Qunut al-Nazilah Yang Terlupakan

 

Apabila suatu bencana menimpa kaum muslimin, maka disunnahkan melakukan Qunut al-Nazilah, Imam Annawawiy Rahimahullah berkata:

ويشرع القنوت في سائر المكتوبات للنازلة

“Dan disyariatkan Qunut dalam semua shalat yang fardlu karena Nazilah”, (turunnya bencana)[1]

Syamsuddin Al-Ramliy Dalam Syarh-nya (penjelasan) atas kitab  Imam Annawawiy ini, menjelaskan :

وذلك لما صح { أنه صلى الله عليه وسلم قنت شهرا متتابعا في الخمس في اعتدال الركعة الأخيرة يدعو على قاتل أصحابه ببئر معونة ويؤمن من خلفه } والدعاء كان لدفع تمردهم على المسلمين لا بالنظر للمقتولين لانقضاء أمرهم وعدم إمكان تداركهم . ويؤخذ منه استحباب تعرضه في هذا القنوت بالدعاء لرفع تلك النازلة

“Dan hal itu disunnahkan karena hadits yang shahih bahwa sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah qunut selama sebulan berturut-turut dalam shalat lima waktu dalam I’tidal yang terakhir, Beliau mendoakan (balasan) atas orang yang membunuh para Shahabatnya di daerah sumur Ma’unah dan orang yang dibelakangnya (beliau) mengaminkan qunutnya, dan doa tersebut untuk menahan keganasan mereka terhadap kaum muslimin, bukan untuk memperhatikan para shahabat yang terbunuh karena perkara mereka telah berlalu dan tidak mungkin untuk menyelamatkan mereka kembali. Dan diambil darinya (peristiwa yang shahih tersebut) kesunnahannya mengahadapinya di dalam Qunut ini dengan do’a untuk mengangkat krisis tersebut” [2]

Khathib Al-Syarbiniy rahimahullah menjelaskan:

 كأن نزل بالمسلمين خوف أو قحط أو وباء أو جراد أو نحوها للاتباع لأنه صلى الله عليه وسلم قنت شهرا يدعو على قاتلي أصحابه القراء ببئر معونة رواه الشيخان مع خبر صلوا كما رأيتموني أصلي

“Seperti turun meliputi kaum muslimin rasa takut, kekeringan, wabah, atau hama (belalang) atau semisalnya, demi mengikuti Nabi, karena Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah qunut selama sebulan mendoakan balasan atas orang-orang yang membunuh para Shahabatnya dari kalangan Qurra’ (penghafal Al-Qur’an) di daerah sumur Ma’unah, persitiwa ini telah diriwayatkan Bukhari-Muslim, bersama (dengan hadits itu, juga karena) hadits “Shalatlah kalian sebagaimana kalian telah melihatku Shalat.”[3]

Inilah amalan Sunnah yang ada dasarnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam dan telah dijelaskan oleh para ulama besar dalam menghadapi suatu krisis dan bencana seperti rumah yang porak poranda karena gempa, dan rasa takut, dan semacamnya.

Qunut Nazilah dalam konteks bencana gempa yang mengguncang lombok adalah agar gempa tersebut segera berlalu tidak kembali menelan korban sehingga tidak lagi menyisakan rasa takut. Adapun cara-cara selain dari yang dijelaskan di atas, maka butuh kehati-hatian untuk melakukannya, seperti melepas sembelihan ke laut, atau berkumpul atas nama Istighatsah atau hal lain semisalnya, dikhawatirkan seorang terjerumus ke dalam hal yang tidak pernah dicontohkan Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam – atau berprilaku menjadi seperti kaum yang memilih sesuatu yang lebih rendah padahal yang lebih tinggi dan terjamin telah ada.

Musa Abu ‘Affaf, BA.


[1] Matn Al-Minhajuthhalibin (1/100) Cet. Darulminhaj

[2] Al-Ramliy dalam Nihayatul Muhtaj (4/246)

[3] Mughnilmuhtaj (1/168)

Comments

comments