Persaksian Ibnu ‘Utsaimin Rahimahullah (Membantah Tuduhan Irja’)

Setelah terbitnya Tahdzir atas kedua kitab yang ditulisnya, beliau Syaikh Ali bin Hasan hafizhahullah  berkunjung ke KSA atas undangan dari Syaikh Saleh bin Abdil ‘Aziz Alu Syaikh tepatnya pada tanggal 18/Jumadal Akhir 1421 H. Dalam rangka menghadiri Nadwah (seminar) Al-Qur’an yang diselenggarakan di kota Madinah.

Dalam kesempatan kunjungan ini beliau banyak bertemu dengan para penuntut Ilmu dan Ulama namun yang paling penting bagi beliau adalah pertemuan beliau dengan Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Saleh bin ‘Ustaimin Rahimahullah, dimana pertemuan itu berlangsung di kediaman salah satu dari putra Syaikh Ibnu Utsaimin di kota Riyadl pada tanggal 4 Rajab 1421 H.

Membersamai Syaikh Ali bin Hasan ketika itu adalah Doktor Khalid bin Ali bin Muhammad, dan Doktor Saleh Ash-Shalih, dan pertemuan itu dihadiri juga oleh putra beliau (Syaikh Utsaimin) yaitu Abdurrahman Waffaqahullah.

Dan ketika Syaikh Ali menyampaikan kepada Syaikh Ibnu Utsaimin perihal fatwa Lajnah Da’imah, beliau menjawab – tepatnya- dengan ucapan berikut ini, – dan Syaikh Ali bin Hasan bersumpah atas apa yang beliau ceritakan,-  :

“Ini adalah kekeliruan dari Al-Lajnah, dan saya menjadi Musta’ (merasa kena inbas negatif) dari fatwa ini, Sungguh kaum muslimin di penjuru bumi telah menjadi terpecah belah oleh fatwa ini sampai mereka menghubungi saya dari Amerika dan Eropa, dan tidak ada yang mendapatkan faidah dari fatwa ini kecuali kaum Takfiriyyun dan kaum Tsariyyun. ”

Sebelumnya pada tanggal 28 Jumadal Akhir 1421 H. Tepatnya pada hari senin, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah ditanya juga tentang masalah ini, dan beliau berkata :

“Kedua kitab tersebut (kitabnya syaikh Ali bin Hasan) belum aku baca, dan aku tidak ingin fatwa ini (Fatwa Lajnah) diterbitkan, karena di dalamnya terdapat hal yang mengganggu orang-orang, dan nasehatku untuk penuntut ilmu agar jangan mempedulikan fatwa fulan dan fatwa si fulan.”[1]

Persaksian Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menunjukkan dengan jelas, bahwa khilaf yang terjadi antara Lajnah Da’imah dengan Syaikh Ali bin Hasan adalah khilaf antara sesama Ahlussunnah dalam persoalan ilmiyyah detil dan mendalam, – bukan antara seorang Murji’ah dan Ahlussunnah sebagaimana yang disangkakan oleh sebagian saudara saudara kami.

Dan masalah mendetil dan mendalam jika terjadi padanya perselisihan antara Ulama atau penuntut ilmu, maka pihak yang dinilai keliru dimaafkan, tidak divonis Bid’ah begitu saja, dan inilah Manhaj yang adil, Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

  ولا ريب أن الخطأ في دقيق العلم مغفور للأمة وإنكان ذلك في المسائل العملية ولولا ذلك لهلك أكثر فضلاء الأمة وإذا كان الله تعالى يغفر لمن جهل وجوب الصلاة وتحريم الخمر لكونه نشأ بأرض جهل مع كونه لم يطلب العلم فالفاضل المجتهد في طلب العلم بحسب ما أدركه في زمانه ومكانه إذا كان مقصوده متابة الرسول بحسب إمكانه : هو أحق بان يتقبل الله حسناته ويثيبه على اجتهاداته ولا يؤاخذه بما أخطأه تحقيقا لقوله تعالى : { ربنا لا تؤاخذنا إن نسينا أو أخطأنا } )

“Dan tidak ada keraguan bahwa kesalahan dalam detil mendalam suatu ilmu dimaafkan untuk ummat ini walau pun persoalan itu dalam lingkup masalah ilmiyyah, jika tidak demikian, maka banyak sekali tokoh-tokoh terhormat ummat akan menjadi binasa, dan apabila Allah telah mengampuni siapa saja yang jahil dengan hukum wajibnya shalat dan keharaman khamr karena dia tumbuh besar di suatu tempat yang (penuh dengan) kejahilan, disamping dia juga tidak menuntut ilmu, maka seorang yang Fadlil lagi Mujtahid dalam menuntut ilmu sesuai dengan apa yang dia dapatkan pada masa dan lingkungan dia hidup, -apabila maksudnya adalah mengikuti Rasul sesuai dengan kemampuannya, – (tentu) dia lebih berhak diterima Allah kebaikan-kebaikannya, dan diberikan pahala atas Ijtihadnya, dan tidak menyiksanya dengan kesalahannya sebagai bentuk pengamalan terhadap firman Allah Ta’ala : (yang artinya) “Wahai Rabb kami janganlah siksa kami jika kami lupa atau jika kami salah.”.” (Dar’u Ta’arudlil ‘Aqli Wannaqli 1/384)

Imam Adz-Dzahabiy Rahimahullah berkata:

“ولو أنا كلما أخطأ إمام في اجتهاده في آحاد المسائل خطأُ مغفور له قمنا عليه وبدعناه وهجرناه، لم سلم معنا ابن نصر، ولا ابن مندة، ولا من هو أكبر منهما، والله هو الهادي الخلق إلى الحق، وهو أرحم الراحمين، فنعوذ بالله من الهوى والفضاضة”

“Jika kita bersikap, setiap kali seorang Imam salah dalam ijtihadnya dalam satuan dari beberapa permasalahan dengan kesalahan yang bersifat dimaafkan untuknya, kemudia kita mengambil sikap atasnya dan kita bid’ahkan dia dan kita boikot dia, maka tidak akan selamat Ibnu Nashr bersama kita, tidak juga Ibnu Mandah, dan tidak juga yang lebih besar dari keduanya.” (Siyar Al-A’lamunnubala’ 14/40. Cetakan Arrisalah)

Bekasi 12/ Rajab/ 1439 H.

Musa Abu ‘Affaf, BA.


[1] Diceritakan ulang dari Muqaddimah ke-2 dari Kitab At-Ta’rif Wat Tanbi’ah yang ditulis oleh Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabiy hafizhahullah. (1/14-15)