Pilah-Pilih Sekolah Dasar

Tak terasa, buah hati yang dahulu masih kerapkali kesana-kemari di buaian, hari ini sudah bisa berlari dan bertanya banyak hal soal sesuatu yang tak mengerti. Tahapan perkembangan sudah masuk pada fase selanjutnya yakni menuntaskan rasa keingintahuan yang tak bisa dijelaskan didalam rumah. Rasa keingintahuan yang berkembang dari adanya stimulus penasaran akan sesuatu, tentu harus dijelaskan sejelas-jelasnya secara tertib dan bersesuaian dengan makna sebenarnya. Tentu itu semua harus dilakoni agar tak terjadi bias ilmu dan gagal informasi. Bagi kebanyakan orang, sekolah adalah jawaban.

Itulah mengapa sekolah harus ada, salah satunya ialah sebagai penuntas hasrat keingintahuan, pemuas rasa penasaran, memberikan sensasi dan pengalaman dalam berkehidupan, serta mengembangkan rasa anti individual ketika hidup berdampingan secara bersamaan yang membutuhkan keseimbangan.

Hari ini, kita dijejali dengan banyaknya informasi soal sekolah. Semua memiliki kesamaan dan kesatuan harap yaitu menjadi sekolah unggulan dengan mutu terdepan. Selalu ada saja objek yang digagas dengan subjek yang terbatas. Dari mulai kurikulumnya, muatan pengetahuan yang akan diperoleh, kemandirian dan jiwa kompetitif, hingga rasa berkeyakinan dalam keagamaan. Semua itu terjawab dalam banyak jualan sekolah hari ini.

Sebagai orangtua, dibutuhkan kecermatan selain sebuah kebutuhan terhadap sekolah. Kecermatan dalam memilah sekolah yang pas dengan kemampuan finansial, dan memilih sekolah sesuai dengan arah tumbuhkembang buah hati mereka.

Lalu, pertama kali adalah lihat potensi dan karakter anak. Kerapkali para orangtua terjebak pada promo sekolah yang berlebihan, atau terjebak pada saran tetangga yang akan membersamai ketika bersekolah nanti. Maka, mengenali tumbuh kembang anak dan arah potensi sebaiknya sudah bisa diidentifikasi sejak dini. Dengan demikian, seandainya anak tak perlu belajar robot yaa tak perlu memilih sekolah yang jualan habis-habisan soal teknologi robotik secara berlebihan. Kita adalah identifikator sejati atas anak kita sendiri. Jika sejak kecil anak sudah tertarik dengan dunia petualangan maka bisa jadi sekolah alam adalah pilihan, jika dari kecil anak sangat susah bersosialisasi atau terlalu hiperaktif dalam tumbuhkembangnya maka bolehlah homeschooling menjadi pilihan. Jangan coba paksakan anak bersekolah diluar hal yang tak sesuai dengan tumbuhkembang dirinya. Bisa-bisa bukan berprestasi, malah jadi korban ‘tabrak-lari’.

Kedua, apakah arah dari pendidikan yang kita inginkan? Jika kita sangat menginginkan pendidikan agama adalah modal utama bagi pendidikan anak anda. Maka, taka ada salahnya pilih sekolah yang memang secara konsisten mengajarkan agama. Bukan menjadikan agama sebagai promo semata tapi substansi agama tersebut hanya isapan jempol belaka. Dan memang agama sebagai mula-mula arah tujuan pendidikan anak sejak dini sudah harus menjadi orientasi awal bagi pendidikan anak kita. Karena dengan fondasi agama yang baik, yang didalamnya diajarkan Al Qur’an dan Sunnah disertai pemahaman secara benar akan menghantarkan si anak kepada kebaikan. Serta menjadikan orangtua tidak sia-sia dalam menyekolahkan anaknya sehingga terkena apa yang Allah Ta’ala firmankan:

“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al Kahfi : 104).

Ketiga, pilih yang terjangkau. Khusus bagi pendidikan tingkat dasar, pilihlah sekolah yang terjangkau. Baik secara biaya maupun dari sisi jarak tempuh. Jangan sampai di tahap pendidikan dasar ini sang anak menjadi terbebani atas sekolahnya. Karena ketika sang anak telah terbebani di awal-awal memulai sekolah, akan menjadikan sesal berkepanjangan yang akan mendera bagi orangtua, hal tersebut bisa jadi berakibat pada anak malas sekolah, tak bergairah, dan pupus harapan atas tujuan sekolah sebenarnya.

Karena ini adalah pendidikan dasar, maka cukuplah jangan menuntut terlalu banyak pelajaran-pelajaran tambahan kepada anak. Sebab ditingkat dasar, sudah sangat mereka butuhkan apa-apa yang menjadi dasar dari sebuah materi-materi pembelajaran. Satu hal yang perlu diingat ialah setiap anak memiliki standar kecerdasan berbeda, hanya sedikit sekali jumlah anak yang benar-benar mampu menguasai seluruh pelajaran. Tugas orangtua, ialah cukup menghargai prestasi dan meningkatkannya pada pelajaran yang ia mampu. Adapun yang tak terlalu mampu, maka cukuplah untuk sekedar mereka bisa mempelajarinya walau tidak terlalu maksimal hasilnya.

Keempat, perhatikan kualitas tenaga pendidik yang ada. Ini penting sekali untuk mengantarkan buah hati tercinta memahami pendidikan dasar yang baik. Ketersediaan guru dengan kompetensi yang baik ditunjang dengan rekam jejak guru terbaik tentu akan menghasilkan output baik pula. Namun perlu diperhatikan ialah, jangan menuntut guru secara berlebihan, tentu memang tugasnya dalam mendidik dan membimbing murid secara optimal, akan tetapi memahami keadaan guru yang bersangkutan serta mengedepankan baik sangka atas guru tersebut harus dikedepankan mula-mula.

Khusus dalam soal agama, spesifikasi terbaik ialah ia harus secara optimal memahami agama itu sendiri, sebagaimana nasihat Imam Malik bin Anas rahimahullah pernah berpesan dalam Siyar A’lamin Nubala (7/395) yaitu “Tidak boleh belajar kepada empat orang yaitu orang yang sangat pandir meskipun hebat dalam periwayatan, pelaku bid’ah yang mengajak kepada hawa nafsunya, orang yang suka berdusta kepada sesama manusia meskipun saya tidak menuduhnya (memalsukan) hadits, atau seorang saleh dan ahli ibadah, tetapi tidak mampu menghafal apa yang dia riwayatkan.”

Kelima, sekalipun semua standar pilihan sekolah sudah didapatkan, jangan pernah pula meninggalkan tugas utama kita sebagai orangtua untuk mendampingi anak belajar sesungguhnya. Belajar sesungguhnya tersebut ialah memahamkan anak pada nilai-nilai dan norma-norma. Menjadikan diri kita sebagai teladan dan menciptakan suasana belajar bersama dalam keluarga. Tidak ada keluarga yang sukses dalam menanamkan atmosfer pembelajaran bagi anak jika didalam keluarga nilai-nilai dan semangat untuk belajar bersama tidak dihidupkan secara bersama. Jangan minta anak belajar, jika iklim pembelajaran tak tercipta, jauhi paksaan bagi anak untuk belajar bila orangtua tak menciptakan atmosfer belajar dalam rumah atau malah tak pernah mengajarkan kepada anak bagaimana dan seperti apa seharusnya belajar itu.

Jika demikian, maka takutlah terhadap apa yang Allah firmankan, “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” (QS. Ash Shaff : 2-3).

Oleh: Rizki Abu Haniina