Perjumpaan Dr. Arifin Badri Dengan KH. Idrus Romli

Adalah salah satu akhlak seorang muslim yang Rasulullah tekankan kepada setiap umatnya untuk selalu berkhusnudzhan terhadap sesama saudaranya. Hal yang demikian tentu akan menghadirkan ketenangan dan kebahagiaan serta lebih memunculkan nuansa persatuan. Sebab sangat mungkin dengan adanya prasangka baik dapat menghilangkan kedengkian dan kebencian.

Inilah yang dipesankan oleh Rasululah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, “Jauhilah prasangka (buruk) karena sesungguhnya prasangka itu pembicaraan yang paling dusta. Janganlah kalian menyadap pembicaraan dan memata-matai suatu kaum. Janganlah pula melakukan praktik tanajusy (memainkan harga dalam jual beli). Dan janganlah saling mendeki, saling membenci, dan saling mendiamkan (boikot). Akan tetapi, hendaklah kalian menjadi hamba-hamba Allah yang bersaudara.”

Merupakan bentuk terwujudnya persaudaraan dan menepis sangka buruk terhadap saudara seiman ialah dengan saling mengunjungi dan bertukar nasihat untuk menumbuhkan jalinan keakraban. Seperti itu pulalah kabar gembira yang hadir belakangan ini tentang berjumpanya dua pihak yang sangat viral lagi sengit diberitakan di pelbagai media, khususnya pemberitaan tentang pihak yang disebut Salafi (Wahabi) dengan perwakilan ulama dari salah satu organisasi massa Islam terbesar dan tertua di Indonesia yakni Nahdhlatul Ulama, atau kerapkali pula tersiar dengan nama Aswaja.

Ialah Ustadz Muhammad Arifin Badri, salah seorang dai Salafi yang juga merupakan dosen di Sekolah Tinggi Dakwah Islam Imam Syafii Jember mengunjungi salah satu ulama muda Aswaja yakni KH. Idrus Romli. Tentu ini merupakan kebahagiaan bagi sesama madzhab Ahlu Sunnah wal Jamaah di Indonesia, dengan berjumpanya dua pihak yang selama ini seringkali diberitakan di media sosial sebagai pertempuran sengit, dan belakangan semakin bertambah sengit kita dapatkan pada berbagai laman internet tentang adanya tantangan, untuk berdebat kembali dengan KH. Idrus Romli setelah dua perdebatan sebelumnya (dalam hal ini adalah debat antara KH. Idrus Romli dengan dua ustadz Salafi yaitu Ustadz Firanda Andirja dan Ustadz Zaenal Abidin-pen).

Terlebih lagi tantangan-tantangan itu disebarluaskan dengan nada yang seakan menyindir, merendahkan, dan terkesan menyulut api emosi lebih lanjut pada seorang ulama yang dihormati dan dicintai oleh para jamaahnya (sebagaimana pernah dilansir oleh salah satu laman semisal https://a*******ayu.wordpress.com/2015/09/12/mudah-mudahan-ustadz-idrus-ramli-masih-punya-nyali-untuk-memenuhi-ajakan-dialog-ini/). Apakah ini model ajakan diskusi yang pernah diajarkan oleh para salaf sebagaimana yang hari ini disematkan pada diri-diri kita sebagai Salafi? Apakah ini tidak terkesan sebagai model tantangan untuk bertarung sehingga harus membawa kata ‘nyali’ pada hal-hal yang seharusnya ada lapang dada, sabar, santun, nan ilmiah?

Maka, berita bahagia itu kami dapatkan dari fanpage milik Ustadz Arifin Badri yang memuat status perjumpaan beliau dengan KH. Idrus Romli dipermulaan Bulan Dzulhijjah yang Allah berikan kemuliaan diatasnya, sebagaimana isi status beliau yakni:

Kunjungan Ke Gus Idrus Ramli.

Alhamdulillah; pada hari ini 2 Dzul Hijjah 1436 Hijriyah saya Muhammad Arifin Badri; bersama Ustadz Muhammad Yasir Lc dan juga Usta Nur Kholis Kurdian Lc. M.Th.i berkesempatan untuk bersilaturrahmi ke kediaman Gus Idrus Ramli.

Alhamdulillah dengan mudah kami menemukan kediaman beliau berkat pertolongan Allah Taala lalu petunjuk arah yang beliau berikan. Tiba di kediaman beliau di kecamatan Kencong Jember, pada sekitar pukul 15.30.

Kami langsung disambut oleh tuan rumah yaitu Gus Idrus Ramli yang segera mempersilahkan kami masuk dan duduk di rumah beliau.

Tanpa menunggu perkenalan atau lainnya; masyaAllah Gus Idrus segera menyuguhi kami dan salah satunya adalah hidangan favorit saya; secangkir kopi tubruk yang begitu berkesan dari lidah hingga ke lubuk hati.

Bukan sekedar minuman dan camilan; walaupun bukan jam makan; kami juga disuguhi makan nasi; berlaukkan lele; gule; dan sate; lengkap sudah.

Setelah beramah tamah dan memperkenalkan diri; kami membicarakan kondisi ummat yang akhir akhir ini sering diberitakan kurang harmonis dan seakan tidak bisa dipertemukan dalam nuansa ukhuwah.

Padahal realitanya tidaklah demikian, dari pertemuan kami dengan beliau yang berlangsung sekitar 1 jam 30 menit, kami dapat mencatatkan beberapa hal positif:

  1. Selama ini Gus Idrus Ramli belum pernah berinisiatif untuk beredebat dengan seorangpun dari teman teman salafy atau yang sering disebut dengan wahaby. Yang terjadi beliau hanya memenuhi undangan pihak lain untuk menyampaikan ceramah atau diskusi/debat.

