Redam Amarah Ataukah Lampiaskan !?

Mendidihnya darah dalam hati karena ingin membalas, demikian para Ulama memaknakan Ghadhab atau marah.

Marah adalah satu sifat yang dimiliki oleh setiap manusia, dan meskipun pada dasarnya bukanlah sifat yang terpuji, namun bisa dianggap baik pada tempatnya, seperti marah karena Agama Allah ‘Azza Wajalla dihinakan dan ditentang.

Nabi Shallallahu’ Alaihi Wasallam telah melarang ummatnya marah, itu menandakan bahwa marah pada dasarnya tidak terpuji, kalaulah tidak begitu, tentunya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak akan melarangnya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, konon seorang lelaki pernah berkata kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam; “Wasiatkan (sesuatu) untukku,” beliau menjawab; “Jangan marah, dan orang itu terus mengulangi pertanyaannya beberapa kali, dan Nabi tetap menjawab; “Jangan marah.” [HR: Bukhari]

Al-Hafidz Ibnu Rajab Al-Hanbaly Rahimahullah [Wafat 795 H.] dalam Jami’ul ‘Ulumi Walhikam menyebutkan; makna larangan marah dalam Hadits ini mengandung dua makna, satu di antaranya ialah; “apabila sedang marah maka Jangan berbuat dengan tuntutan atau maunya amarah tersebut, akan tetapi lawanlah dirimu sendiri agar tidak meluapkannya, dan jangan sampai melakukan tindakan konyol karena dorongan amarah, sebab apabila amarah telah menguasai seorang maka ia bagaikan sosok yang akan memerintah dan menahan dirinya.”

Beranjak dari hal ini, dapat dikatakan bahwa anjuran agar amarah dilampiaskan sampai mereda dan hilang, adalah satu pendapat yang tertolak dan bertentangan dengan akhlak mulia yang diajarkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Bagaimana Meredakan amarah?

  1. Meredam amarah dengan membaca Isti’adzah

Dua orang bertengkar di depan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para Shahabat sedang duduk bersamanya, Beliau kemudian bersabda: “Sungguh aku mengetahui satu ucapan yang seandainya ia membacanya, hilanglah apa yang ia dapatkan (amarah), kalau saja ia membaca ; “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.” [HR: Bukhari Muslim]

  1. Meredam amarah dengan menjauh dari posisi membalas

Dari Abu Dzarr bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda; “Apabila seorang dari kalian marah dalam keadaan posisi berdiri, maka duduklah, dan kalau marah itu hilang darinya (maka itu bagus) jika tidak maka berbaringlah.” [HR: Abu Dawud dan Ahmad]

  1. Meredamnya dengan diam

Dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘Anhu beliau bersabda; “Apabila seorang dari kalian marah, maka hendaklah diam.” Nabi mengucapkan ini tiga kali”. [ HR: Ahmad, Albazzar. Dalam Sanadnya terdapat seorang periwayat bernama Laits bin Abi Sulaim, dan beliau dinilai Dha’if.]

  1. Meredamnya dengan berwudhu’

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda; “Sesungguhnya amarah itu dari setan, dan sesungguhnya setan diciptakan dari api, dan api dapat dipadamkan dengan air, maka apabila seorang dari kalian marah, berwudhu’lah.” [HR: Ahmad, Abu Dawud, Bukhari dalam Tarikhul Kabir dan Al-Baghawy dalam Syarhussunnah. Dan Sanadnya Hasan. Lihat catatan kaki Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth dalam kitab Jami’ul Ulum Walhikam.]

Inilah cara meredam amarah yang diajarkan dalam islam, bukan dengan cara sebaliknya, yaitu dengan melampiaskannya sesuka hati dengan berteriak, memaki-maki, atau memukul mukul benda sampai puas. Apalagi jika sampai membuat pasilitas khusus untuk meluapkan amarah, tentu hal ini sangat jauh dari Sunnah.

Juga sebagai bantahan atas Tahayul yang beredar di masyarakat; “kalau amarah di tahan-tahan bisa sakit struk atau tekanan darah tinggi”.

Tahayul ini sangat bertentangan dengan Hadits Hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang tersebut di atas. Seandainya menahan amarah mendatangkan penyakit sudah barang tentu Nabi akan melarangnya, sebab tidak mungkin Nabi mengajarkan satu hal yang dapat membuat ummatnya celaka, dan hal itu juga bertentangan dengan kaedah umum ajaran Islam yang mengajarkan untuk menyudahi apa apa yang membuat celaka dan mengharamkan hal hal yang dapat membuat celaka dan mengancam nyawa manusia. Maka sangat tidak mungkin syariat islam akan mengajarkan hal-hal yang tertolak dalam syariat islam itu sendiri.

Dan ingatlah, meredakan amarah dan tidak melampiaskannya adalah satu sifat terpuji, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda; “Orang yang kuat itu bukanlah pegulat, akan tetapi orang yang kuat adalah siapa saja yang menguasai dirinya ketika marah.” [HR: Bukhari Muslim]

Abu Affaf