Saatnya Aku Belajar Pacaran (Ehh, Pernikahan)

Teduh.Or.Id – Tulisan ini bukan dibuat untuk menandingi buku yang sedang hangat diperbincangkan oleh banyak orang. Mengusung judul Saatnya Aku Belajar Pacaran karya penulis produktif dari Surabaya bernama Toge Aprilianto. Buku tersebut belakangan cukup kontroversi dan sukses memancing emosi para netizen diberbagai media jejaring sosial disebabkan adanya halaman yang membahas hal agak mengarah pada hubungan seksual dalam bingkai yang tidak sah sebagai suami istri.

Tapi, sebenarnya tak berhenti disana, setelah menuai banyak sorotan dari berbagai pihak, bahkan dari lembaga yang menaungi penerbitan buku-buku di Indonesia, maka akhirnya sang penulis mengajukan permohonan maafnya dan bersedia bukunya ditarik dari peredaran. Namun, sampai saat ini mungkin kita bisa untuk mencoba menaruh perasaan baik sangka pada penulisnya, mengingat penulis buku tersebut memang seorang psikolog yang cukup produktif menulis tema-tema parenting dan pembangunan keluarga Indonesia. Serta, tak jarang pula mengisi berbagai acara atau seminar pendidikan keluarga yang biasanya didampingi oleh seorang artis cukup terkenal dan sedang mendalami dunia parenting pula yakni, Mona Ratuliu. Tak ada gading yang tak retak, begitulah kiranya pepatah yang tepat untuk bisa menggambarkan hal tersebut.

Demikian sedikit info mengenai buku yang sedang ramai pembicaraan dipelbagai media, khususnya yang mengusung arusutama keislaman. Kita kembali kepada kemana arah dari seharusnya tulisan ini dibuat. Tulisan ini dibuat bukan pula untuk membendung apalagi mencegah para pemuda-pemuda kita untuk berpacaran. Karena bicara soal pacaran, pelakunya bukan hanya terjadi bagi para anak muda saja, melainkan bapak tua yang sudah berkeluarga, serta ibu muda yang kebetulan satu kantor dengan bapak tua itu bisa saling berpacaran dengan diawali dari sekedar berbagi cerita. Orangtua bilang itu namanya selingkuh, atau affair, atau skandal, atau puber kedua, atau apalah itu penyakitnya. Yang jelas ada rasa, ada cinta, ada cerita, dan ada waktu bersama. Maka terjadilah apa yang terjadi, bukan yang seharusnya tak terjadi, Pacaran.

Nampaknya, kata pacaran sudah sangat amat lazim, untuk menunjukkan hal yang bersifat superlatif dan saking biasanya hal tersebut. Pacaran bahkan berhasil masuk kedalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai bahasa baku dengan kata dasar yang berarti teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih. Jadi, jelaslah maksud dan definisi dari pacaran itu sendiri.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan seorang berpacaran, diantaranya ialah karena merasa tertarik atau adanya ketertarikan diantara dua belah insan yang diawali dengan perkenalan hingga akhirnya saling menyatakan perasaan. Faktor lain ialah adakalanya berpacaran adalah sebuah proses saling mengenal untuk selanjutnya berlanjut ke jenjang yang lebih serius, biasanya bertunangan lalu dilanjutkan dengan pernikahan. Sebagaimana sebuah proses, maka berpacaran memakan waktu yang adakalanya sebentar atau cepat. Meskipun kebanyakan berpacaran biasanya adalah sebuah proses yang memakan waktu lama atau sangat lama. Jarang yang didapati proses berpacaran terjadi hanya sebentar.

Lantas apakah ada dampak dari pacaran itu sendiri secara negatif? Tentu ada, diantaranya ialah suka atau tidak suka, saat dua insan saling mencinta berjumpa maka nafsu akan banyak berbicara. Sehingga mengajak pasangan tersebut justru berproses secara kebablasan dan beranjak pada hubungan yang sepakat kita katakan bahwa itu diharamkan. Walaupun, dibuku Saatnya Aku Belajar Pacaran tidak dibahas soal sudut pandang agama, namun yang nampak ialah jika pacar mengajak berhubungan maka tak ada salahnya untuk mengiyakan selama hal tersebut dilakukan atas dasar suka sama suka.

Akhirnya, terjebaklah bahwa acuan berpacaran sebagai pintu gerbang pernikahan. Dalam Islam bicara pernikahan adalah bukan bicara soal hubungan yang main-main. Konsekuensi yang akan disandang pun bukan sembarang. Karena komitmen pernikahan itu selayaknya, bahkan seharusnya dimulai dari sesuatu yang baik, diridhai, dan diberkahi dalam kacamata syariat Islam. Susahlah bila merajut benang pernikahan jika mula-mulanya adalah berpacaran hingga sekian lama, akting kemesraan dipertontonkan pada khalayak ramai, hingga saling perhatian pun disematkan satu sama lain secara berlebihan. Akan tetapi, saat dalam mahligai pernikahan, semua kenikmatan saat pacaran susah dicari ketika berada dalam jalinan pernikahan. Padahal yang demikian sudah sah menurut agama, dan halal dari sisi mana pun.

Maka bagaimana memulai pernikahan tanpa pacaran? (dalam hal ini ialah pacaran yang ditujukan untuk menuju jenjang pernikahan). Jika menelisik lebih jauh maka nanti kita akan temukan banyaknya aturan-aturan dalam Islam soal pernikahan tanpa pacaran.

Pertama ialah, menikahlah dengan yang kita sukai, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Nikahilah oleh kalian wanita-wanita yang kalian senangi.” (QS. An Nisa:3). Juga dengan wanita yang subur lagi penyayang seperti yang disabdakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Menikahlah kalian dengan wanita penyayang lagi subur, karena (pada hari kiamat nanti) aku membanggakan banyaknya jumlah kalian dihadapan umat-umat yang lain.” (HR. Abu Daud).