Pernyataan ini patut dicermati bersama; sebenarnya masalah yang terjadi adalah masalah lokal daerah tertentu yang kemudian melibatkan pihak luar.

Sebagai buktinya perdebatan serupa tidak terjadi di jember walaupun di jember ada STDI IMAM SYAFII dan ada pula pondok As Salafy binaan ust Luqman Baabduh.

Menurut beliau; apa untungnya perdebatan bila hanya untuk unjuk kekuatan atau memancing keributan masyarakat?

Yang lebih unik; walaupun perdebatan dengan salafy hanya dua kali namun demikian; perdebatan ini banyak diberitakan di media; terutama medsos.

Adapun perdebatan beliau dengan kelompok syi’ah yang begitu sering; jarang dimuat dan dibicarakan media termasuk medsos. Beliau sangat keheranan dengan hal ini; ada apa? Mungkinkah ada pihak pihak yang sengaja MENGADU DOMBA?

  1. Beliau sepakat betapa pentingnya kita menjaga kesatuan dan ukhuwah sesama ummat Islam.
  2. Beliau juga sependapat bahwa perbedaan pendapat adalah satu hal yang wajar dan tidak mungkin bisa dihindari karena telah terjadi sejak dahulu kala.

Namun demikian beliau menekankan pentingnya kedewasaan sikap dan sikap toleransi alias saling menghormati pihak lain dalam menjalankan pilihan dan keyakinannya.

  1. Menghormati pendapat bukan berarti menutup rapat ruang untuk bermuzakarah (diskusi ilmiyah) antara para ahli ilmu, guna meningkatkan keilmuan dan bukan dalam rangka unjuk kekuatan dihadapan publik.
  2. Kami memaparkan bahwa di kampus kami STDI IMAM SYAFII; kami mempelajari ilmu fiqih muqqaranah /perbandingan. Karena itu rujukan fiqih yang diajarkan di kampus adalah kitab Bidayatul Mujtahid karya Imam Ibnu Rusyud Al Hafizh, dan untuk ilmu ushul fiqih kami menggunakan kitab Raudhatu An Nazhir karya Imam Ibnu Qudamah yang merupakan ringkasan dari kitab Al Mustashfa karya Imam Ghozali As Syafii. Dan untuk ilmu tafsir; maka kami menggunakan Tafsir Ibnu Katsir as syafii.
  3. Kami juga menyampaikan bahwa kunjungan semacam ini insyaAllah bukan hanya sekali saja namun kami akan berusaha melanjutkannya sehingga terwujud hubungan yang harmonis. Sebagaimana beliau juga mengutarakan minatnya untuk berkunjung ke kampus STDI IMAM SYAFII.
  4. Adapun perbedaan yang ada antara praktek keagamaan yang ada di masyarakat dengan yang diamalkan dan diajarkan di STDI IMAM SYAFII adalah satu hal yang sudah dimaklumi bersama. Tidak ada manfaatnya bila kita menyibukkan diri dengan perbedaan perbedan itu dan melupakan sekian banyak persamaan yang ada. Kami sepakat untuk bercermin dengan apa yang terjadi dahulu pada Imam Syafii yang berguru kepada Imam Muhammad bin Hasan Al Hanafi sebagaimana beliau juga berguru kepada Imam Malik dan di saat yang sama beliau juga menjadi gurunya Imam Ahmad. Padahal antara mereka terjadi perbedaan yang cukup banyak, namun perbedaan perbedaan tersebut dapat dikelola dengan bijak sehingga suasana kondusif.
  5. Kami juga berkomitmen untuk tidak saling mengusik dan menyinggung kegiatan pihak lain; demi terciptanya ukhuwah di tengah tengah ummat islam secara umum dan muslimin di Jember secara khusus.

Semoga kunjungan ini dapat menjadi sarana terciptanya persatuan dan kejayaan ummat Islam.

Amiin Ya Rabbal Alamin

dimuat dalam: (https://www.facebook.com/DrMuhammadArifinBadri/posts/881992551881919:0)

Sungguh kini sudah selayaknya bagi kita, yang mengaku mencintai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya untuk menjunjung tinggi kemuliaan saudara semuslim. Tidak menyebarkan berita yang masih dipertanyakan kebenarannya dan berbesar hati untuk menurunkan pemberitaan-pemberitaan yang tersebar secara viral berkelanjutan tanpa batas di jejaring media yang kita miliki hari ini.

Nampak dari pertemuan tersebut adalah suasana keakraban yang akan ditindaklanjuti untuk masing-masing menahan diri dan tidak gegabah dalam menyikapi kabar-kabar yang masih perlu simpang-siur kebenarannya. Maka, masihkah kita menebar benci dan sakit hati pada hal-hal yang sudah selesai diatasnya? Ataukah justru hati kita yang telah terkotori dengan perasaan merasa benar sendiri sehingga saudaranya sama sekali tanpa udzur tak bisa dimaafkan apatah lagi memiliki kebaikan yang bisa jadi itu tak kita ketahui?

Semoga Allah memberikan petunjuk bagi kita untuk senantiasa istiqomah diatas hidayah, menyatukan hati kaum muslimin diatas persatuan, kebaikan, dan kebenaran. Semoga Allah menautkan hati kaum muslimin di Indonesia dan menurunkan keberkahan bagi seluruh kaum muslimin yang masih mentauhidkannya.

Oleh: Rizki Abu Haniina