Sebelum Kau Lepas Buah Hatimu

Banyak orang tua yang menginginkan buah hatinya belajar di pesantren agar mereka siap untuk hidup mandiri, namun tak banyak orang tua yang mendidik buah hatinya agar siap untuk hidup di pesantren..

Teduh.Or.Id – Saat ini, pesantren sudah menjadi pilihan utama para orang tua untuk memberikan pendidikan berkualitas bagi anak-anaknya. Terbukti dengan semakin tingginya peminat pesantren. Saat sekolah-sekolah biasa baru membuka pendaftaran pada bulan Februari/ Maret, banyak pesantren yang sudah menutup proses pendaftaran karena jumlah pendaftar sudah mencukupi, bahkan berlebih.

Fenomena ini patut disyukuri, karena menunjukkan bahwa para orang tua lebih peduli terhadap pendidikan agama anak-anaknya. Pesantren kini kian dipercaya untuk dapat memberikan bekal pendidikan Islam yang memadai bagi putra-putri kaum muslimin.

Namun, di tengah fenomena tersebut, tak jarang kita mendengar keluhan sebagian orang tua bahwa selepas dari pesantren, anaknya belum seperti yang mereka harapkan. Ada yang mengeluhkan bahwa kebiasaan ibadahnya belum menjadi kesadaran, shalat lima waktu masih harus disuruh-suruh, tutur katanya masih tak santun, seakan menunjukkan bahwa sekian tahun belajar di pesantren belum membuahkan hasil yang berarti.

Hal ini perlu menjadi perhatian kita bersama, dan sepatutnya kita tidak mengarahkan telunjuk kita untuk menuding pihak-pihak yang bertanggung jawab akan hal ini. Banyak faktor yang bisa jadi penyebab tidak efektifnya pendidikan di Pesantren. Bila diurai satu persatu, akan panjang pembahasannya. Tapi marilah kita mulai dari diri kita sebagai orang tua, dengan mengubah perspektif kita sebagai seorang anak, kita bayangkan diri kita sebagai anak yang akan berpindah dari rumahnya menuju pesantren. Rumah yang selama ini telah menjadi tempat paling nyaman baginya.

Ketika hendak berpindah menuju satu tempat yang masih asing baginya, tanpa orang tua yang selama ini mengasihinya, mungkin juga tanpa teman sebaya yang selama ini ada di dekatnya.  Kemudian dia menjalani rutinitas baru yang seringkali memicu emosi dan menguji kesabaran : makan, mandi harus antri, lauk pauk yang tak menggugah selera, teman-teman yang iseng dan jahil, musyrif / pembimbing yang kurang peduli, pelajaran yang sulit dipahami, jadwal kegiatan yang padat merayap,  belum lagi iqab yang menanti setiap waktu melakukan pelanggaran.

Jika tidak menemukan jalan keluar, semua beban itu tertumpuk dan terakumulasi, meyebabkan ketidakbetahan. Akhirnya si anak minta pindah dari pesantren, atau, jika dipaksakan terus bertahan, maka dia akan semakin tertekan, dan kadang berujung pada “pemberontakan” baik dengan sengaja melanggar peraturan, atau melakukan hal-hal negatif untuk menunjukkan ketidaknyamanannya.

Menjalani rutinitas sebagai seorang santri alias anak pondok ternyata memang penuh tantangan. Hal ini yang kadang terlewat untuk disampaikan dan dipahamkan kepada sang anak. Bahkan seharusnya sejak awal dia dipersiapkan untuk menghadapi “tantangan” ini. Ketika kita sangat ingin menyiapkan anak kita untuk menjadi mandiri dengan mengirimnya ke pesantren, maka sudah tugas kita menyiapkannya untuk hidup di pesantren itu sendiri. Lantas bekal macam apa yang perlu lakukan agar anak kita siap untuk hidup di pesantren? Tak mudah untuk membahasnya

Tulisan ini mencoba membahas empat hal penting yang patut menjadi perhatian kita bersama sebelum melepas sang buah hati ke pesantren.

