Pertandingan Bola Menurut Tarjih Syaikh Al-Syatsri

 

Al-Syatsri, nama lengkap beliau adalah Dr. Sa’d bin Nashir bin Abdilaziz Al-Syatsri – Hafizhahullah – salah seorang ulama besar di Kerajaan Saudi Arabia yang dikenal dengan keluasan ilmunya, wabilkhusus dalam bidang Ilmu Fiqh dan Ushulnya. di antara karya beliau adalah kitab Al-Musabaqat Wa Ahkamuha Fisy-Syari’atilislamiyyah. dan di antara persoalan yang beliau bahas di dalamnya adalah hukum pertandingan bola, dan berikut kesimpulan Tarjih yang beliau jelaskan:

“Setelah paparan pendapat-pendapat beserta dalil-dalilnya dalam masalah ini yang disertai dengan pendalaman kajian di dalamnya, saya melihat bahwa yang Arjah (paling kuat) sesungguhnya permainan dengan bola hukumnya boleh dengan syarat-syarat , di antaranya:

  1. Tidak menjadi penghalang dari apa-apa yang telah diwajibkan Allahu Ta’ala semisal darinya adalah shalat berjamaah pada waktunya atau shalat jumat.
  2. Tidak mengandung yang diharamkan seperti membuka aurat semisal paha[1] dan lainnya, dan dari ucapan yang keji (Fahisy) semisal darinya adalah melaknat, mencaci, menuduh zina (qadzaf) memaki-maki, atau memancing fitnah, atau ucapan yang menumbuhkan dendam.
  3. Tidak ada harta atau yang semisalnya yang dikeluarkan (dibayarkan) di dalam pertandingan bola tersebut untuk pihak yang menang karena sebab kemenangannya di dalam pertandingan tersebut.

Dan saya (Syaikh Al-Syatsri) melihat, kalau seandainya setiap yang hadir dalam pertandingan ini diharuskan membayar sejumlah harta maka tidak ada masalah dengan hal itu, dan itu termasuk ke dalam bab al-Ijarah (bayaran upah)

Dan jumlah pendapatan harta yang didapatkan dari para penonton ini, keadaannya menjadi salah satu dari tiga keadaan berikut ini:

1). Para pemain harus membayar sejumlah harta tertentu kepada pemilik lapangan yang meliputi pemerintah atau lainnya, dan sisanya diberikan kepada mereka (para pemain) dan kerugian ditanggung juga oleh mereka.

2). Pemilik lapangan mengambil uang dari para suporter, dan pemilik lapangan berkomitmen membayar dalam jumlah tertentu untuk para pemain, dan sisa yang ada untuk dirinya (pemilik lapangan) dan kerugian ditanggung juga oleh dia.

3). Jumlah harta yang didapat dibagi menjadi beberapa bagian tertentu: untuk pemilik lapangan sebagian, dan untuk masing-masing klub yang bermain mendapatkan sebagian.

Misalnya: untuk pemilik lapangan dijatahkan 1/2, dan untuk salah satu klub 1/3, dan klub yang satunya 1/6, dan semisalnya.

Adapun dikhususkan harta dalam jumlah tertentu untuk pemenang saja, atau diberikan jumlah sekian persen yang berbeda dari klub yang dikalahkan, maka ini tidak boleh”.[2] sekian.

Demikian penjelasan beliau -kurang lebihnya dalam bahasa indonesia – dengan seutuhnya, maka jika syarat-syarat tersebut terpenuhi tentu hukum menontonnya akan mengikut kepada hukum yang ditonton.

Musa Abu ‘Affaf, BA.


[1] Masalah paha adalah aurat atau bukan merupakan masalah Khilafiyyah kesimpulannya Jumhur Ulama menetapkan bahwa Paha adalah Aurat, Fatwa Lajnah Da’imah menyarankan Madzhab Jumhur demi ke hati – hatian, sedangkan Syaikh Muhammad bin Saleh Utsaimin Rahimahullah memilih bahwa Paha bukan Aurat.

https://www.facebook.com/musamulyadi/grid?lst=100001729388129%3A100001729388129%3A1531626706

[2] Al-Musabaqat Wa Ahkamuha 1/208-209.

Comments

comments