Puasa Seperti Ini Yang Dapat Mengantar Ke Pintu al-Rayyan

Teduh.Or.Id – Pada umumnya semua kaum muslimin telah mengetahui balasan pahala untuk orang yang berpuasa Ramadhan. Adalah surga yang terdapat padanya sebuah pintu bernama al-Rayyan tidak asing di telinga kita.

 إن في الجنة بابا يقال له: الريان يدخل منه الصائمون يوم القيامة، لا يدخل منه أحد غيرهم يقال: أين الصائمون، فيقومون لا يدخل منه أحد غيرهم فإذا دخلوا أغلق فلم يدخل منه أحد

“Sesungguhnya di dalam surga terdapat satu pintu yang disebut dengan al-Rayyan. Orang-orang yang berpuasa akan masuk (surga) melalui pintu tersebut pada hari kiamat, tidak ada seorang pun selain mereka masuk melaluinya. Kelak ada yang memanggil : “Manakah orang-orang yang berpuasa”, lalu mereka pun berdiri, tidak ada seorang pun selain mereka masuk melaluinya, dan apabila mereka telah masuk ditutuplah dan tidak seorang pun selain mereka yang bisa masuk” (HR: Bukhari Muslim.)

Orang-orang yang berpuasa sehingga mereka mendapatkan pahala surga dan masuk melalui pintu al-Rayyan, tentunya bukan mereka yang berpuasa tapi hanya sekedar menunda waktu makan dan minum ke waktu malam, akan tetapi mereka yang berpuasa dengan kualitas yang ditetapkan oleh Allah dan Rasulnya.

Seperti apakah ketetapannya? Agar kita dapat mawas diri, mari luangkan sedikit waktu untuk menyibaknya :

  1. Berpuasa Karena Iman dan Ihtisab

Balasan surga atau ampunan dosa untuk mereka yang berpuasa telah dikaitkan dengan iman dan Ihtisab oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagaimana disebutkan dalam sabdanya:

  من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

“Siapa saja yang berpuasa ramadhan dengan keimanan dan Ihtisab diampunkan untuknya dosa-dosa yang telah lalu.” (HR: Bukhari dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu.)

Dengan keimanan maksudnya; dia berpuasa dengan dorongan keimanannya terhadap hak dan kewajiban berpuasa itu sendiri, dan yang dimaksud dengan Ihtisab; dia berpuasa mencari pahala dari Allah.

Makna lain yang dimaksud dari Ihtisab adalah seperti yang sebutkan juga al-Hafidz Ibnu Hajar Rahimahullah menukil dari perkataan al-Khathhabiy Rahimahullah adalah; berpuasa karena dia berkeinginan mendapatkan pahalanya disamping itu, dia juga melakukannya dengan kerelaan jiwa tanpa merasa berat menjalankan puasa itu dan tidak juga mengeluhkan hari-hari puasa itu panjang . (Lihat Fathul Bariy Syarh Shahihul Bukhariy Jilid 5. Hal. 232. Cet. Pertama 2005 Daar Thayyibah. Riyadh)

  1. Berpuasa Tanpa Rafats Dan Tingkah Laku Jahil

Meninggalkan dua perbuatan tercela ini, yaitu Rafats dan Tingkah laku jahil adalah keharusan bagi seorang yang berpuasa, barulah puasanya menjadi benar-benar sempurna dan diharapkan ia tergolong ke dalam puasa yang berujung surga al-Rayyan.

الصيام جنة فلا يرفث ولا يجهل

 “Puasa adalah perisai maka janganlah ia berbuat Rafats dan jangan (bertingkah laku) jahil.” (HR: Bukhari Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu.)

Rafats sendiri dalam hadits ini maknanya adalah ucapan yang keji. selain itu, Rafats juga digunakan dengan makna bersenggama, dan mukaddimah bersenggama, atau membicarakan hal-hal terkait dengan perempuan yang bukan Mahramnya, atau bahkan bisa dengan makna yang lebih umum, yaitu berbicara dengan pembicaraan yang dilarang pada dasarnya oleh Syari’at secara umum. Dan inilah yang wajib dihindari oleh seorang yang berpuasa.

Adapun bertingkah laku jahil maksudnya; ia melakukan perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang yang bodoh, seperti berteriak-teriak.

Kedua hal ini dilarang sesungguhnya tidak hanya pada bulan ramadhan saja, namun tetap juga dilarang pada selain bulan ramadhan. Disebutkannya kedua hal ini dalam konteks puasa sebagai pengingat atas tidak layaknya kedua hal tersebut dilakukan oleh orang yang berpuasa dan berada di bulan yang dimuliakan.

(Lihat Fathul Bariy Syarh Shahihul Bukhariy Jilid 5. Hal. 213. Cet. Pertama 2005 Daar Thayyibah. Riyadh)

  1. Meninggalkan Ucapan Dan Prilaku Dusta

Berdusta sangat tidak pantas dilakukan oleh seorang yang berpuasa, dan dosa yang bermuara dar mulut ini dapat mengancam tidak diterimanya ibadah puasa orang yang melakukannya.

 من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه

“Siapa saja yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan berbuat dengannya (dusta) maka Allah tidak ada hajat dengan perbuatannya meninggalkan makan dan minumnya.” (HR: Bukhari, Abu Dawud dan lainnya)

Dari sekian banyak keterangan Ulama atas hadits ini, seperti yang dinukilkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar Rahimahullah dapat disimpulkan darinya bawa puasa yang disertai dengan ucapan mau pun perbuatan dusta tidak diterima oleh Allah sebagai puasa yang sesungguhnya.

Ketiga hal ini menjadi penentu diterimanya puasa, tanpa iman dan Ihtisab maka puasa itu akan hampa, dan jika dicampuri dengan Rafats dan tingkah laku jahiliyyah tentu akan mengurangi kesempurnaannya, terlebih apabila dibumbui dengan dusta, maka terancam puasa itu tertolak di sisi Allah.

Dan puasa yang tidak dicemari oleh dosa-dosa tersebut di atas adalah puasa yang sempurna yang diharapkan mendapat Qobul (yang diterima) di sisi Allah sehingga kelak ia diberi balasan masuk surga melalui pintu al-Rayyan.