Sebegitu Sulitnyakah Mencari Identitas?

Apakah sedemikian sulitnya mencari identitas di negeri ini? Sampai-sampai sebagian besar atau bahkan seluruh masyarakat berlomba mencari panutan yang sekiranya dapat menjadi contoh kebahagiaan. Anak-anaknya mencari identitas dengan kartun Jepang, para remajanya mencari senang melalui artis Korea, para pendamping pendidikan mencoba adopsi konsep dari Finlandia, para pengajar keluarganya mengambil konsep pendidikan ala Amerika, panutan mode busananya ditiru dari Prancis, musik kesukaan para orangtuanya digandrungi dengan corak nada Inggris, dan rujukan hukum serta politik pemerintahan dicetak dari negeri Belanda, para mahasiswa penarik gerbong peradaban bangsa sibuk menelaah literature ideologi dari komunisme sampai dengan posmodernisme.

Sampaikah sedemikian sulitnya kita di negara yang telah merdeka cukup lama, masih membutuhkan role model dari bangsa lain? Sudah pudarkah aplikasi sejarah yang diberikan amanah, “Kita harus menjadi bangsa berdikari.”? Pun dengan agama, aktivitas keagamaan di negeri ini tak sedikit pula yang terpaksa mengadopsi cara beragama dengan ragam penyatuan. Seakan, menjadi muslim di Indonesia adalah muslim penuh kebingungan.

Jika memang kita adalah kaum muslimin, kita merasakan pula bahwa bangsa ini belum memberikan role model yang ideal sebagai sebuah tuntunan hidup. Lalu apakah salah jika mengembalikan segala sesuatunya pada tuntunan yang benar? Masihkah ragu akan agama kita yang belum mampu berikan jawaban? Belum percayakah kita bahwa ternyata resep bahagia dalam suka dan sabar dalam duka ialah tuntas pedomannya dari Baginda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam?

Sampai kapan kita menutup mata? Sampai selelah apa mencari bahagia dan kesenangan dunia jika ternyata Islam telah menawarkan konsep bahagia secara lengkap dunia serta akhirat? Banggalah dengan identitas kita sebagai kaum muslimin. Banggalah dengan kemuliaan kita sebagai seorang muslim yang Nabinya telah memberikan aturan hidup sejak mata terpejam hingga mata terbuka.

Beliaulah shalallahu ‘alaihi wa sallam sebaik-baik panutan yang sudah Allah tetapkan bagi seluruh kaum muslimin. Dalam kehidupannya, diperuntukkan untuk meninggikan kalimat dan kejayaan Islam, dalam semangatnya terletak berbagai petunjuk kebaikan bagi ummat yang beliau pimpin, dalam jejak sejarah keluarganya tersimpan banyak anjuran pergaulan dan komunikasi untuk membangun rumahtangga ideal. Begitulah beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan contoh bagi kaum muslimin. Pengaruhnya di mata para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

Maka kemana lagi akan mencari? Jika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sudah mencukupi bagi kita. Risalah yang beliau bawa sudah tuntas sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu… “ (QS. Al Maidah : 3)

Sungguh, wajiblah atas kita sebagai seorang yang meyakini Islam sebagai agamanya, menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan penuh dengan kemuliaan, dan Rasulullah ditiru karena padanya terdapat panutan. Sampai kapan berlelah mencari identitas jika seorang muslim tidak berani bangga akan keislamannya? Maka, akhirilah perjalanan melelahkan mencari identitas itu dengan kembali kepada sebenar-benarnya ajaran. Ajaran yang ditinggalkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tanpa ada keraguan sedikit pun didalamnya. Petunjuk terang dan lurus yang menghancurkan kebimbangan serta mempertegas akhir dari pencarian. Sebagaimana wasiat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada Umar bin Khattab dikala ia memegang dan membaca lembaran Taurat,

“Apakah engkau merasa ragu, wahai ‘Umar bin Khaththab? Demi Allah yang diri Muhammad ada di tangan-Nya, sungguh aku telah membawa kepada kalian agama ini dalam keadaan putih bersih. Janganlah kalian Tanya kepada mereka tentang sesuatu, sebab nanti mereka kabarkan yang benar namun kalian mendustakan, atau mereka kabarkan yang bathil lalu kalian membenarkannya. Demi Allah yang diri Muhammad berada di tangan-Nya! Seandainya Nabi Musa hidup saat ini, maka tidak boleh baginya melainkan harus mengikuti aku.” (HR. Ahmad, Ad Darimi, dan Ibnu Abi ‘Ashim)

Karena identitas kebenaran akan selalu memiliki lawan yakni kesesatan. Mempertahankan ideologi apapun itu tentu akan memiliki penentang. Tidak ada kata terlambat untuk kembali pulang, menanggalkan warna-warni identitas yang benar-benar belum pasti menyelamatkan. Kembali mencukupi dengan segala sesuatunya dari Islam.

Sekarang mari para orangtua untuk mendidik anak-anak dengan cara Islami agar mereka tak terjerembab pada demam Korea, mempelajari agama kembali supaya para akademisi tidak jauh tergelincir dalam pusaran ilmu tanpa tahu kemana tujuan hidup sebenarnya, para pemuda pulang kepada cita-cita dan harapan orangtuanya yakni menjadi penyelamat atas ayah bundanya agar tak terjerumus kedalam neraka, para pemimpin berusaha mempertegas aturannya bahwa keberadaannya ialah untuk membangun kesejahteraan bukan untuk semakin menyengsarakan, pun juga dengan rakyatnya yang taat dan patuh akan pemerintah demi terwujudnya negara penuh berkah.

Jika semua sudah terwujud, maka tak butuh lama identitas itu akan muncul. Identitas sebagai sebuah bangsa dengan Islam sebagai jatidirinya. Al Quran sebagai pedoman utama yang diikuti dengan sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, dilanjutkan kembali memahami kesemuanya dengan pemahaman yang benar, yakni pemahaman warisan dari para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan yang membersamai mereka.

Oleh: Rizki Abu Haniina