Poligami Tidak Menyakiti Siapa Pun

Teduh.Or.Id – Manusia memusuhi sesuatu tidak keluar dari dua sebab ini, pertama karena jahil, minim pengetahuan atas yang ia benci. Kedua karena menuruti hawa nafsu dan keras kepala. Termasuk ke dalam hal ini adalah masalah poligami atau ta’addud, banyak orang dari kalangan pria mau pun wanita  menentang dan menolak syariat ini, dan sebabnya tidak keluar dari dua hal di atas.

Sebagai salah satu usaha mengangkat kejahilan itu, berikut kami ringkas beberapa hakikat sesungguhnya dari poligami.

Poligami adalah Syariat yang Tertulis di Al-Qur’an

Hal ini menjadi dalil atau alasan yang paling kuat bahwa poligami pasti mendatangkan kebaikan sebab syariat Allah semuanya baik walau pun berat diterima oleh manusia, dan walau pun kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.

ثم جعلناك على شريعة من الأمر فاتبعها ولا تتبع أهواء الذين لا يعلمون

Artinya: kemudian kami jadikan untukmu (wahai Rasulallah) di atas syariat dari perkara tersebut maka ikutilah dan jangan ikuti hawanafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” [QS; Al-Jatsiyah 18]

Lagi pula jika yang akan dijadikan timbangan dalam masalah poligami ini adalah rasa dan selera manusia sekalipun, maka tetap saya rasa kaum pria rata-rata menginginkannya walau pun dimulut lain yang ia ucapkan.

Sementara itu, jika yang akan dijadikan timbangan dalam syariat adalah kesukaan atau kebencian manusia, maka akan hancurlah Agama.

Poligami Tidak Pernah Ditentang Quraisy

Kaum Quraisy, mereka tidak pernah menjadikannya sebagai noda untuk dijadikan celaan dan olok-olok terhdap Nabi ﷺ dan para pengikutnya. – bagaimana bisa mereka akan menolaknya, bahkan sebelum Nabi ﷺ diutus pun, mereka adalah masyarakat yang rata-rata berpoligami dan bahkan lebih dari empat seperti yang telah tercatat dalam sejarah. Disebutkan dalam hadits:

أن غيلان بن سلمة أسلم وله عشر نسوة , فأسلمن معه , فأمره النبي – صلى الله عليه وسلم – أن يتخير منهن أربعا

Sesungguhnya Ghailan bin Salamah Radliyallahu ‘Anhu ketika telah memeluk Islam beliau memiliki sepuluh perempuan, dan mereka semua ikut masuk Islam, maka Nabi ﷺ memerintahkannya agar memilih empat saja dari mereka”. [1]

Ini membuktikan poligami adalah suatu hal yang telah lumrah diketahui kebaikan dan manfaatnya untuk keberlangsungan hidup umat manusia.

Dalam Islam, Poligami Tidak Diamalkan Sembarangan

Poligami tidak dilakukan dengan sembarangan begitu saja, oleh karena itu tidak semua kaum muslimin itu berpoligami. Akan tetapi ada syarat dan ketentuan dan bahkan kewajiban yang harus dipenuhi setelahnya oleh seorang suami kepada istri-istrinya dalam perpoligamian tersebut.

Allah berfirman:

فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً

Artinya: “Maka menikahlah kalian dengan perempuan-perempuan yang baik bagimu dua atau tiga atau empat, maka jika kalian takut tidak berlaku adil maka satu saja” (QS: al-Nisa’-3)

Dan di dalam khazanah kitab-kitab fiqih Islam telah dibentangkan dengan rinci hak-hak istri yang dipoligami dengan begitu adil yang sudah jelas tujuannya adalah menjaga kaum perempuan dari ketertindasan dan kezhaliman. Dan ini bertolak belakang dengan apa yang dituduhkan dan disangkakan oleh orang-orang yang sumbunya pendek dan perasaannya lebih dominan dari pada akal warasnya.

Poligami Tidak untuk Menyakiti Kaum Perempuan

Poligami tidaklah menyakiti kaum perempuan, namun justru memuliakan mereka. Perhatikanlah! Seorang lelaki yang memahami syariat agama, pastilah akan menjadikan para istri bagaikan ratu di rumahnya. Bertanggung jawab terhadap nafkah lahir dan batin mereka. Kaum perempuan dimuliakan di rumah-rumah mereka.

Poligami Terjadi Karena Kereleaan Istri Kedua atau Ketiga

Jika seorang perempuan telah rela dan ikhlas menjadi istri kedua atau ketiga maka berarti itu adalah hak asasi mereka yang harus dihormati dan dijunjung, jika rela dan ikhlas maka tentu tidak tepat dikatakan menyakitinya.

Adapun ketidakrelaan istri pertama dan tangisannya maka itu tidak dapat diartikan menyakiti dalam lingkup menzhalimi, -Islam mengharamkan kezhaliman dalam bentuk apa pun –  karena kewajiban suaminya terhadap dirinya tidak berubah sama sekali setelah dipoligami.

Dan jika hal itu diartikan menyakiti maka ketahuilah bahwa membuat istri hamil sebenarnya adalah bentuk menyakitinya sebab kehamilan membuat seorang perempuan susah payah dan merasakan sakit yang luar biasa ketika mereka menjalani persalinan. Namun apakah kita akan melarangnya hamil hanya karena itu menyakitinya? Tentu tidak kan?

Kemudian, lelaki yang memiliki syahwat yang kuat, hanya memiliki dua atau tiga pilihan ketika ia merasa butuh perempuan lain. Pertama ia akan berhubungan dengan wanita lain tanpa menikahinya. Kedua,ia memilih menikah lagi. Ketiga, ia bersabar dan mencukupkan diri dengan satu istri. Akal yang sehat dan tunduk kepada syariat Allah tentu akan memilih yang kedua dan ketiga. Namun akal yang rusak akan memilih yang pertama.

Demikian sekelumit torehan yang mampu kami sumbangkan dalam masalah ini, semoga bermanfaat dan menjadi penyebab dibukakannya pintu hidayah bagi mereka yang masih saja memusuhi syariat poligami. Tentu di sana ada banyak artikel dengan hantaran bahasa Arab yang menjelaskan kebaikan-kebaikan poligami dalam syariat Islam, apa yang kami tuliskan hanyalah secuil yang kami dibukakan pintunya oleh Allah.

 


[1] Hadits Riwayat Ahmad, al-Tirmidy, Ibnu Hibban dan beliau men-shahihkannya, dan Al-Hakim.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.