Sendawa dalam Tinjauan Sunnah

Teduh.Or.Id – Sendawa adalah proses mengeluarkan gas melalui mulut. sendawa juga adalah proses yang sangat erat dengan rasa kenyang.

Sendawa dinilai tabu menurut sebagian adat istiadat, dan tidak demikian halnya bagi sebagian masyarakat. Namun yang menjadi acuan dalam hal ini adalah apa yang telah digariskan oleh Syariat Islam sebagai satu bentuk pekerti yang baik ataukah tidak.

Bersendawa di depan orang lain bertentanagan dengan himbauan Syari’at untuk menjaga kenyamanan orang lain, menghormati orang lain atau pun forum yang tengah dihelat. di mana kita telah dianjurkan agar tidak menyakiti orang lain – terlebih kaum muslimin – secara umum dan agar bersikap yang terpuji terhadap semua orang, Allah berfirman :

 وقل لعبادي يقولوا التي هي أحسن إن الشيطان ينزغ بينهم إن الشيطان كان للإنسان عدوا مبينا 

“Dan katakanlah (wahai Nabi) kepada hamba-hambaku agar bertutur kata dengan yang ia adalah ucapan yang terbagus, sesungguhnya setan itu menggoda di antara mereka, Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” [1]

Walau pun sebagian orang ada yang tidak merasa terganggu dengan sendawa kita, namun kita juga tidak mengetahui ada yang merasa terganggu, dan inilah yang perlu diwaspadai agar tidak lahir satu kesan buruk dari orang yang merasa terganggu tersebut dengan sendawa namun dia hanya bisa diam saja, sehingga setan kemudian dengan mudah akan memainkan perannya untuk menciptakan permusuhan di antara sesama seperti yang tersebut dalam Ayat di atas. Maka menahan Sendawa atau memalingkannya saat tersendiri termasuk sikap yang baik yang diperintahkan Allah dalam al-Qur’an.

Menahan sendawa atau tidak melakukannya di depan forum resmi atau pun pada forum yang tidak resmi bahkan saat santai adalah Sunnah yang telah dicontohkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada kita, mari kita simak hadits berikut ini:

عن ابن عمر قال : تجشأ رجل عند النبي صلى الله عليه و سلم فقال كف عنا جشاءك فإن أكثرهم شبعا في الدنيا أطولهم جوعا يوم القيامة

Dari Ibnu Umar ia berkata: Seorang lelaki pernah bersendawa di sisi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam maka beliau bersabda: “Tahanlah sendawamu di hadapan kami, sesungguhnya [orang] yang paling sering kenyang di dunia mereka kelak adalah orang yang paling lama merasakan lapar di hari kiamat.” [2]

Dalam hadits ini terkandung bimbingan adab yang sangat mulia agar siapa saja hendaknya menahan atau memalingkan sendawanya dari khalayak, dan menjelaskan adanya keterkaitan sendawa dengan kekenyangan.

Dan setelah diketahui bahwa kekenyangan merupakan salah satu sebab sendawa, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun memberikan solusi dari sendawa agar tidak muncul dan bisa dihindari, beliau bersabda dengan pesan yang begitu mendalam dan sekaligus sebagai warning bahwa selalu dalam kekenyangan bisa saja menjerumuskan seorang ke jurang kelaparan kelak di hari kiamat.

Faedah: Tidak terdapat tuntunan khusus agar membaca Al-Hamdulillah setelah sendawa.

____________________________________________________________

[1] Al-Qur’an Surat al-Isra’ Ayat 53.

[2] Hadits Riwayat Imam at-Tirmidzi dan Imam Ibnu Majah dan Imam ath-Thabrany dalam Mu’jamul Ausath. Hadits ini disebut Hasan oleh Syaikh al-Albany, beliau berkata dalam kitab Silsilah ash-Shahihah 1/342 (versi Maktabah asy-Syamilah) :

و جملة القول أن الحديث قد جاء من طرق عمن ذكرنا من الصحابة و هي و إن كانت مفرداتها لا تخلو من ضعف ، فإن بعضها ليس ضعفها شديدا ، و لذلك فإني أرى أنه يرتقي بمجموعها إلى درجة الحسن على أقل الأحوال . و الله سبحانه و تعالى أعلم 

“Dan garis besarnya, Bahwa periwayatan hadits ini datang dari berbagai jalur dari kalangan para Shahabat yang telah kami sebutkan, dan riwayat-riwayat tersebut walau pun secara individu tidak lepas dari (Periwayat) yang lemah, namun sebenarnya sebagiannya tidaklah begitu sangat lemah, oleh karena itu, saya melihat hadits ini setidaknya naik tingkat dengan segenap jalur-jalurnya ke derajat Hasan.”