Selfie, Ngopi, Vakansi, Dan Kebiasaan Anak Muda Kini

Teduh.Or.Id – Indah nian menceriterakan kehidupan anak muda jaman sekarang, seiring jaman berubah maka selera juga berubah. Karena perubahan selalu berbanding lurus dengan selera, ketika nanti dibarengi dengan usaha yang bila semua sudah tercapai terwujudlah sebuah ekspektasi dalam bergaya. Berbicara anak muda adalah berbicara soal gaya hidup. Tahun dulu kita sering akrab dengan jargon “muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga”. Sebuah idiom yang mengasyikkan dan tanpa beban. Maka masa muda adalah masa foya-foya. Masa peralihan dari sebuah habitat satu ke habitat lain untuk berpetualang menemukan berbagai sensasi kehidupan.

Asyiknya dunia muda, adalah sebagaimana asyik yang menyegarkan jiwa. Hilang dahaga dengan foya-foya serta penuh jiwa beriring bahagia. Pengalaman seru dan menegangkan, tersedia di masa muda. Menjadi nakal dan urakan juga bisa didapati kaum muda. Berpindah pasangan dan bergati hobi serta kesukaan, itu juga dunianya anak muda. Tak terkecuali anak muda masa kini, karena kekekalan energi masa muda selalu sama antara masa kini dan masa lalu.

Maka selfie, kopi, dan vakansi adalah sebuah selera anak muda sekarang. Disaat jumpa tempat baru, tempat kumpul baru, waktu luang yang perlu uang, serta hura-hura bersama kawan sejawat diwakilkan dengan tiga kata tadi. Betapa selfie adalah fenomena, sefenomenanya kata tersebut sehingga menjadi sebuah kosakata baru yang diterima oleh Kamus Oxford beberapa waktu lalu. Selfie yang identik merekam sebuah momentum pribadi lalu membagikannya kepada orang lain atau sekedar dokumentasi pribadi. Menjadikan sebuah gaya hidup asyik masa kini. Soal selfie ini, energi muda yang menularkannya pada khalayak anak serta orangtua. Jika waktu lalu kita kenal analogi narsis, maka selfie adalah kawan dari kata-kata narsis itu sendiri.

Setidaknya, fenomena selfie cukup membahagiakan banyak pihak termasuk vendor komunikasi dan korporasi pemilik media sosialita. Selfie sebagaimana hobi lain juga bak pedang bertajam ganda, salah pakai maka bisa salah tujuan jua. Bisnis selfie selalu ditemani dengan perilaku sosial media yang terus memanjakan para penikmat selfie dalam berbagi koleksinya kepada siapa saja dan dimana saja, termasuk dalam lingkarannya.

Lelah bahas soal selfie yang sudah umum diketahui, maka mari bicara soal kopi. Ini bukan soal hobi, ini soal seni. Betapa menikmati kopi adalah seni berkelanjutan bagi masyarakat kita, masyarakat Indonesia. Kegemaran akan kopi didukung dengan iklim yang tropis, adalah sebuah kejadian menyejarah dengan kurun waktu sangat lama. Pemimpin identik dengan kopi, ronda komplek kudu ada kopi, menulis pun butuh kopi, dan perlu ada waktu khusus untuk ritual yang satu ini.

Jika dahulu perlu waktu khusus, maka anak muda hari ini butuh tempat khusus hanya untuk sekedar cari tempat ngopi. Diberbagai pusat perbelanjaan ada banyak gerai kopi tersaji, menyiapkan kenyamanan dan kesantaian tersendiri bagi para penikmatnya. Tentu, ada harga ada rupa. Semakin nyaman, semakin enak, semakin mahal. Sebagaimana rumus ekonomi kapitalis yang menggurita dalam mental anak bangsa. Karena kopi adalah tradisi, maka anak muda wajib menjaga tradisi ini, wajib memuliakan nilai luhur kopi sekalipun bergeser sudah arti dari minum kopi itu sendiri.

Yang masih abadi dalam kopi ialah, kopi menjadi teman diskusi, disebut-sebut mampu memecah kebuntuan dalam sebuah pikiran. Maka tak ayal kita sering dengar jargon, “ngopi dulu biar urusan beres”. Kopi bagi sebagian orang adalah solusi. Kopi kini sudah menjadi gaya hidup, sudah menjadi budaya yang mengakar dari entitas anak muda di negeri ini. Menikmatinya adalah sebuah seni, diskusi soal kopi adalah bahan bicara abadi, dan membersamai banyak orang dalam meminum kopi adalah sebuah perjamuan berarti. Jadi, biasanya selain minum kopi, anak-anak muda itu suka sekali apabila gerai kopi memiliki fasilitas WiFi agar saat ngopi bisa sambil selfie. Nah.

