Selain Niat, Hijrah Juga Perlu Sahabat

Berkata Asy Syaikh Muhammad bin Hadi Al Madkhali, “Sesungguhnya diantara nikmat Allah kepada seorang hamba (setelah Allah karuniakan pada dirinya untuk mengenal hidayah Islam) adalah Dia (Allah) memberi kemudahan baginya untuk memiliki teman-teman yang salih, yang berada diatas agama, ilmu, dan akhlak. Mereka adalah sebuah nikmat yang hanya diketahui ukurannya oleh seseorang yang merasa kehilangan dirinya.” (www.ajurry.com/vb/showthread.php?=1550)

Yang menguatkan seseorang dalam berislam bukan hanya kekuatan hatinya untuk senantiasa taat, namun yang menguatkan lainnya ialah seberapa banyak orang-orang taat yang berada disekeliling orang tersebut. Tentu tidak mudah berislam di hari ini, ujian dan cobaan bagi orang yang beriman tak pernah padam, itulah mengapa dibutuhkan dukugan dalam menempuh jalan-jalan ketaatan.

Maraknya komunitas hijrah yang hari ini bermunculan di tengah anak muda, merupakan sebuah oase penuh kebahagiaan bagi tumbuh kembang Islam di Indonesia. Sejatinya, anak-anak muda itulah tongkat estafet Islam di Indonesia yang menentukan masa depan bangsa ini, suka atau tidak, mayoritas Islam sebagai jumlah populasi terbesar penduduk negeri ini merupakan aset umat diseluruh dunia nanti.

Komunitas-komunitas hijrah yang ada, ialah komunitas yang Allah takdirkan hadir, ditengah sengkarut paham keagamaan yang ada, seakan nilai-nilai budaya Islam yang identik dengan nilai tradisional masa lampau, telah berganti seiring dengan perkembangan teknologi yang mudah diakses. Terlebih teknologi hari ini dipegang oleh anak-anak muda. Perkembangan dakwah kian masif, ilmu tidak hanya hadir di majelis taklim, kajian, atau seminar-seminar semacam daurah. Namun dakwah sudah merambah hingga dunia media sosial, perangkat komunikasi, sampai penyebaran konten yang viral. Pertumbuhan yang kian masif ini pun tetap harus diwaspadai dengan baik, agar tidak menjadi bumerang di kemudian hari. Perkembangan yang bebas dari hoax, provokasi ke arah negatif, hingga mencederai kerukunan dalam berbangsa dan bernegara.

Hijrah, tentu harus dilandasi dengan ilmu yang bermanfaat, tahapan hijrah harus ditempuh semaksimal mungkin, memang hijrah itu sulit, namun menjaganya untuk semakin baik lebih sulit. Istiqamah penting, kawan yang membersamai saat istiqamah tak kalah penting. Jika kita melihat perjalanan para Nabi dalam berdakwah, para Nabi senantiasa dikelilingi oleh sahabat-sahabat yang telah Allah pilihkan.

Itulah mengapa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berpesan agar seseorang dapat memilih teman yang baik untuk membersamainya, selain menjadikan perumpamaan antara minyak wangi dengan pandai besi, Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan indikator pertemanan sebagai barometer kebaikan agama seseorang, seperti sabdanya:

“(Agama) seseorang itu tergantung agama temannya. Hendaknya seseorang memerhatikan siapa saja yang menjadi temannya.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi).

Jadi, saat diri memutuskan untuk berhijrah, carilah teman yang bisa mengajak kepada hijrah yang kaffah. Agar sebuah usaha yang dipilih tidak sia-sia. Sebab dengan hijrah, selangkah demi selangkah bila seseorang bersabar diatasnya, ditambah dengan doa agar senantiasa Allah bimbing diatas kebenaran, sudah melewati satu tahap tempuhan hidayah. Tinggal hanya menyempurnakan hidayah tersebut melalui ilmu-ilmu yang terus dituntut hingga menjadi hamba Allah yang sejatinya dalam takwa.

Teman-teman hijrah dibutuhkan karena mereka sebagaimana yang disampaikan oleh Asy Syaikh Muhammad bin Hadi Al Madkhali: “Sebab, teman yang baik akan memperkuat saudaranya, membantunya melaksanakan perintah Allah, memperkuatnya untuk taat, memberikan semangat ketika malas, membela dan mendukungnya diatas kebenaran ketika dibutuhkan, dan mengokohkannya ketika tertimpa musibah.”

Lantas, bagaimana kriteria teman yang baik, yang bisa kita ambil sebagai sahabat di jalan hijrah, selain tentunya ia adalah sosok yang menyemangati dan berjenis kelamin sama, sebab jika berjenis kelamin beda, tentu akan merusak niat hijrah itu sendiri ditambah ranjau setan sepanjang jalan nantinya. Kriteria-kriteria tersebut disampaikan oleh Al Imam Ibnu Qudamah rahimahullah dalam Mukhtasar Minhajul Qasidhin yakni:

  1. Bijak
  2. Berakhlak baik
  3. Bukan orang yang fasik
  4. Bukan ahlul bid’ah, dan
  5. Bukan orang yang rakus terhadap dunia.

Mari, pilih dan cermati jalan hijrah kita hari ini, landasi dengan niat menggapai keridhaan Allah, iringi dengan keyakinan bahwa Allah senantiasa membersamai, dan pilih sahabat-sahabat terbaik dari mereka-mereka yang bisa menguatkan, bukan mereka yang dahulu pernah hadir dalam kehidupan kita namun akhirnya menjerumuskan pada jalan kebinasaan yang telah kita sadari.

Terakhir, sungguh indah perkataan dari Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadhus Shalihin, “Engkau dapat melihat, diantara para pemimpin itu ada yang baik dan suka terhadap kebaikan. Namun, manakala Allah kuasakan teman-teman yang buruk wal iyadzubillah, mereka menjadi penghalang bagi pemimpin tersebut dari kebaikan, menghiasi keburukan hingga tampak sebagai kebaikan, dan menanamkan kepadanya kebencian terhadap para hamba Allah.”

Masih menurut Asy Syaikh Ibnu Utsaimin, “(Akan tetapi) Engkau pun dapat melihat, diantara para pemimpin itu ada yang kurang baik, namun manakala teman-temannya dari kalangan orang-orang yang baik, selalu menunjukinya kepada kebaikan, memberi motivasi dan mengarahkannya kepada hal-hal yang mendatangkan kecintaan antara dia dan rakyatnya. Akhirnya dia pun menjadi pemimpin baik.”

Wallahul Muwaffiq

Purwokerto, 13 Syawal 1439 H / 27 Juni 2018

Rizki Abu Haniina

Comments

comments