusiaan dalam islam sangat begitu berharga dan dijunjung, bahkan syariat islam itu sendiri diantara tujuannya adalah menjaga kemanusiaannya manusia, namun kemanusiaan bukanlah segalanya, bukan sumber atau dalil dalam beragama, karena jika hal itu diserahkan kepada manusia maka yang akan terjadi adalah kerusakan, karena manusia pasti akan mengikuti kemauannya sendiri-sendiri, Allah berfriman;

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ اَهْوَاۤءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّۗ بَلْ اَتَيْنٰهُمْ بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَنْ ذِكْرِهِمْ مُّعْرِضُوْنَ ۗ

“Dan seandainya kebenaran itu menuruti keinginan mereka, pasti binasalah langit dan bumi, dan semua yang ada di dalamnya. Bahkan Kami telah memberikan peringatan kepada mereka, tetapi mereka berpaling dari peringatan itu”. (QS: Al-Mukminun 71)

Di antara perkara yang bersinggungan dengan nilai kemanusiaan adalah menyikapi kematiannya seseorang, namun hal yang kerap menimbulkan tanda tanya dan bahkan debat adalah menyikapi kematiannya seorang yang kafir atau nasrani, apakah boleh mengucapkan RIP sebagai bentuk belasungkawa kepadanya?

Maka berikut ini sebagian dari hal-hal mendasar yang menyangkut masalah tersebut ;  

Pertama : Secara umum semua orang yang mati dalam keadaan kafir maka dia masuk neraka

Sangat banyak dalil atas hal ini, di antaranya Firman Allah:

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَمَاتُوْا وَهُمْ كُفَّارٌ اُولٰۤىِٕكَ عَلَيْهِمْ لَعْنَةُ اللّٰهِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالنَّاسِ اَجْمَعِيْنَۙ

Sungguh, orang-orang yang kafir dan mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat laknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya (QS : Al-Baqarah 161)

خٰلِدِيْنَ فِيْهَا ۚ لَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْظَرُوْنَ

“mereka kekal di dalamnya (laknat), tidak akan diringankan azabnya, dan mereka tidak diberi penangguhan.” (QS: Al-Baqarah 162)

Nabi ﷺ bersabda;

عن أبى هريرة عن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- أنه قال « والذى نفس محمد بيده لا يسمع بى أحد من هذه الأمة يهودى ولا نصرانى ثم يموت ولم يؤمن بالذى أرسلت به إلا كان من أصحاب النار

Dari Abi Hurairah Radliyallahu ‘Anhu dari Nabi ﷺ beliau bersabda: “Demi Jiwa Muhammad yang berada di tangannya, tidaklah seorang pun dari ummat ini, tidak yahudi dan tidak juga nasrani, ia mendengar tentang aku kemudian ia mati dalam keadaan tidak beriman dengan risalah yang aku diutus membawanya, kecuali ia termasuk ke dalam penduduk neraka.” (Hadits riwayat Muslim.)

Nabi ﷺ juga bersabda;

إنه لا يدخل الجنة إلا نفس مسلمة

“Sesungguhnya tidak akan masuk surga kecuali jiwa yang islam” (hadits riwayat muslim)

Imam Annawawi – rahimahullah – berkata;

هذا نص صريح في أن من مات على الكفر لا يدخل الجنة أصلا وهذا النص على عمومه باجماع المسلمين

“(Hadits ini) adalah keterangan yang jelas dalam hal bahwa pada asalnya siapa saja yang mati dalam keadaan kafir maka ia tidak akan masuk surga, dan keterangan ini berlaku di atas keumumannya dengan Ijma’ ulama islam.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj 3/96)

Nabi ﷺ pernah ditanya oleh Ummulmukminin ‘Aisyah , tentang seorang kafir yang begitu baik, beliau berkata: “ya Rasulallah , Ibnu Jad’an dulu pada masa jahiliyyah menyambung silaturrahmi, memberikan makan orang miskin, apakah itu bermanfaat untuk dirinya?”.

