Bukan Hanya Sekedar Bertanya Kabar

Adalah kebaikan seorang muslim manakala ia dapat menggunakan lisannya di jalan kebaikan, ia mengarahkan lisannya sebagai penentu segala amalnya agar tidak menjadikan seluruh tubuhnya terjerembab kedalam dosa tersebab lisan yang salah bicara. Suatu kebahagiaan bila seorang muslim pada saat itu jika ia dapat mengarahkan lisannya untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat semisal mengajak manusia lain dalam kebenaran, atau mencegah orang lain dari keburukan.

Begitulah yang dipesankan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika seorang hamba memasuki pagi hari maka seluruh anggota badan akan mencela lisan. Anggota badan berkata, ‘Takutlah kepada Allah untuk menjerumuskan kami, kami tergantung padamu, jika kamu lurus maka kami akan lurus, jika kamu bengkok maka kami akan ikut bengkok.’” (Hadits Hasan dalah Shahih Targhib wa Tarhib: 2871).

Para sahabat Nabi sebagai orang yang hidup dekat dengan beliau pun senantiasa mengarahkan lisannya dalam kebaikan, tidaklah yang keluar dari lisan mereka selain ajaran kebijaksanaan dan masih dapat diabadikan hingga masa kini, betul apa yang dikatakan Hamka dalam Pribadi, “bijak berkata-kata berarti mencakup tiga hal, yaitu perasaan yang halus, kefasihan berbicara, dan kekayaan bahasa.” Begitulah para sahabat nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan apa yang keluar dari lisan Nabi untuk disampaikan dan disebarkan kembali.

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani dan dishahihkan oleh Syaikh Albani, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kerap bertanya kepada para sahabat yang ia jumpai dengan sapaan, “Bagaimana kabarmu wahai fulan?” lalu dijawab oleh sahabatnya, “aku memuji kepada Allah Ta’ala (Alhamdulillah)” sehingga Rasulullah mengatakan, “Itulah yang aku inginkan darimu”.

Hal demikian pula diikuti oleh Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu yang melakukan hal sama sebagaimana Nabi lakukan kala berjumpa dengan orang yang ditemuinya, yakni menanyakan kabar seseorang sehingga akhirnya orang tersebut mengucap pujian kepada Allah atas nikmat yang telah ia dapatkan dari-Nya, seperti dalam pesannya, “Kami bisa saja berulangkali bertemu dalam satu hari, tapi satu sama lain dari kami tetap saling bertanya kabar. Kami tidak ingin dari itu, kecuali agar saudara kami memuji Allah Ta’ala.” (HR. Baihaqi).

Lakukanlah penggunaan lisan dengan baik, arahkan untuk bertanya kabar kepada saudara kita dan niatkan ia membalasnya dengan ucapan pujian kepada Allah agar semata-mata kita mengingatkan saudara kita tersebut untuk senantiasa mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan. Sungguh dengannya, Insya Allah kita telah mendapatkan kebaikan sebagaimana kebaikan yang dilakukan oleh saudara kita tersebut. Betapa mudahnya jalan kebaikan dalam Islam, banyak jalan yang Allah berikan ganjaran kebaikan sekalipun hanya berkabar tanya.

Oleh: Rizki Abu Haniina