Pertama: Memastikan Fitrah dan Karakter

Kita perlu memastikan bahwa fitrah dan karakter fundamental pada anak kita telah tumbuh sesuai perkembangan usianya. Usia minimal dimana sebaiknya kita baru “melepas” anak-anak kita, adalah setelah dia melewati masa thufulah dan masa tamyiz, menjelang usia baligh. Di mana pada masa itu telah tumbuh dengan optimal dua hal penting pada diri anak, yaitu fitrah keimanan dan karakter pembelajar.

Fitrah keimanan, yang memang telah dibawa oleh setiap anak yang lahir di dunia ini, memiliki masa-masa emas untuk ditumbuhkan. Yaitu pada masa thufulah (0-7 tahun). Pada masa ini imaji anak berkembang dengan sangat pesat, maka tugas orang tualah menumbuhkan fitrah keimanannya melalui kisah-kisah Indah tentang surga, tentang teladan insan mulia, para nabi dan rasul, para sahabat yang mulia, dan sebagainya.

Orang tua bisa bisa memberikan teladan dalam perilaku kesehariannya, yang membuat anak selalu terngiang dengan memori indah masa kecilnya. Sang ayah yang penuh kasih sayang mengajaknya shalat di masjid, atau sang Ibu yang membelaianya dengan lembut selepas dia menuntaskan bacaan Al Qur’an di rumahnya.

Pada masa ini pula, pola asuh orang tua selayaknya merujuk kepada apa yang Rasulullah lakukan kepada anak-anak yang masih kecil. Dalam berbagai peristiwa yang kita dapatkan dalam hadits-hadits Nabi, beliau tidak pernah memarahi mereka, bahkan beliau bercanda, memberi kesempatan mereka untuk menuntaskan keinginan mereka saat bermain.

Dengan pola asuh seperti ini, diharapkan akan tumbuh rasa percaya diri, imaji yang positif tentang Islam, orang-orang shalih. Fitrah keimanan mereka akan tumbuh dengan subur, dan menjadi landasan yang kokoh untuk tahap perkembangan selanjutnya.

Fitrah keimanan ini, bila tumbuh dengan baik, akan menjadi bekal yang sangat berharga, perisai yang sangat kuat, dan benteng yang kokoh bagi anak-anak kita. Dia akan mudah diarahkan menuju kebaikan, dan lebih mudah dialihkan dari keburukan. Dia akan mudah diajarkan adab untuk dipraktekkan dalam kesehariannya. Dan manakala dia telah mempelajari tata cara ibadah, maka dia akan lakukan dengan semangat dan penuh kecintaan, bukan keterpaksaan.

Keimanan ini pula yang akan menuntunnya memilah mana perbuatan yang baik, mana yang buruk, dan menjaganya dari ajakan buruk dari lingkungan sekitarnya. Tentu dengan tetap dibimbing dan diarahkan oleh orang tua, guru, dan orang dewasa yang ada di sekellilingnya.

Karakter Pembelajar

Berikutnya adalah karakter sebagai pembelajar. Karakter ini mengalami masa emas pertumbuhan pada usia 7 sampai 1o tahun, yang dikenal dengan masa tamyiz. Setiap anak sejak lahir punya rasa ingin tahu yang besar, ingin mencoba dan menjelajah apapun yang ada di sekitarnya. Dan pada usia 7-10 tahun, semua keingintahuan itu mencapai masa emas untuk ditumbuhkan.

Maka para orang tua perlu menyambutnya dengan memfasilitasi rasa ingin tahu mereka, melayani dengan sabar segala mecam pertanyaan yang dia tanyakan, memotovasinya untuk terus mempelajari hal-hal baru, menyediakan bacaan atau sumber informasi bergizi yang mudah dia jangkau.