Nabi ﷺ menjawab:

لا ينفعه إنه لم يقل يوما رب اغفر لى خطيئتى يوم الدين

“Tidak dapat memberi manfaat untuknya, sesungguhnya ia tidak pernah berkata pada suatu hari Ya Rabb ampuni kesalahan-kesalahanku kelak pada hari kiamat”. (Hadit Riwayat Muslim No. 214)

Kedua : Mempersaksikan individu seorang kafir yang mati dalam keadaan kafir memeluk Agama selain Agama Islam mendapatkan siksa neraka, hal ini dibolehkan menurut salah satu dari pendapat ulama Ahlussunnah yang ada, Syaikh Shalih Alu Syaikh dalam kitabnya Syarh Aqidah al-Thahaiyyah menjelaskan:

وإذا تبيَّنَ هذا فلا يدخل في كلامه من مات على الكفر وقد كان في حياته كافراً؛ كان طول حياته نصرانياً، أو كان طول حياته يهودياً، أو كان طول حياته وثنياً أو مشركاً الشرك الأكبر المعروف؛ يعني من أهل عبادة الأوثان أو ممن لا دين له.فهؤلاء لا يدخلون في هذه العقيدة؛ بل يُشهَدُ على من مات منهم بأنه من أهل النار؛ لأنه مات على الكفر وهو الأصل

وقد ثبت في الصحيح أن النبي صلى الله عليه وسلم قال «حيثما مررت بقبر كفار فبشره بالنار» وهذا عموم وهو الموافق للأصل، وهو أنَّ من مات على الكفر نحكم عليه بالظاهر، ولا نقول قد يكون مات على الإسلام؛ لأنَّ هذا خلاف الأصل

“Dan apabila hal ini telah menjadi jelas maka tidak termasuk ke dalam perkataannya (Imam al-Thahawi) orang yang mati di atas kekafiran, di mana semasa hidupnya ia kafir, sepanjang hidupnya menjadi nasrani, atau sepanjang hidupnya menjadi yahudi, atau sepanjang hidupnya menjadi penyembah berhala, atau musyrik dengan syirk besar yang telah diketahui, yaitu menjadi bagian dari penyembah berhala, atau ia tidak memiliki Agama,

Maka mereka tidak termasuk ke dalam akidah ini, bahkan orang yang mati dari kalangan mereka dipersaksikan sebagai penghuni neraka, karena ia mati di atas kekafiran, dan kekafiran itulah asal keadaannya.

Dalam hadits yang Shahih Nabi ﷺ pernah bersabda ; “kapan pun kamu melintasi kuburan orang-orang kafir maka kecamlah ia dengan neraka”. Dan makna hadits ini umum dan dialah makna yang sesuai dengan hukum asal, yaitu siapa saja yang mati di atas kekafiran kita menghukuminya dengan zhahir, dan tidak boleh kita berkata mungkin bisa jadi ia mati di atas islam, karena ucapan ini bertentangan dengan asal keadaannya”. (2/642 cet. Pertama tahun 1431 H. Darulmawaddah)

Pendapat lain mengatakan tidak boleh memvonisnya secara person (tunjuk hidung) bahwa yang bersangkutan pasti masuk neraka, karena hal itu adalah perkara ghaib walau pun secara zhahir ia tetap disikapi layaknya jenazah seorang yang kafir.

Ketiga ; Haram hukumnya menshalati dan mendoakan ampunan atasnya, dan hal ini merupakan Ijma’ ulama.

Allah ‘Azza Wajalla berfirman;

وَلَا تُصَلِّ عَلٰٓى اَحَدٍ مِّنْهُمْ مَّاتَ اَبَدًا وَّلَا تَقُمْ عَلٰى قَبْرِهٖۗ اِنَّهُمْ كَفَرُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَمَاتُوْا وَهُمْ فٰسِقُوْنَ

“Dan janganlah engkau (Muhammad) melaksanakan salat untuk seseorang yang mati di antara mereka (orang-orang munafik), selama-lamanya dan janganlah engkau berdiri (mendoakan) di atas kuburnya. Sesungguhnya mereka ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik”. (QS: Attaubah 84)

Imam Al-Qurthubi – rahimahullah – menjelaskan;

قال علماؤنا: هذا نص في الامتناع من الصلاة على الكفار

Ulama kami mengatakan; : “(Ayat) ini merupakan nas (dalil yang jelas) melarang shalat atas orang-orang kafir”. (Al-Jami Liahkamil Qur’an 8/221)

Imam al-Nawawiy – rahimahullah – berkata;

وأما الصلاة على الكافر والدعاء له بالمغفرة فحرام بنص القرآن والاجماع

“Dan adapun shalat atas orang kafir dan mendoakannya ampunan maka haram hukumnya berdasarkan penjelasan Al-Qur’an dan Al-Ijmak.” (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzzab 5/144 dan  5/258)

Maka termasuk ke dalam larangan ini adalah menyampaikan ungkapan belasungkawa dengan kata R.I.P kepada orang kafir, karena ungkapan ini termasuk ke dalam mendoakan kebaikan kepada mereka, yang maksudnya harapan semoga ia berbaring dengan tenang dan selamat, dan hal ini tentunya sangat bertentangan dengan hal-hal yang telah dijelaskan di atas. Wallahu A’lam.

Musa Abu ‘Affaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.