Ramadhan; Kita Berjumpa dan Kita Terlupa

Kita dan bulan Ramadhan berjumpa bukan untuk yang pertama kali, pertemuan kita dengannya telah bisa dihitung dengan sepuluh jari. Jumlah yang tidak sedikit tentunya. Namun selalu ada saja hal yang tersisa dan terlewat saat bersamanya, bagai seorang kekasih yang lupa dengan apa yang hendak diutarakannya, karena gugup setiap kali bertemu dengan kekasih hatinya, sehingga perbincangan menjadi selalu ada yang baru saat bertemu kembali dengannya.

Menjaga diri dari pembatal puasa secara umum adalah satu sisi yang sering terabaikan, terlebih dengan pembatal yang bersifat maknawi atau yang dapat membatalkan pahala puasa seperti mencuci mata pada pemandangan yang dapat membangkitkan gairah birahi, atau seperti seloroh bincang-bincang yang kadang tak sadar menyeret nama saudara kita secara ringan lisan ini dalam menyorot kekurangannya.

Pada sisi inilah kiranya setiap muslim harus berjihad menahan diri dan mempuasakan hawa nafsunya, kita harus ingat baik-baik sabda sang utusan Shallallahu Alaihi Wasallam :

“Siapa saja yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan berbuat dengan (perbuatan) dusta maka tiadalah bagi Allah hajat dengan seorang pada meninggalkan makan dan minumnya”.

Dalam sabda yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari tersebut terdapat petuah sangat dalam, bahwa puasa Ramadhan bukan hanya meninggalkan makan dan minum saja, namun mempuasakan jiwa dari berbuat kerusakan adalah bagian terpenting dan bahkan menjadi tolok ukur untuk bernilai atau tidaknya menahan makan dan minum seharian.

Oleh sebab itulah dalam sabda lainnya, sang Utusan Shallallahu Alaihi Wasallam memberikan kabar gembira bagi mereka yang berhasil memenjarakan liarnya emosi dan kelamnya jiwa saat berpuasa, beliau bersabda:

“Setiap amal ibadah anak Adam dilipat gandakan, satu kebaikan (setimpal dengan) sepuluh kebaikan hingga mencapai tujuh ratus kelipatan, Allah berfirman : “Kecuali puasa, maka puasa itu milikku dan akulah yang akan membalasnya, dia tinggalkan Syahwatnya dan makanannya hanya demi aku”. (HR. Muslim)

Balasan untuk orang yang berpuasa sangatlah istimewa, sehingga taksiran banyaknya tidak disebutkan secara pasti oleh Allah Azza Wa Jalla, seolah balasan pahala tersebut bak satu kejutan yang luar biasa dan akan diberikan untuk anak Adam nanti dihari kenaikan kelasnya.

Namun perhatikanlah, pahala tersebut dijanjikan oleh Allah atas orang-orang yang puasanya bebas dari syahwat. Dari sisi inilah (syahwat) yang disebutkan terlebih dahulu oleh Allah dari pada meninggalkan makan. Hal ini kian menguatkan bahwa puasa sejati sesungguhnya adalah, seorang jiwa yang mampu mempuasakan jiwanya dari kegelapan dosa dan hawa nafsu tercela.

Itulah sekelumit peristiwa yang kadang tak mampu dan kerap terlupa tatkala bersama Ramadhan. Dan semoga Ramadhan kali ini kita bisa menjalaninya lebih baik dari pertemuan-pertemuan sebelumnya.

Oleh: Abu Affaf Musamulyadi Lukman