Seribu Bulan Tanpa Lailatul Qadr

Konon tersebutlah seorang hamba Allah yang begitu taat beribadah kepada Allah, Delapan Puluh Tahun dia taat tanpa bermaksiat walau pun sekejap mata, bertahun – tahun dia memakai senjata untuk berjihad di jalan Allah. Ibadah luar biasa hamba tersebut yang disebut oleh Al-Qurthubi bernama Syamsun ini kemudian membuat para Shahabat dan bahkan juga Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam tercengang dan merasa khawatir karena beliau sadar bahwa ummat Beliau tidak akan mampu melakukan hal tersebut karena umur ummatnya yang sedikit.

Demikian kurang lebih beberapa hikayat yang disebutkan para Ulama Tafsir seperti Imam Al-Qurthubi dan Imam Ibnu Katsir yang menukil dari beberapa pakar Tafsir terdahulu seperti Imam Mujahid, Imam ‘Atha’ dan lainnya. Hikayat tersebut disebutkan  sebagai latar belakang turunnya Surat Al-Qadr Ayat-3.

Lalu apakah makna dari “Lebih baik dari seribu bulan” tersebut?

Imam Al-Baghawi berkata: Ahli Tafsir berkata: “Lebih baik dari seribu bulan” Maknanya adalah Amal Saleh di malam Al-Qadr tersebut lebih baik daripada Amalan (yang dilakukan selama) seribu bulan (akan tetapi)  tidak terdapat padanya Lailatul Qadr.

Makna ini pula yang dikuatkan oleh Imam Ibn Katsir dalam Tafsirnya, beliau berkata:

“Dan pendapat yang menyatakan bahwa Lailatul Qadr lebih utama dari beribadah (selama) seribu bulan yang tanpa ada di dalamnya Lailatul Qadr adalah pendapat yang dipilih oleh Ibnu jarir dan pendapat inilah yang benar bukan yang lainnya.”

Dengan demikian maka dapat kiranya dipahami bahwa keistimewaan Lailatul Qadr sangat luar biasa, dimana seribu bulan tanpa lailatul Qadr tak dapat mengimbangi dan menyamai satu malam saja yang terdapat di dalamnya lailatul Qadr.

Itulah sebabnya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam memerintahkan dan mencontohkan kepada kita agar mencari Lailatul Qadr yang telah dirahasiakan Allah keberadaan waktu turunnya secara pasti.

Amalan yang dianjurkan apabila seorang bertepatan mendapatkan  lailatul Qadr ialah mendirikan Shalat, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: “Siapa saja yang berdiri (shalat) pada malam Qadr karena Iman dan mengharap pahala, diampuni baginya apa apa yang telah berlalu dari dosanya”. (HR: Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.)

Shalat dalam hal ini tidak terdapat ketentuannya secara pasti dan rinci untuk meraih keutamaan lailatul Qadr, jika seorang hanya mendirikan Shalat Maghrib dan Isya saja pada malam tersebut maka bisa diharapkan ia terhitung telah beribadah pada malam Lailatul Qadr. Imam Al-Baghawi dalam Tafsirnya menukilkan ucapan Imam Sa’id bin Al-Musayyib (Wafat 93 H.) :

قال سعيد بن المسيب: من شهد المغرب والعشاء في جماعة فقد أخذ بحظه من ليلة القدر

Artinya: “berkata Sa’id bin Al-Musayyib : ‘Siapa saja yang menyaksikan Shalat Maghrib dan Isya berjamaah, maka sungguh dia telah mengambil bagiannya dari Lailatul Qadr”.

Maka beruntunglah siapa saja yang mendirikan Ibadah pada malam lailatul Qadr walau pun dia tidak mengetahui bahwa malam tersebut adalah Lailatul Qadr, dan kita berharap tentunya termasuk ke dalam hamba-hamba Allah yang bertepatan ibadahnya dengan Lailatul Qadr.

Bagi Muslimah yang kiranya terhalang mendirikan Shalat di malam malam Krusial tersebut karena penghalang yang Syar’i seperti datang bulan dan Nifas bukanlah penghalang untuk meraih keutamaan Lailatul Qadr, ada Ibadah lain yang bisa dilakukan oleh mereka sebagaimana halnya Aisyah Radhiyallahu Anha pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam tentang amalan apa yang hendak dilakukannya jika bertepatan dengan lailatul Qadr, dan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

Artinya: “Ya Allah sesungguhnya engkau maha pemaaf yang mencintai kemaafan maka maafkanlah aku” (HR: Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Selamat berpacu dalam Ibadah mengejar Satu malam yang bagai seribu bulan.

Musa Abu Affaf