Satu Hari di Kajian vs Konser

Teduh.Or.Id – Salah satu ulama Ahlu Sunnah dari Kerajaan Saudi Arabia (KSA) bernama Prof. DR. Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr, dalam waktu dekat akan kembali berkunjung ke Indonesia. Ini merupakan kunjungan beliau yang kesekian kalinya untuk memberikan ceramah singkat. Kedatangan beliau menjadi kesempatan emas bagi para pencari ilmu untuk hadir langsung di majelis beliau.

Masih di bulan yang sama dengan kedatangan sosok ulama, akan hadir pula beberapa artis mancanegara untuk menggelar konsernya di Jakarta. Di antaranya 2PM dan One Direction, dua boyband paling populer saat ini. Kedatangan para pria kemayu itu tentu sangat dinantikan para penggemarnya, muda mudi haus hiburan, untuk hadir langsung di konser mereka.

Kajian dan konser di waktu yang nyaris bersamaan, seakan menjadi gambaran dua cabang jalan yang harus dipilih para pemuda akhir zaman. Sebuah pilihan yang terasa sulit oleh sebagian orang namun mudah bagi yang lain. Dua jalan yang mewakili apa yang akan didapat setelahnya. Gambaran visi hidup dalam meraih akhirat atau sekedar dunia tersaji bagi kita di depan mata.

Teduh coba menyajikan sebuah ilustrasi dari dua hal berbeda. Gambaran situasi kontras yang dengannya kita coba melihat lagi ke dalam diri tentang tujuan hidup di dunia. Inilah potongan singkat dari episode kehidupan dunia berjudul, Satu Hari di Kajian vs Konser.

Pertama, Persiapkan Diri

Umumnya orang akan berusaha agar dapat berperilaku identik seperti orang yang dicintai atau idola mereka. Maka ketika tahu sang idola akan menggelar konser, kita berusaha menyiapkan diri sebaik mungkin, terkhusus di sisi tampilan. Baju, make up, hingga aksesoris lain harus mirip dengannya. Tak peduli cuma ikut arus, karena lebih penting bisa tetap update. Tak penting apakah hati kita sungguh-sungguh cinta atau tidak, fans atau bukan, intinya penampilan jadi yang terdepan kala datang ke sebuah konser.

Namun ulama bukanlah idola dunia, kita mencintai serta hormat kepadanya karena ilmu dan cinta yang sama pada sebaik-sebaik idola manusia, Muhammad shalallahu’alaihi wa sallam. Hal pertama yang harus kita siapkan saat ingin hadir ke sebuah kajian agama justru hanya sebuah hati. Hati yang ikhlas untuk menuntut ilmu, mencari jawaban arti hidupmu. Tidak ada standarisasi tampilan selama masih dalam batasan syariat, segala rupa pakaian bisa dikenakan. Yang diharapkan adalah niat tulus dari hatimu akan diterima dan diganjar pahala.

Kedua, Tiba di Lokasi Acara

Hadir di acara yang memiliki magnet massa, tentu diperlukan persiapan lebih. Terutama karena akan berbaur dengan pria dan wanita di sekitar lokasi acara, entah di pelataran parkir atau di halaman depan gedung. Di acara seperti ini, memang sulit untuk mencapai sebuah kondisi ideal yang sesuai syariat. Campur baur pria dan wanita akan tetap terjadi.

Bedanya wanita di event kajian lebih membantu para pria untuk menjaga matanya dengan mengenakan pakaian yang menutup tubuh secara rapat dan longgar. Di tempat konser? Well, gaya berpakaian kadang memang tergantung jenis musiknya. Konser metal mungkin lebih tertutup, dibanding musik Kpop yang kurang bahan. Tapi faktor body fit tetap sama saja. Cukuplah membuat bergejolak pun bergairah pria normal, terlebih ditambah paras ayu wanita yang terpapar polusi kota.

