Perdebatan di Sekitar Kita

Teduh.Or.Id – Definisi debat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bisa dipahami sebagai sebuah usaha untuk mempertahankan pendapat. Maka perdebatan memang tidak dibuat untuk menemukan solusi bersama, akan tetapi ada unsur pertarungan nyata untuk membuktikan siapa yang argumentasinya paling kuat sehingga bisa mengalahkan yang lain.

[De-bat/debat/ n pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing.]

Sekarang ini kita sedang berada pada kondisi masyarakat dengan banyak perdebatan secara nyata maupun di ranah sosial media. Adalah pemilu presiden dan legislatif yang akan dihelat pada 17 April 2019 nanti yang membuat aktivitas perdebatan seakan kembali naik ke permukaan. Di linimasa, di arisan, di kumpul keluarga mungkin sesekali bisa ditemui adanya perdebatan tentang situasi politik. Apalagi belum lama ini juga baru digelar sesi ke-2 dari debat calon presiden di Indonesia.

Perdebatan memang seringnya tidak berakhir dengan manis. Akan ada pihak yang merasa tersakiti dan sempit hati manakala kalah dalam sebuah perdebatan. Apalagi bila kegiatan debat tersebut dihelat di depan khalayak ramai. Sudah tidak bisa mempertahankan argumentasinya, malu pula karena merasa bahwa audiens yang melihat perdebatan tersebut pasti menganggap yang kalah tak lagi dianggap mumpuni.

Debat sebagai Ajang Latihan

Sering juga kita menemukan perdebatan yang terjadi dengan tidak sadar, namun terjadi semata karena dua belah pihak yang terlibat ingin mempertahankan argumentasinya masing-masing. Semisal debat antara dua pendukung klub sepakbola, atau antara dua pendukung artis K-Pop yang meyakini idolanya yang terbaik dibandingkan yang lain. Atau bahkan debat tentang keyakinan beragama?

Pada beberapa kondisi, debat memang sengaja dibuat dengan tujuan tertentu. Pada debat calon presiden, pelaksanaan debat tentu saja dimaksudkan agar audiens dan masyarakat umum memiliki gambaran tentang visi misi calon yang akan dipilihnya. Maka kalah menang dalam perdebatan tersebut secara alami akan terjadi. Dan memang arahnya agar masyarakat luas bisa yakin dengan calon presiden yang dipilih.

Sementara itu pada kondisi yang lain perdebatan dilaksanakan dalam rangka melatih para pesertanya. Yang maksudkan di sini adalah perdebatan di antara pelajar di sebuah ajang kompetisi debat. Kondisi debat pada sebuah kompetisi memang didesain agar para pesertanya mampu secara maksimal memperlihatkan kemampuan mereka dalam penguasaan materi. Apabila menggunakan bahasa pengantar asing, maka kemampuan penguasaan diksi menjadi nilai tambah dalam penilaian.

Saya hanya sepakat pada bentuk perdebatan terakhir, dimana debat dilakukan di sebuah ajang kompetisi resmi di kalangan pelajar. Dalam debat semacam ini, sebenarnya pelajar diajak untuk mampu berpikir dengan jernih. Berpikir dengan terstruktur, dibarengi dasar argumentasi yang kuat. Hal tersebut tentu saja melatih agar para pelajar, yang umumnya dari kalangan muda, mampu berpikir kritis dan tidak asal bicara.

Menjadikan debat dalam sebuah kompetisi ibarat ajang latihan untuk perkembangan nalar mereka. Kalah menang sudah diprediksi dan memang menjadi bagian dari ajang kompetisi. Ada poin penilaian yang harus dipenuhi, serta dikawal oleh para dewan juri berkompeten. Maka disinilah perluanya perdebatan itu, sebagai ajang untuk berlomba agar mampu membekali diri berargumentasi dengan baik.

Akan sangat berbeda dengan perdebatan yang penilainya diberikan kepada pelakunya atau bahkan audiens yang menyaksikan. Dampak yang ditimbulkan pun akan berbeda bagi pendebat itu sendiri. bisa jadi kehilangan harga diri dan malah menolak gagasan yang lebih baik, karena terlanjur sakit hati.

Baca Juga: Redam Amarah atau Lampiaskan?

Memiliki Batasan

Dalam Islam sendiri, debat memang tidak secara mutlak dilarang, dan dilakukan dengan batasan yang syari. Pelarangan ditujukan kepada aktivitas debat yang dianggap tidak memberi manfaat, debat yang dilakukan hanya untuk menghinakan lawan debatnya, dan debat yang tidak memiliki dasar ilmu.

Tentu saja di tengah ramainya pemahaman dan pemikiran miliaran orang di dunia ini, sangat mungkin muncul banyak perdebatan akibat dari perbedaan tersebut. Merujuk pada penjelasan Ust. Abduh Tuasikal dalam situs Rumasyho.com, perdebatan yang dilakukan hanya untuk mencari menang, pelakunya tidak akan mendapat taufik dan tidak mendapat keberkahan ilmu.

Sementara berdebat (yang lebih dekat kepada diskusi) dalam rangka ilmu dan kebenaran yang ditegakan untuk melawan kebatilan, itulah yang diperintahkan. Seperti firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)*

Pun ada sabda dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya),“Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan sementara ia berada di atas kebatilan, maka Allah akan bangunkan sebuah rumah baginya di pinggiran surga. Dan barangsiapa yang meninggalkan perdebatan padahal dia berada di atas kebenaran, maka Allah akan membangun sebuah rumah baginya di atas surga.” (Shahih at-Targib wat Tarhib, jilid 1, no. 138)

Maka menyadari aturan dan tujuan dalam sebuah perdebatan adalah langkah awal untuk mendulang kebaikan dan kerbekahan di dalamnya. Apalagi jika debat tersebut memang dimaksudkan untuk perkara yang tidak penting atau bahkan untuk menjatuhkan kehormatan lawan debatnya. Tentu hal tersebut tidaklah diinginkan oleh setiap manusia, siapapun orangnya.


*(Penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam Surat Al-Baqarah: 124. Dinukil dari Syarh Al-Kabair, hlm. 217-218).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.