Pada masa ini pula, mereka daiajarkan adab, diajarkan tata cara ibadah, dan  bersosialisasi serta berinteraksi dengan orang tua, teman, dan orang-orang di sekitarnya.

Karakter pembelajar akan menjadi fondasi penting untuk mengembangkan kemampuan akademis dan keterampilan mereka. Ketika belajar sudah menjadi kebutuhan bagi mereka, anak-anak itu akan mempelajari sesuatu yang baru dengan gembira, meski sulit pada awalnya. Karakter ini juga membantu mereka melewati masa-masa sulit ketika mendapati suasana yang kurang nyaman saat belajar.

Nah, bila orang tua telah berhasil mendidik putra-putrinya melewati masa thufulah dan tamyiz ini, diharapkan telah tumbuh pada diri mereka keimanan dan karakter pembelajar yang menjadi bekal penting menjalani tahapan perkembangan selanjutnya, yaitu masa akil baligh.  Anak yang telah tumbuh fitrah keimanan dan karakter pembelajarnya insya Allah  akan lebih tangguh menghadapi tantangan kehidupan di masanya. Jika dia harus berpisah dengan orang tuanya -untuk belajar di pesantren misalnya- maka orang tua bisa berharap mereka akan survive dalam menjalani kehidupan di pesantren.

Lantas bagaimana bila fitrah keimanan dan karakter sebagai pembelajarnya belum tumbuh dengan baik? Ada baiknya orang tua mempertimbangkan untuk menunda terlebih dahulu untuk melepas sang buah hati ke pesantren. Lebih baik kiranya orang tua lebih fokus mendampingi si buah hati untuk menumbuhkan fitrah keimanan dan karakter pembelajarnya. Sebagai orang tua tak perlu ragu untuk instrospeksi sejenak, turut belajar kembali ilmu bagaimana mendidik putra-putri kita.

Toh, masih ada waktu jika kita tetap ingin anak kita belajar mandiri di pesantren. Misalnya setelah anak kita lulus jenjang sekolah menengah (SMP/MTs) dan melanjutkan ke jenjang SMA. Meskipun beberapa pesantren mengharuskan agar mereka menempuh masa persiapan (I’dad/takhashshush) selama satu tahun terlebih dahulu. Banyak orang tua yang yang anak-anak mereka yang baru masuk pesantren ketika SMA, tak kalah atau tertinggal dibandingkan dengan mereka yang menempuhnya sejak usia SMP.

Kedua: Mengenalkan Buah Hati Kita dengan Dunia Pesantren

Sebelum tiba masa melanjutkan ke jenjang lebih tinggi, ada baiknya kita ajak berkunjung ke pesantren-pesantren yang ada. Agar mereka merasakan, melihat sendiri suasana pesantren. Lebih baik juga jika anak ikut dalam kegiatan semacam camp atau pesantren kilat, di mana mereka bisa mendapatkan pengalaman ala pesantren meskipun dalam waktu yang relatif singkat.

Pengalaman seperti ini kan sangat berharga bagi anak kita. Karena dengan pengalaman itu, mereka telah mengenal, merasakan kehidupan yang akan mereka jalani nantinya. Mereka pasti akan memikirkan dari awal bagaimana agar dapat menjalani pengalaman serupa di masa yang akan datang.

Tetap jaga kelekatan seperti awal mula
Ketiga: Menjaga Kelekatan dengan Mereka

Sebelum melepas sang buah hati untuk belajar di pesantren, kebanyakan orang tua sangat lekat dengan anak-anaknya. Jangan sampai kelekatan ini kemudian hilang begitu saja ketika sang anak tinggal di pesantren. Indikasi hilangnya kelekatan ini bisa dilihat misalnya apakah anak masih merasa nyaman untuk mencurahkan perasaannya kepada orang tua. Juga dapat dilihat dari bagaimana interaksi dan komunikasi  mereka dengan kita, apakah masih secair dan selancar dulu sebeleum mereka masuk pesantren.