Kedua, yakinlah bahwa setiap manusia memiliki jodohnya masing-masing sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya, Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri agar kalian merasa tenang dengannya dan Dia menjadikan mawaddah serta rahmah diantara kalian. Sesungguhnya yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang mau berfikir.” (QS. Ar Rum : 21).

Ketiga, lihatlah wanita yang diinginkan sebatas ketetapan syariat dengan didampingi oleh mahramnya. Karena tak dipungkiri bagi setiap pria akan condong kepada kecantikan serta tampilan fisik dari calon istrinya, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam saat sahabat Al Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu anhu meminang wanita dan beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bertanya perihal wanita tersebut, “Apakah engkau telah melihat wanita yang kau pinang tersebut?” Maka dijawab oleh Mughirah bin Syu’bah: “Belum”. Sehingga Rasulullah pun mewasiatkan, “Lihatlah wanita tersebut, karena dengan seperti itu akan lebih pantas untuk melangengkan hubungan diantara kalian berdua (kelak).” (HR. An Nasai dan Tirmidzi).

Keempat, jika sudah dijumpai pilihan hati dan sudah mencocoki syariat dari beberapa kriteria yang ada maka temuilah wali dari si wanita, apatah lagi jika yang datang adalah pria shalih dengan kesungguhan untuk menikah. Dikhawatirkan jika tidak diterima bisa menimbulkan fitnah bagi kedua belah pihak. Perhatikanlah sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Apabila datang kepada kalian (para wali) seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya (untuk meminang wanita kalian) maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian. Bila kalian tidak melakukannya maka akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang benar.” (HR. Tirmidzi).

Kelima, ketika semua prosesi selesai, kriteria walaupun tidak semua terpenuhi namun ketertarikan hati sudah menenenangkan sebagai sebuah pilihan untuk merajut kebahagiaan, maka pinang dan nikahi dengan mahar yang sederhana tanpa memberatkan, disusul dengan pelaksanaan walimah semampunya yang terpenting adalah memiliki tempat berdiam bersama sebisa mungkin sekalipun dengan keadaan apa adanya dibandingkan tinggal di rumah mertua. Karena begitulah para sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dikala usai menikah, mereka tinggal berpisah dari orangtuanya bahkan dari mertuanya. Dan puncak dari segalanya ialah perbanyak berdoa diantara pasangan tersebut agar Allah limpahkan keberkahan dan kebaikan dalam mahligai pernikahan.

Sungguh indah atsar dari Abu Sa’id maula Abu Usaid Malik bin Rabi’ah Al Anshari. Ia berkata: “Aku menikah dalam keadaan aku berstatus budak. Aku mengundang sejumlah sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, diantara mereka tampak hadir ialah Ibnu Mas’ud, Abu Dzar, dan Hudzaifah radhiyallahu ‘anhum. Lalu ditegakkan shalat, majulah Abu Dzar untuk mengimami. Namun orang-orang menyuruhku agar aku yang maju. Ketika aku menanyakan mengapa demikian, maka mereka menjawab memang seharusnya demikian. Aku pun maju mengimami mereka dalam keadaan berstatus budak, mereka mengajariku dan mengatakan, “Bila engkau masuk menemui istrimu, shalatlah dua rakaat. Kemudian mintalah kepada Allah dari kebaikannya, dan berlindunglah dari kejelekannya. Seterusnya, urusanmu dengan istrimu…” (Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf dan Syaikh Albani dalam Adabuz Zafaf hal. 23).

Jadi bagaimana dengan pacaran setelah kita ulas secara singkat soal sebenar-benarnya cara untuk menuju jenjang pernikahan yakni dengan cara yang Islam tetapkan? Tentu hal yang demikian adalah mutlak haram bahkan dapat mendatangkan kemudharatan (keburukan) bagi banyak orang, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka…” (QS. Ar Rum : 41).

Pacaran menjerumuskan kepada perzinahan, dan sungguh suatu yang aneh di masa sekarang saat segala sesuatunya terbalik. Jika dalam Islam respon dan agresifitas untuk meniti jenjang pernikahan aktif dilakukan oleh pria, akan tetapi dalam pacaran masa kini, maka tak sedikit pemandangan justru agresifitas dan keaktifan dimiliki oleh para kaum wanita, entah itu gadis (agak susah jaman sekarang mencari gadis yang menjaga kehormatannya, terlebih di kota besar karena sudah terkontaminasi wabah pacaran) ataukah justru para wanita karir yang sudah memiliki keluarga namun berpacaran kembali ataukah sekedar teman tapi mesra.

Mari jaga diri kita, jaga keluarga kita, jaga pendidikan atas diri kita masing-masing. Dan yakinlah bahwa Allah akan menganugerahkan jodoh kepada seseorang sesuai dengan pribadi masing-masing orang tersebut. Ini bukan soal, jika jodoh mesti wajahnya sama lho yaa, akan tetapi soal jodoh ialah karakter dan kepribadian saling mengisi dan saling memahami. Sehingga tercipta jalinan kebahagiaan saling menghargai dari sebuah janji suci. Dimana hal itu sulit didapat jika diawali melalui fase berpacaran.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat dan bisa menyadarkan kita, bahwa sekali lagi, pacaran itu sama sekali tak berguna, lelah perasaan, pikiran, dan terkurasnya keuangan disebabkan hasrat untuk membahagiakan bersifat semu dan tak jujur adanya.

Wallahu ‘Alam bi Shawwab.

Ditulis oleh: Rizki Abu Haniina

Sumber gambar:

http://psikologid.com/wp-content/uploads/2013/06/1.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.