Tidak bisa dipungkiri, vakansi yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti berlibur, kini menjadi tren baru anak-anak muda di kota. Karena kota sumber uang, dan sumber fasilitas, sehingga arus pikir yang dibawa ialah soal kota. Dan tren vakansi menyasar golongan anak muda. Mereka rela menabung beberapa bulan, lalu menghabiskan beberapa hari diakhir pekan untuk sekedar, “melepas penat dan lelah”. Vakansi, bukan bicara soal dalam kota, mereka bepergian berombongan dengan beberapa moda transportasi serta berbekal informasi dari hasil pencarian melalui berbagai media sebelum memutuskan destinasi. Mereka mengusahakan dengan harga yang sangat murah, mengoptimalkan segalanya yang penting tujuan tercapai. Rela susah demi hiburan serta liburan penuh ceria.

Ide awalnya ialah mau mencari tempat baru untuk sekedar selfie, dan siapa tahu ada tempat ngopi yang perlu disambangi serta menjadi sebuah gaya tersendiri seperti kedai kopi joss dekat Stasiun Tugu di Yogyakarta. Maka vakansi adalah soal cerita anak muda yang sekarang disebut dengan fenomena backpacker.

Begitulah masa muda, sebagaimana terpapar dalam paragraf mula-mula. Ini soal asyik, seru, bahagia, dan bersama. Sebelum akhirnya menikah, berkeluarga, dan hilang sudah teman-teman setia. Ini soal mengabadikan momentum untuk dibagikan kepada anak istri mereka kelak. Bandel dulu baru tobat, sergah para muda-muda itu disuatu ketika.

Maka bagaimana dengan masa muda ini? Tentu bisa jadi sia-sia dan bisa juga memang benar-benar bermakna. Sia-sia karena memang masa muda semestinya bisa dimaknai dengan hal-hal berguna. Bermakna untuk menjadi pribadi baik dan berharap meraih masa depan yang terbaik.

Tidaklah masa depan terbaik didapatkan jika bukan di dalam Islam. Masa depan penuh ketaatan yang berasal dari masa muda penuh ketundukan kepada Allah Ta’ala. Sebab, tak ada yang tahu kapan ajal menyapa. Ia tak memberikan sinyal dan menyambangi gadget sebagai sebuah notifikasi panggilan kematian. Ia (kematian) bisa datang kapanpun dan dimanapun tanpa harus janjian. Cuma kematian yang tak perlu selfie. Sekalipun ia bisa datang disaat sedang ngopi atau bermaksiat bersama teman saat melakukan vakansi.

“Pergunakanlah yang lima (kesempatan) sebelum datang yang lima: Masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang masa matimu.” Demikian sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat Al Hakim dan Ibnu Abi Syaibah.

Kesemua momentum sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tersebut tercermin dalam pribadi anak-anak muda hari ini. Saat luang untuk ngopi diselingi gosip sana-sini, lalu saat sehat digunakan untuk vakansi sambil ber-haha-hihi, ketika kaya membeli peranti terbaik demi selfie yang memiliki akses untuk berbagi media sosial paling trendi. Dan ujungnya akhirnya pamer serta takjub pada diri sendiri setelah menuruti hawa nafsu darah muda yang bercokol dalam diri.

Tentu kali ini kita tak sedang bicara soal boleh atau tidaknya ketiga hal tersebut. Sebab awalnya ialah perkara yang bisa dianggap mubah. Namun jika setiap waktu dilakoni, maka hal yang demikan tentu sangat rugi. Sebab bisa jadi tiga hal tadi termasuk didalamnya dari tiga hal penyebab kebinasaan sebagaimana hadits melalui jalan Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi dan Ibnu Abdilbar dimana Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Tiga perkara yang membawa kebinasaan, tiga perkara yang membawa keselamatan, tiga perkara yang menghapus kesalahan, tiga perkara yang mengangkat derajat.

Adapun tiga hal yang membawa kebinasaan ialah: kebakhilan yang diperturuti, hawa nafsu yang diperturutkan, dan takjub kepada diri sendiri.

Tiga perkara yang membawa keselamatan: berlaku adil disaat marah dan ridha, kesederhanaan disaat miskin maupun kaya dan takut kepada Allah disaat sendiri maupun keramaian.

Tiga perkara penghapus kesalahan: menunggu shalat sesudah shalat, menyempurnakan wudhu kala berat, serta melangkahkan kaki menuju shalat berjamaah.

Tiga hal pengangkat derajat: memberi makan, menyebarkan salam dan shalat malam dikala manusia tidur.”

Semoga menjadi pelajaran bagi kita semua dalam memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, dan mampu menempatkan diri kita dimana seharusnya berada.

Wallahu ‘alam bi shawwab.

-ditulis sambil minum kopi tapi lagi nggak selfie setelah pulang dari vakansi…-

Gambar dari:

http://www.taskameracozazebali.com/wp-content/uploads/2014/06/Tongsis-dan-holder-u-7-924×667.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.