Kajian akan memisahkan pria dan wanita, beda dengan sebuah konser yang membuat areanya menyatu. Keadaan itu bisa membawa dampak psikologis positif, terutama bila sungguh-sungguh ingin tujuan hadir di acara tersebut. Perkara yang kedua ini, niat pada diri kita menjadi sangat penting.

Ketiga, Meraih Tujuan

Boyband sama seperti artis pada umumnya punya misi utama menghibur orang. Mereka mengajak penonton melupakan penat dan masalah hidupnya sehari-hari. Pada akhirnya itu jadi sebuah perbuatan sia-sia karena setelah lampu panggung dimatikan, dan sang artis pulang ke rumahnya, masalah hidup dunia akan kembali datang mengetuk pintu diri kita.

Berbanding terbalik dengan ulama. Kita mendatanginya untuk mendapat penjelasan mengenai Al-Qur’an dan hadis dari orang yang belajar disiplin ilmu agama. Ulama menyayangi sesama manusia sebagaimana dicontohkan Rasulullah. Kajian mereka mengajak kita berpikir tentang tujuan hidup, berbagai persoalan di dalamnya, dan cara mengatasinya. Usai karpet dilipat dan sang ulama kembai ke rumahnya, kita justru semakin optimis menempuh jalan yang semakin terang di atas petunjuk Allah Ta’ala.

Keempat, Kenangan yang Tertinggal

Konser bisa jadi kenangan tak terlupakan, idola di depan mata menghadirkan kesan tak terlupakan. Ingatan kita akan menerawang tertinggal di sana, sambil berharap dapat mengulangnya kembali. Maka tekad dicanangkan, apabila sang pujaan kembali, kita yang terhibur siap hadir di sana bernyanyi bersama. Memori tersebut terus tertanam, membusuk di pikiran. Tidak terasa usia kita semakin tua.

Kajian bisa jadi peristiwa membosankan bagi sebagian orang, namun penuh pelajaran bagi yang lain. Tidak ada hingar bingar alat musik atau gemerlap lampu panggung. Tapi hal itu justru membawa kita untuk ingat pada masa depan di sana. Masa depan yang tidak berhenti di dunia saja. Masa depan yang dapat membawa kita pada sebuah tekad yang semakin kuat di akhirat sana.

Kelima, Akhir Berkesan

Encore lagu selesai dibawakan. Kita dipersilahkan meninggalkan tempat acara. Namun sang idola masih berharap kita membawa uang lebih agar tidak lupa membeli merchandise official. Kenang-kenangan untuk mengesahkan diri kita jadi seorang penggemar sejati. Sebuah hal yang tak berarti dan tak dibawa mati, meski mungkin membuat kita semakin kece meskipun jadi kere.

Sementara ulama tidaklah membuat foto diri bertanda tangan. Tidak pula album rekaman nan menawan. Ilmunya dibagikan dengan ikhlas dengan harapan kita memahami dan mengamalkannya. Kenangan yang terserak dari sebuah kajian ibarat air yang diminum saat sedang kehausan. Kita pun bisa membeli kitab para ulama di sekitar lokasi acara, atau sekedar busana sederhana untuk menutup aurat kita. Bila dibarengi niat ikhlas, apa yang kita dapat setelahnya akan menemani sesudah kita mati.

Kajian dan konser hanya potongan kecil dari sebuah pertentangan dalam hidup. Banyak hal lain yang bisa kita temui di luar sana. Namun kita selalu punya pilihan untuk melangkahkan kaki di antara banyaknya jalan kehidupan. Pertanyaannya, jalan mana yang hendak kita tempuh?

Jika masih bingung menjawabnya, perhatikan clue berikut ini. Nabi kita, Muhammad shallallahualaihi wa sallam telah bersabda, “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mempermudah baginya jalan menuju surga.” [H.R Muslim]

Semoga bermanfaat. Wallahua’lam bishowab

Oleh : Dimas Ronggo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.