Ringkasan Fikih Adab Berqurban dan Sunnah-Sunnahnya

Berikut ini kami sampaikan kepada Anda ringkasan Fikih Adab dan Sunnah dalam berqurban, ringkasan ini kami nukilkan dari sebuah risalah berjudul “Mulakh-khash Ahkamul Udh-hiyati Minal Mausu’atil Fiqhiyyah” yang diterbitkan secara online dalam bentuk PDF oleh www.dorar.net semoga bermanfaat.

1. Hukum menggundul rambut dan memotong kuku bagi orang yang hendak berkurban.

Fuqaha (ulama fikih) berbeda pendapat mengenai hukum memotong rambut dan memotong kuku bagi siapa saja yang hendak berkurban, perbedaan pendapat mereka secara garis besar terbagi menjadi tiga pendapat:

pendapat pertama: Boleh , dan ini adalah Madzhab Hanafiyyah, dan satu Qaul (pendapat) dalam Madzhab Al-Malikiyyah, dan dengannya Al-Laits bin Sa’d berpendapat, dan telah dipilih oleh Ibnu Abdil Barr, dan beliau menceritakan pendapat ini berasal dari segenap Fuqaha’ Madinah dan Kufah.

pendapat kedua: Haram bagi siapa saja yang hendak berkurban memotong rambutnya dan memotong kukunya sampai dia berkurban. pendapat ini adalah pendapat dari Madzhab Al-Hanabilah, dan satu Wajh (pendapat) dari Asy-Syafi’iyyah, dan adalah pendapat sekelompok dari (ulama) Salaf,  Ibnu Hazm, Ibnul Qayyim, Ibnu Baz dan Ibnu Utsaimin, mereka semua telah memilih pendapat ini.

pendapat ketiga: Makruh bagi siapa saja yang hendak berkurban memotong rambutnya dan memotong kukunya sampai ia berkurban, dan ini adalah pendapat Al-Malikiyyah, Asy-Syafi’iyyah, dan Qaul (satu pendapat) dari Al-Hanabilah.

2. Adakah hukum Fidyah (denda) bagi siapa saja yang hendak berkurban akan tetapi ia memotong rambut dan kukunya?

Tidak ada fidyah atas siapa saja yang memotong rambutnya atau kukunya walhal ia hendak akan berkurban, dan Ijma’ telah nukilkan atas hal tersebut oleh Ibnu Qudamah dan Al-Mawardy.

3. Menghadap ke arah kiblat ketika menyembelih.

disunnahkan agar orang yang akan menyembelih (jagal) menghadap kiblat, dan hal ini telah disepakati oleh Empat Madzhab Fikih yang ada, dan telah diceritakan adanya Ijma’ dalam masalah ini.

4. Melakukan Nahr pada Unta, dan penyembelihan pada kambing, dan Takhyir (memilih) antara melakukan Nahr atau sembelih pada sapi.

disunnahkan Nahr pada unta, (Nahr adalah metode sembelih khusus pada unta dengan cara menusuk unta pada bagian Lubbah (leher tempat kalung yang ada pada bagian dada unta) untuk lebih jelasnya lihat  https://www.youtube.com/watch?v=3F2unx9KWB0.  dan disunnahkan menyembelih pada kambing dengan cara disembelih dan boleh memilih antara cara disembelih atau pun di Nahr pada sapi. para Ulama telah menukil Ijma’ atas sunnahnya melakukan Nahar atas unta, dan disembelih atas kambing, diantara mereka adalah Ibnu Hazm, Ibnu Rusyd, Al-Qurthuby, Ibnu Qudamah, An-Nawawy. sedangkan yang menukil Ijma’ atas bolehnya memilih antara Nahar atau sembelih pada sapi adalah Ibnu Rusyd dan Al-Qurthuby.

5. Takbir ketika melakukan eksekusi hewan kurban

disunnahkan bertakbir setelah membaca Basmallah ketika hendak menyembelih atau pun Nahar, para Ulama telah menukil Ijma’ atas hal ini di antaranya adalah Ibnu Qudamah dan Al-Qaary, sementara yang menukilkannya sebagai satu bentuk yang telah diamalkan kaum muslimin sejak dahulu kala adalah At-Tirmidzy, dan sekelompok ulama dari kalangan Al-Malikiyyah.

6. Melakukan sembelih sendiri secara langsung

disunnahkan menyembelih sendiri jika mampu, dalam hal ini Imam An-Nawawy telah menceritakan Ijma’ atas Sunnahnya hal tersebut.

7. Makan dan memberi makan dan menyimpan daging kurban

boleh bagi siapa saja yang berkurban memakan daging kurbannya dan menyimpannya, dan ini merupakan kesepakatan dari Empat Madzhab Fikih yang ada.

8. Memberikan jagal daging kurban sebagai upah atas tugasnya

Tidak boleh memberikan jagal bagian daging dari kurban yang disembelihnya sebagai upah, dan hal ini merupakan kesepakatan dari Empat Madzhab yang ada.

9. Berkurban untuk orang yang telah wafat secara tersendiri

Tidak dianjurkan berkurban untuk orang yang telah wafat secara tersendiri, (maksudnya seseorang berkurban dari awal secara khusus untuk orang yang telah wafat tanpa ada keikut sertaan niat untuk dirinya sendiri dalam kurban tersebut, misalnya dia berkata: kurban ini khusus untuk mendiang fulan saja.) pendapat ini adalah Madzhab Asy-Syafi’iyyah dan telah dipilih oleh Ibnu Utsaimin.

Semoga dengan memperhatikan Adab-Adab dan Sunnah dalam berkurban, Allah menerima kurban Anda dan mencatat Anda ke dalam golongan orang-orang yang bertaqwa.

Abu Affaf.