Qabliyyah Zuhur Empat Rakaat, Seperti Apakah

 

Shalat Qabliyyah zhuhur 4 rakaat sekali salam adalah bagian dari Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam walau pun yang lebih Afdlal adalah memisahkannya dengan salam setelah rakaat kedua, ini berdasarkan Hadits dari Ummulmukminin ‘Aisyah Radliyallahu ‘Anha :

 أن النبي صلى الله عليه وسلم كان لا يدع أربعا قبل الظهر

Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah meninggalkan Empat Rakaat sebelum Zhuhur. [HR: Bukhariy 1182]

Riwayat dari Ummulmukminin ‘Aisyah Radliyallahu ‘Anha lainnya menjelaskan bahwa empat rakaat tersebut didirikan Nabi shallallahu ‘Alaihi Wasallam di rumahnya:

عن عبد الله بن شقيق قال سألت عائشة عن صلاة رسول الله -صلى الله عليه وسلم- عن تطوعه فقالت كان يصلى فى بيتى قبل الظهر أربعا

Dari Abdullah bin Syaqiq beliau berkata: “Aku pernah bertanya kepada Ummulmukminin ‘Aisyah tentang shalat Tathawwu’ (Sunnah) Rasulillah shallallahu ‘Alaihi Wasallam maka beliau menjawab : “Beliau shalat di rumahku sebelum dzuhur empat rakaat.” (HR, Muslim, Abu Dawud, dan Tirmidziy)

Shalat empat rakaat sebelum zhuhur juga diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib Radliyallahu ‘Anhu, beliau berkata:

كان النبي صلى الله عليه و سلم يصلي قبل الظهر أربعا وبعدها ركعتين

“Nabi shallallahu ‘Alaihi Wasallam senantiasa shalat sebelum zhuhur empat rakaat dan setelahnya dua rakaat.” [HR. At-Tirmidzi No. 424]

Dan shalat empat rakaat ini lebih sering dilakukan Nabi dari pada shalat hanya dua rakaat, Ibnu Hajar Rahimahullah menceritakan dalam Fathul Bary (3/59) :

قال أبو جعفر الطبري الأربع كانت في كثير من أحواله والركعتان في قليلها

Imam Abu Ja’far Ath-Thabary berkata : “Empat rakaat adalah yang paling banyak dalam hal ihwalnya (nabi) sedangkan dua rakaat dalam hal ihwal yang sedikit.”.

Dari hadits-hadits ini dapat disimpulkan bahwa shalat empat rakaat sebelum (Qabliyyah) zhuhur adalah Sunnah, dan secara zahir (lahiriyyah redaksi hadits) dari hadits-hadits tersebut menunjukkan bahwa empat rakaat tersebut dilakukan dengan satu salam.

Apakah Empar Rakaat Ini Dengan Satu Salam Ataukah Dua Kali Salam ?

Tidak saya temukan perbedaan pendapat atas bolehnya shalat empat rakaat dengan satu salam sekaligus, akan tetapi para Ulama berbeda pendapat dalam masalah manakah yang lebih utama (Afdlal) dari kedua tatacara tersebut?

Sayyid Sabiq rahimahullah berkata :

وإذا صلى أربعا قبلها أو بعدها الافضل أن يسلم بعد كل ركعتين، ويجوز أن يصليها متصلة بتسليم واحد لقول رسول الله صلى الله عليه وسلم:

“Apabila ia shalat empat rakaat sebelumnya, atau setelahnya, yang lebih Afdlal ia melakukan salam setiap dua rakaat, dan boleh ia melakukannya secara bersambung dengan satu salam, karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

Dari Abdullah bin ‘Umar bahwa beliau berkata:

صلاة الليل والنهار مثنى مثنى يسلم من كل ركعتين.

“Shalat waktu malam dan siang adalah dua rakaat, dua rakaat dari setiap dua rakaat.” [HR: Malik Dalam Al-Muwathha’, Ahmad, Abu Dawud, Annasa’i, Ibnu Majah, Dan Attirmidzi, dan Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya, dan Ibnu Hibban.]. Demikian dari Fiqhussunnah (1/189).

Memisahkan empat rakaat dengan satu salam adalah pendapat Imam Asy-Syafi’i dan Imam Ahmad. Imam Attirmidziy rahimahullah berkata :

وقال بعض أهل العلم صلاة الليل والنهار مثنى مثنى يرون الفصل بين كل ركعتين

 وبه يقول الشافعي وأحمد

“Dan sebagian Ahli Ilmu berkata : Shalat malam dan (di waktu) siang (masing-masing) dua rakaat, dua rakaat, mereka berpendapat memisah di antara setiap dua rakaat, dan inilah perkataan Asy-Syafi’i dan Ahmad.” (Sunan At-Tirmidzi 2/289)

Imam Annawawi rahimahullah juga berkata :

مذهبنا أن الافضل في نفل الليل والنهار أن يسلم من كل ركعتين وحكاه ابن المنذر عن الحسن البصري وسعيد بن جبير وحماد بن أبي سليمان ومالك واحمد واختاره ابن المنذر

“Madzhab kami (Asy-Syafi’i) bahwa yang lebih utama (Afdlal) dalam shalat sunnah waktu malam dan siang adalah melakukan salam setiap dua rakaat, dan pendapat ini telah diceritakan oleh Ibnul Mundzir dari Al-Hasan Al-Bashri dan Sa’id bin Jubair, dan Hammad bin Abi Sulaiman, dan Malik dan Ahmad dan dipilih oleh Ibnul Mundzir.” (Majmu’ Syarh Muhadzzab 4/56)

Dan inilah yang dipilih oleh Syaikh Al-Albaniy rahimahullah, bahwa yang Afdlal ialah diselangi dengan salam, beliau berkata:

فهذا الحديث يستأنس به على أن الأفضل التسليم بعد كل ركعتين في الصلاة النهارية. والله أعلم.

“Maka Hadits ini[1] dapat menjadi penguat bahwa yang lebih Afdlal ialah salam setelah rakaat kedua dalam shalat (sunnah) diwaktu siang. Wallahu A’lam.” (Tamamul Minnah 1/239)

Wallahu A’lam.

Bekasi 23 Rajab 1439 H.

Musa Abu ‘Affaf, BA.


[1] Maksudnya adalah hadits yang menceritakan nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah shalat Dluha delapan rakaat dan beliau salam dalam setiap dua rakaatnya, hadits ini shahih dan dikeluarkan oleh Abu Dawud.