Kelekatan ini penting untuk dijaga. Mengingat tanggung jawab pendidikan tetaplah berada pada orang tua. Jika terjadi masalah pada anak-anak kita, orang tualah yang harus terdepan menyelesaikannya. Oleh karena itu menjadi penting bagi orang tua agar anak-anak mereka menemukan tempat yang nyaman untuk bercerita, mencurahkan perasaannya, mengadukan kegundahan hatinya. Yaitu kepada orang tuanya.

Jika tidak menemukan semua itu pada orang tuanya, maka dia akan mencari orang lain untuk melampiaskannya. Bahanyanya, bila yang dia temukan adalah sosok yang justru menjerumuskannya ke jalan kegelapan.

Fenomena seperti ini justru kian marak di kalangan anak. Mereka lebih nyaman untuk curhat kepada pacarnya, teman se-ganknya, dan lambat laun mereka pun larut dalam gaya hidup dan pergaulan yang tidak sehat. Nas’alullahal ‘Afiyah.

Keempat: Bersiap Menghadapi Masa-masa Sulit

Setelah anak kita masuk pesantren, jangan dikira tugas kita selesai. Justru tantangan sebenarnya sebagai orang tua sedang bermula. Bisa jadi, ketika pertama kali bertemu mereka setelah sekian waktu tinggal di pesantren, kita akan dibombardir dengan berbagai keluh kesah dan curahan hati. Di saat itulah kita perlu menyiapkan stok kesabaran seluas lautan. Kita perlu menyiapkan diri kita agar  sabar mendengarkan keluh kesahnya, sabar untuk terus menguatkan dan menumbuhkan motivasinya.

Pada masa-masa ini terkadang kita harus mengesampingkan perasaan iba. Yaitu ketika si buah hati berkeluh kesah, tentu tidak semua keluh kesah dan keinginannya kita turuti. Jika kita yakin bahwa mereka sebenarnya mampu mengatasi masalahnya, maka tugas kita adalah mendukung dan menguatkan mereka. Meski untuk itu kita perlu lebih sering menguras pulsa untuk menelpon mereka, atau bahkan menguras kantong untuk menjenguk mereka.

Insya Allah, perhatian kita akan membantu mereka menemukan solusi dari masalah-masalah yang mereka hadapi kelak. Kita pun perlu mendukung mereka dengan doa-doa kita. Manfaaatkan waktu-waktu mustajab untuk bermunajat kepada Allah, memohon agar Allah berikan taufiq dan hidayah-Nya bagi anak-anak kita, agar Allah berikan kemudahan bagi kita dalam mendidik anak-anak kita.

Jika pada kenyatannya kita maupun anak kita belum siap untuk masuk pesantren, bukan berarti tidak harapan telah sirna. Ada baiknya jika kita mencari alternatif pendidikan untuk putra-putri kita.

Pesantren bukanlah satu-satunya lembaga pendidikan. Apalagi saat ini semakin banyak model lembaga pendidikan, mulai dari sekolah formal, baik yang half-day (setengah hari) maupun full-day (sehari penuh) , PKBM, homeschooling, rumah tahfizh dan lain sebagainya. Anak-anak kita dapat belajar di tempat-tempat tersebut sembari tetap tinggal di rumah bersama kita.

Bukankah dengan itu kita justru dapat lebih lama membersamai anak-anak kita? Bukankah dengan begitu kita-lah yang lebih banyak berperan dalam pembentukan kepribadiannya? Dan oleh karenanya kita bisa berharap pahala yang lebih dari Allah subhanahu wa ta’ala atas jerih payah kita mendidik mereka?

Akhirnya, satu hal yang musti diingat oleh para orang tua: bahwa pendidikan anak adalah tanggung jawab kita, bukan pesantren, bukan sekolah. Karena itu, di mana pun mereka belajar, sudah selayaknya kita, para orang tua, memberi perhatian besar terhadap pendidikan anak-anaknya.

Wallahu a’lam bish shawab

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.