Saat Galau, Mengapa Sabar Terasa Berat?

Teduh.Or.Id – Tidak ada keinginan dan keadaan yang butuh kesabaran, karena memang sejatinya kehidupan ini diciptakan Allah sebagai tempaan. Baik dan buruknya membutuhkan kesabaran, sesuatu yang bagus dan indah tak mungkin diraih begitu saja tanpa dengan usaha serta kesabaran. Ada benarnya kata orang; “tak ada yang Instan di dunia ini, mie instan saja harus dibuka dan dimasak baru kemudian bisa dinikmati”.

Saat-saat susah dan sempit adalah bagian tak terelakkan dalam hidup, dan butuh sabar untuk keluar darinya menuju suasana yang lapang dan bahagia.

Hakikat sabar sebenarnya adalah bagian dari perangai unggul yang dapat mencegah dari berbuat buruk, dan sabar adalah satu kekuatan jiwa yang dengannya memperbagus keadaan serta meluruskannya. demikian ungkap Imam Ibnul Qayyim.

Selain itu, ada banyak ungkapan Ulama dan orang Shalih tentang sabar, namun yang disebutkan oleh Imam Ibnul Qayyim seolah telah cukup mengemas hakikatnya. Dalam penjelasan lainnya, Beliau juga berkata; “Sesungguhnya bagi Allah ada kewajiban atas segenap hambaNya agar beribadah dalam keadaan baik dan dalam keadaan sebaliknya. Maka wajib dan harus bagi setiap hamba membaguskan diri ketika dalam keadaan baik dengan cara bersyukur, dan membaguskan diri manakala dalam keadaan susah dengan bersabar.”

Sabar menghadapi cobaan hidup adalah bahasan yang sudah sangat ramai dibincangkan, tidak hanya oleh para pendakwah, namun bahkan juga dibawakan oleh para motivator ulung sehingga tak jarang menjadi sebuah tema menarik nan menjual. Sesuatu yang telah banyak dan ramai biasanya tidaklah mahal dan istimewa.

Menjalani hidup sebagai seorang muslim yang taat dalam aturan Islam, tentu membutuhkan kesabaran, dan inilah yang dimaksud dalam judul kali ini. Hal ini sesuai dengan salah satu makna sabar yang disampaikan oleh Abu Ishaq Al-Khawwash (Wafat 191 M) “Sabar adalah tegar di atas hukum-hukum Al Qur’an dan Sunnah.”

Sabar yang paling berat atas jiwa dalam hal ini tergantung pada kuatnya motivasi atau dorongan berbuat dan adanya kemudahan untuk melaksanakan. Kata kuncinya adalah pengaruh yang kuat dan kemudahan melaksanakan. Apabila kedua hal ini berkumpul pada diri seseorang maka sabar saat itu sungguh akan menjadi sangat berat, dan jika kedua hal tersebut tidak ada, maka bersabar bisa jadi menjadi lebih mudah dan ringan.

Seorang yang tidak memiliki motivasi dan dorongan kuat untuk membunuh, mencuri, minum khamr, dan lainnya. Dan juga tidak mudah baginya untuk melakukan semua itu, maka bersabar tidak melakukan semua itu akan menjadi lebih mudah untuknya.

Sebaliknya, seorang yang memiliki motivasi atau dorongan yang kuat untuk membunuh, seperti dendam kesumat atau takut dibongkar rahasia besar yang dia sembunyikan, disamping itu pula juga memiliki kekuatan dan taktik lengkap yang bisa mempermudah untuk melancarkan aksinya, maka ketika itu bersabar menjadi sangat berat.

Karenanya, sabarnya seorang penguasa dari tak mendzalimi rakyat atau bawahannya, dan sabarnya seorang pemuda dari berbuat zina, dan sabarnya orang yang bergelimang harta dari menimati kelezatan dan syahwat haram, adalah satu kesabaran yang bernilai disisi Allah yang Maha Bijaksana.

Dalam Hadits yang disebutkan pada Al-Musnad Imam Ahmad dan lainnya dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Rabbmu kagum terhadap pemuda yang tidak memiliki Shobwah (condong kepada hawa nafsu)”. Karena keremajaan adalah jenjang yang sangat mendorong kepada lawan jenis, disamping itu tidaklah sulit baginya untuk mendapatkan wanita untuk dia zinahi, namun ternyata pengaruh dan kemudahan tersebut tidak membuatnya mengiyakan berzina.

Karenanya juga, bersabar dari maksiat yang dilakukan lisan adalah bagian sabar yang terberat, karena kuatnya dorongan dan kemudahan ada dalam berbicara, seperti ghibah, namimah (menyampaikan pembicaraan kepada orang lain dengan tujuan merusak walau pun ucapan itu benar), berbohong, berdebat, memuji diri sendiri dengan gestur tubuh dan bahasa atau secara terang-terangan, menjatuhkan orang yang dibencinya dan memuji muji orang yang disukainya dan lain sebagainya. Saat itu kekuatan dorongan berbicara telah menyatu dengan mudahnya lisan untuk berbicara, sehingga bersabar dalam keadaan seperti itu adalah satu tindakan yang sangat berat. Sebab itulah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda kepada Mu’adz; “Tahanlah lisanmu”. (HR: Tirmidzi).

Terlebih apabila maksiat lisan tersebut telah menjadi satu kebiasaan atau latah seseorang, maka akan sangat sulit untuk bersabar tidak melakukannya. Tidaklah mengherankan, ketika seorang yang siangnya berpuasa sedang malamnya bertahajjud, dan sangat berhati hati dengan dosa besar, namun lisannya bagai mesin mengucapkan ghibah, Namimah, dan berbicara atas Allah tanpa Ilmu.

Sabarkah Kita ?


Diringkas dan disesuaikan dari satu bab kitab ‘Uddatush Shabirin Wa Dzakhiraotus Syakirin. Karya Imam Ibnul Qayyim .

Gambar dari: http://www.beritis.com/wp-content/uploads/2014/10/loady.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.